BNPB Catat Deretan Bencana Hidrometeorologi Basah di Berbagai Daerah hingga 2 Februari 2026

0
514
Banjir
Kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, pada Sabtu, 31 Januari 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memantau sejumlah peristiwa bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB hingga 2 Februari 2026 pukul 07.00 WIB, kejadian bencana masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

Peristiwa terbaru tercatat berupa banjir di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang terjadi pada Minggu (1/2) sekitar pukul 04.00 WIB. Banjir disebabkan oleh sistem drainase yang tidak mampu menampung volume air hujan sehingga menggenangi permukiman warga. Sebanyak 70 Kepala Keluarga (KK) atau 136 jiwa di Kelurahan Muara Enim, Kecamatan Muara Enim, terdampak. BPBD setempat telah melakukan evakuasi, pendataan, serta kaji cepat. Hingga saat ini, banjir dilaporkan telah surut.

Sementara itu, tanah longsor terjadi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tepatnya di Desa Tribakti Mulya, Kecamatan Pangalengan, pada Minggu (1/2). Longsor tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia setelah satu unit rumah kontrakan tertimbun material longsoran. Selain satu rumah rusak berat, tujuh rumah lainnya terancam karena berada di zona rawan longsor. Material longsor telah dibersihkan oleh masyarakat bersama tim gabungan.

Di Jawa Tengah, cuaca ekstrem melanda Kabupaten Semarang pada Sabtu (31/1) akibat hujan intensitas sedang disertai angin kencang. Tiga desa di tiga kecamatan terdampak dengan total 15 KK mengalami kerugian. Kerusakan tercatat meliputi satu rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan 13 rumah rusak ringan. BPBD setempat telah melakukan penanganan darurat dan distribusi bantuan logistik.

Masih di Jawa Tengah, banjir di Kabupaten Pemalang terjadi pada Sabtu (31/1) pukul 23.50 WIB akibat meluapnya Sungai Srenseng, Sungai Medana, dan saluran irigasi. Tinggi muka air berkisar antara 20 hingga 130 sentimeter, berdampak pada lima desa dan dua kelurahan di Kecamatan Pemalang. Sebanyak 5.047 KK atau 13.533 jiwa terdampak, dengan 1.147 unit rumah terendam. Hingga Minggu (1/2), genangan dilaporkan berangsur surut.

Di wilayah Nusa Tenggara Barat, banjir juga melanda Kabupaten Sumbawa pada Sabtu (31/1) akibat hujan berintensitas tinggi. Banjir dengan tinggi muka air mencapai satu meter berdampak pada 100 KK atau 300 jiwa di Desa Gapit dan Desa Sepayung, Kecamatan Empang. Sebanyak 15 rumah mengalami rusak ringan. BPBD Kabupaten Sumbawa masih menyiagakan personel di lokasi terdampak.

Selain bencana hidrometeorologi basah, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Minggu (1/2). Karhutla menghanguskan lahan seluas dua hektare dan berhasil dipadamkan pada hari yang sama tanpa korban jiwa. Kabupaten Parigi Moutong juga dilaporkan mengalami kekeringan yang berdampak pada 270 KK di Desa Jono Kalora.

BNPB juga mencatat perkembangan penanganan bencana di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, serta Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Di Karawang, banjir masih merendam 15 desa di tujuh kecamatan dengan ketinggian air hingga 150 sentimeter dan berdampak pada 3.964 KK. Sementara di Bekasi, meski wilayah terdampak mulai berkurang, banjir masih melanda 45 desa di 14 kecamatan dengan jumlah terdampak mencapai 51.796 KK.

Adapun di Halmahera Barat, banjir dan longsor yang terjadi sejak 7 Januari 2026 berdampak pada tujuh kecamatan dan 33 desa. Hingga kini, proses pembersihan material banjir dan longsor masih berlangsung dengan pendampingan BNPB.

Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi serta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan lebat berkepanjangan. Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat sistem peringatan dini, kesiapsiagaan infrastruktur, serta koordinasi lintas sektor guna mengurangi risiko dan dampak bencana.