Dorong Hilirisasi Riset hingga Penguatan Kampus, DIsiapkan Tiga Forum Nasional

0
80
Foto: Infopublik

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan menyelenggarakan tiga forum nasional sepanjang November 2026 sebagai langkah memperkuat ekosistem riset, pendidikan tinggi, dan publikasi ilmiah Indonesia. Ketiga agenda tersebut, yakni Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), serta Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI), diarahkan untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian, meningkatkan kontribusi perguruan tinggi, dan memperkuat reputasi publikasi ilmiah Indonesia di tingkat internasional.

Rencana penyelenggaraan ketiga forum tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Mohammad Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, serta Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani dalam Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Ketiga kegiatan tersebut memiliki sasaran berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membangun ekosistem ilmu pengetahuan nasional. KSTI berorientasi pada penghubungan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan investasi. KPPTI mendorong peningkatan kapasitas perguruan tinggi melalui kolaborasi antarkampus, sedangkan KTJI berfokus pada peningkatan mutu pengelolaan jurnal serta penguatan integritas publikasi ilmiah.

KSTI Dorong Hilirisasi Hasil Riset

Agenda pertama adalah KSTI 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 10–13 November di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Mengangkat tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”, kegiatan ini menjadi kelanjutan penyelenggaraan KSTI pertama pada 2025 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada penyelenggaraan sebelumnya, KSTI menghasilkan peta jalan dan agenda riset nasional yang disusun bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tahun ini, forum tersebut diarahkan untuk mempercepat penerapan hasil penelitian agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan sektor industri.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Mohammad Fauzan Adziman menjelaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan harus diarahkan pada penciptaan dampak nyata melalui pendekatan knowledge to impact. Artinya, hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi kebijakan berbasis sains maupun solusi teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Dalam KSTI 2026, sekitar 500 produk hasil penelitian akan ditampilkan. Produk tersebut merupakan hasil seleksi dari 850 proposal yang diajukan perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Penyelenggara juga menghadirkan para peneliti dan inventor agar pengunjung dapat berinteraksi langsung, menggali informasi, serta mendiskusikan potensi penerapan teknologi bersama para pengembangnya.

Berbagai kegiatan pendukung turut disiapkan, antara lain robot challenge, hackathon, business matching, innovation tour, serta diskusi para pakar. Forum diskusi tersebut ditargetkan menghasilkan policy brief dan dokumen foresight yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan nasional.

Pembahasan KSTI mencakup sejumlah bidang strategis, mulai dari kedaulatan pangan, ketahanan energi dan air, kesehatan, hilirisasi industri, teknologi mutakhir (frontier technology), sosial humaniora, ekonomi, lingkungan, hingga mitigasi bencana.

KPPTI Perkuat Transformasi Perguruan Tinggi

Setelah pembukaan KSTI, Kemdiktisaintek melanjutkan agenda dengan menyelenggarakan KPPTI 2026 pada 11–13 November di Universitas Airlangga, Surabaya.

Forum yang mengusung tema “Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Keberdampakan: Elaborasi Teknologi dan Kearifan Lokal yang Inklusif dan Humanis” tersebut bertujuan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan nasional.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menyampaikan bahwa KPPTI menjadi wadah bagi perguruan tinggi untuk saling bertukar pengalaman, mempelajari praktik baik, dan membangun kerja sama dalam meningkatkan kapasitas institusi.

KPPTI 2026 merupakan kelanjutan forum tahun sebelumnya yang menghasilkan Surabaya Message serta lebih dari 100 nota kesepahaman ant perguruan tinggi. Jika penyelenggaraan terdahulu lebih menekankan konsolidasi, tahun ini pembahasannya diarahkan pada penerapan transformasi pendidikan tinggi secara lebih konkret.

Terdapat empat agenda utama yang menjadi perhatian, yaitu kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), penguatan kearifan lokal dan ekonomi kerakyatan, serta pembangunan lingkungan kampus yang inklusif dan humanis.

Selama tiga hari pelaksanaan, KPPTI akan menghadirkan 12 sesi tematik dengan 48 pemaparan praktik baik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Selain menjadi ruang pertukaran pengetahuan, forum ini juga akan memperkenalkan tiga inisiatif strategis. Pertama, Digital Maturity Index sebagai instrumen untuk mengukur tingkat kematangan transformasi digital perguruan tinggi.

Kedua, kerangka pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan tinggi yang mengutamakan etika dan integritas akademik. Ketiga, pembentukan konsorsium rumah sakit pendidikan untuk memperkuat sinergi pelayanan kesehatan yang melibatkan perguruan tinggi.

KTJI Tingkatkan Kredibilitas Jurnal Ilmiah

Sementara itu, rangkaian tiga forum nasional tersebut diawali dengan KTJI 2026 pada 9 November di Universitas Ciputra Surabaya. Mengangkat tema “Memperkuat Integritas Tata Kelola Publikasi Ilmiah Indonesia”, konferensi ini secara khusus membahas peningkatan kualitas pengelolaan jurnal dan integritas dalam produksi pengetahuan ilmiah.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, dengan kurang lebih 16 ribu di antaranya telah terakreditasi. Namun, jumlah jurnal yang berhasil mencapai kategori akreditasi tertinggi masih tergolong rendah.

Ia menyebutkan, jurnal yang berada pada peringkat SINTA 1 hanya sekitar 1,5 persen dari keseluruhan jurnal terakreditasi. Kondisi ini memperlihatkan perlunya peningkatan standar pengelolaan, kualitas editorial, dan penerapan etika publikasi.

Melalui KTJI, Kemdiktisaintek ingin mendorong pengelola jurnal menerapkan tata kelola yang lebih profesional, meningkatkan kredibilitas karya ilmiah, serta mencegah berbagai pelanggaran integritas akademik.

Konferensi ini akan melibatkan pengelola jurnal, perpustakaan perguruan tinggi, asosiasi keilmuan, peneliti, lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta penerbit dari dalam dan luar negeri.

Sejumlah penerbit internasional, seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, Emerald, Wiley, dan Springer, juga dijadwalkan berpartisipasi. Mereka akan berbagi pengalaman mengenai standar pengelolaan jurnal, strategi meningkatkan visibilitas publikasi, serta tantangan penerbitan ilmiah di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap pengelolaan publikasi berkualitas, Kemdiktisaintek juga akan menyerahkan SINTA Award kepada sembilan jurnal terbaik. Penghargaan tersebut mencakup tiga kelompok bidang, yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sosial humaniora, serta multidisiplin.

Bangun Ekosistem Riset dan Pendidikan Tinggi Terintegrasi

Penyelenggaraan KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026 menjadi bagian dari strategi Kemdiktisaintek untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi dan penelitian yang saling terhubung. Penguatan riset perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas perguruan tinggi serta sistem publikasi ilmiah yang kredibel agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi inovasi yang bermanfaat.

Melalui ketiga forum tersebut, pemerintah juga berupaya memperluas keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, investor, dan masyarakat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil riset, meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi, serta memperluas pengakuan internasional terhadap publikasi ilmiah Indonesia.

Pada akhirnya, penguatan keterhubungan antara riset, pendidikan tinggi, dan publikasi ilmiah diharapkan menjadikan sains dan teknologi sebagai penggerak inovasi serta peningkatan daya saing nasional dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.