Kemenperin Dorong Industri Manufaktur Inklusif, Perluas Kesempatan Kerja bagi Disabilitas

0
49
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat peran industri manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian nasional, khususnya dalam menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan. Selain mendorong peningkatan jumlah tenaga kerja, pemerintah juga menekankan pentingnya prinsip inklusivitas dengan membuka kesempatan kerja yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan sektor manufaktur harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. Menurutnya, industri manufaktur memiliki posisi strategis dalam penyerapan tenaga kerja nasional, sehingga pembangunan industri harus memberikan ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas.

“Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan pembangunan industri tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga membuka peluang bagi penyandang disabilitas agar dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” ujar Menperin, Senin (2/2/2026).

Sebagai wujud komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) bekerja sama dengan startup Top Loker menyelenggarakan kegiatan *Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas* di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk sinergi konkret antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri manufaktur.

“Kami menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi penyandang disabilitas agar dapat berkarya dan berpartisipasi aktif di sektor industri,” kata Reni.

Hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur tercatat mencapai 20,26 juta orang atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan pendekatan inklusif, sektor ini diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja penyandang disabilitas.

Namun demikian, Reni mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses informasi lowongan kerja, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, minimnya jejaring kemitraan, hingga lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan penyerapan tenaga kerja disabilitas di sektor industri sekaligus membuka peluang kerja sama antara SLB dan industri manufaktur,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah berkesempatan berdialog langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka.

Reni menambahkan, perusahaan peserta akan membangun komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi SLB Negeri Semarang dan Top Loker.

Menurutnya, sektor manufaktur membutuhkan karakter kerja yang tekun, teliti, konsisten, dan loyal—nilai-nilai yang kerap menjadi keunggulan penyandang disabilitas. Oleh karena itu, inklusivitas bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan investasi sumber daya manusia yang bernilai bagi produktivitas dan keberlanjutan industri.

Sebagai Juara 1 Program *Startup for Industry* Kemenperin 2022, Top Loker menghadirkan platform khusus yang menghubungkan penyandang disabilitas dengan peluang kerja di sektor manufaktur.

“Kami berharap semakin banyak pelaku industri yang membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan berkembang,” ujar CEO Top Loker Josep Teguh Santoso.

Program ini turut didukung oleh SLB Negeri Semarang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, serta Universitas Stekom sebagai bagian dari upaya membangun kolaborasi berkelanjutan antara dunia pendidikan dan industri.