
(Vibizmedia-Nasional) Presiden Prabowo Subianto menerima Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/5), untuk membahas sejumlah isu strategis di sektor energi dan pertambangan nasional.
Salah satu fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah dinamika harga minyak mentah global yang berdampak langsung pada Indonesian Crude Price (ICP). Pergerakan ICP dinilai memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan energi nasional serta penerimaan negara.
Selain itu, pemerintah juga menaruh perhatian serius pada penataan sektor pertambangan ke depan. Bahlil menegaskan bahwa arah kebijakan akan mengedepankan peningkatan porsi kepemilikan negara, sejalan dengan amanat konstitusi.
“Kami membahas perkembangan harga minyak terhadap ICP, serta penataan tambang ke depan yang harus lebih besar dimiliki negara, sesuai implementasi Pasal 33,” ujar Bahlil.
Lebih lanjut, pemerintah berkomitmen untuk mengoptimalkan pendapatan negara dari sektor sumber daya alam, baik dari tambang eksisting maupun proyek baru. Strategi ini akan dilakukan melalui penguatan skema kerja sama yang adaptif antara pemerintah dan swasta.
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tengah mengkaji berbagai model kerja sama, termasuk skema yang telah diterapkan di sektor migas seperti cost recovery dan gross split. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memberikan manfaat maksimal bagi negara.
“Pola-pola kerja sama ini akan kita evaluasi dan kembangkan agar bisa diterapkan dalam pengelolaan sumber daya alam secara lebih optimal,” jelasnya.
Melalui langkah ini, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pengelolaan energi dan pertambangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kedaulatan nasional, penciptaan nilai tambah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat dikelola secara berkelanjutan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.








