(Vibizmedia – Nasional) Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) meluncurkan program tiga skema beasiswa bagi dosen, baik dosen perguruan tinggi negeri (PTN) maupun dosen perguruan tinggi swasta (PTS).
Hal ini dilakukan pemerintah guna meningkatkan jumlah tenaga pendidik atau dosen serta ilmuwan yang kompetitif di masa depan. Tiga skema beasiswa tersebut yaitu Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN), Beasiswa Afirmasi untuk Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB) dan Beasiswa Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan bahwa tersedia 1.000 kuota bagi dosen yang akan mengikuti BPP-DN, sementara beasiswa Afirmasi PTNB ada 150 kuota, sedangkan untuk PMDSU ada 250 kuota.
Untuk dosen tetap yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau NUPN mendapat beasiswa jenjang S-2, diberikan melalui skema beasiswa Afirmasi PTNB. Sedangkan BPP-DN diberikan kepada dosen di lingkup Kemristekdikti untuk menempuh jenjang S-3.
Ali sampaikan untuk beasiswa PMDSU akan diberikan kepada fresh graduate yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang doktor dengan masa pendidikan selama empat tahun. Pada program ini, sarjana unggul tersebut dituntut menghasilkan minimal dua publikasi hasil riset di jurnal internasional.
Selain itu, bagi peserta beasiswa PMDSU akan memperoleh fasilitas berupa hibah penelitian untuk mahasiswa sebesar Rp 50-60 juta per tahun dan mendapat bimbingan penulisan publikasi ke luar negeri.
Untuk ketiga beasiswa dalam negeri seperti BPP-DN, Beasiswa Afirmasi dan PMDSU sudah mulai dibuka pendaftarannya 5 Juni sampai dengan 30 Juni 2017, terang Ali Ghufron.
Ditambah lagi, tersedia juga beasiswa dosen ke luar negeri melalui skema Dikti Funded Fulbright ke Amerika Serikat (AS) untuk 50 penerima, OeAD dengan Austria untuk 10 penerima, dan Newton Fund dengan Inggris untuk delapan penerima.
Perlu diketahui, sampai dengan saat ini tercatat 34.933 dosen di Indonesia masih berkualifikasi S-1, sedangkan jumlah profesor masih ada di angka 5.389 orang, dengan jumlah ideal seharusnya sebanyak 22 ribu profesor.
Sementara sampai 2021 lebih dari 6.000 dosen akan pensiun. Oleh karena itu, beasiswa ini menjadi terobosan untuk meningkatkan kapasitas dosen dan mencetak sumber daya iptek dikti dari sarjana unggul, terang Ghufron.
Journalist : Rully
Editor : Mark Sinambela









