Pembangunan Hunian Pascabencana Capai 47 Persen, Target Rampung Akhir Februari 2026

0
72
Hunian Pascabencana di Sumatra yang dibangun Kementerrian PU. (Foto: doKemen PU)

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mempercepat pembangunan 1.301 unit rumah bagi warga terdampak bencana di Pulau Sumatra agar dapat dihuni sebelum Lebaran 2026. Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat segera kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penyediaan hunian pascabencana merupakan bagian dari arahan Prabowo Subianto agar pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemulihan kehidupan sosial warga. “Hunian ini bukan sekadar bangunan, melainkan bagian dari upaya memulihkan kehidupan masyarakat. Arahan Presiden jelas, masyarakat harus kembali merasa aman dan nyaman,” ujarnya dalam keterangan yang dirilis Jumat (20/1/2026).

Hingga 9 Februari 2026 pukul 15.00 WIB, progres rata-rata pembangunan telah mencapai 47 persen dan ditargetkan selesai paling lambat 28 Februari 2026.

Dari total 1.301 unit yang dibangun Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kemen PU, sebanyak 1.056 unit berada di Aceh dan 245 unit di Sumatera Utara.

Di Aceh, progres pembangunan menunjukkan kemajuan di berbagai wilayah. Di Kabupaten Aceh Tamiang Tahap I sebanyak 84 unit telah rampung 100 persen, sedangkan Tahap II sebanyak 156 unit mencapai 83,72 persen. Di Kabupaten Bener Meriah, pembangunan 228 unit mencapai 55,7 persen, sementara di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 360 unit berada pada progres 48,1 persen. Adapun di Kabupaten Pidie Jaya progres pembangunan 168 unit mencapai 19,15 persen, dan di Kota Subulussalam sebanyak 60 unit mencapai 4,91 persen.

Sementara itu di Sumatera Utara, pembangunan difokuskan di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 245 unit yang tersebar di 21 blok dengan progres 28,6 persen.

Percepatan pekerjaan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi cuaca yang tidak menentu. Pekerjaan struktur dan eksterior dikerjakan hingga malam hari saat cuaca memungkinkan, sedangkan pekerjaan interior tetap berjalan saat hujan agar produktivitas konstruksi tetap terjaga.

Dalam proyek ini, Kemen PU menerapkan metode konstruksi modular dengan sistem Modular Lite (MOLI). Teknologi tersebut memungkinkan pembangunan tanpa alat berat, cocok untuk lokasi bencana dengan akses terbatas, serta mempercepat pemasangan tanpa mengurangi kualitas. Sistem ini juga membantu mengurangi limbah konstruksi dan meningkatkan efisiensi pelaksanaan.

Dengan pendekatan tersebut, Kemen PU optimistis seluruh hunian dapat segera diserahterimakan sehingga masyarakat terdampak bencana bisa kembali menata kehidupan dengan lebih aman dan nyaman.