Efisiensi Air Sawah, Kementan Andalkan Metode Alternate Wetting and Drying

0
136
Foto: Kementan

(Vibizmedia – Jakarta)  Upaya efisiensi penggunaan air menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau yang semakin tidak menentu. Kementerian Pertanian Republik Indonesia mendorong penerapan pengelolaan air sawah yang lebih hemat melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.

Teknologi ini menjadi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan menitikberatkan pada efisiensi pemanfaatan sumber daya air yang kian terbatas. Melalui metode AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi kekurangan air.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air merupakan faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan.

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Kepala BRMP Fadjry Djufry menyampaikan bahwa AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan di lapangan, khususnya saat musim kemarau.

“Teknologi AWD merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan yang tepat, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus,” jelasnya.

Ia menambahkan, teknologi ini dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak 2013. Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, AWD mampu menekan bahkan mencegah kelangkaan air di lahan sawah, dengan efisiensi penggunaan air irigasi mencapai 17–20 persen.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan AWD tidak hanya menghemat air tanpa menurunkan produktivitas padi, tetapi juga membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lain.

“Metode ini turut memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah serta penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah,” tambah Fadjry.

Sementara itu, analis BRMP Lingkungan Pertanian Ali Pramono menjelaskan bahwa penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang.

Pengamatan dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berlubang yang berfungsi seperti piezometer sederhana untuk mengukur kedalaman air. Pipa ditempatkan di area yang mudah diakses agar memudahkan pemantauan kondisi lahan.

“Pengairan kembali dilakukan saat muka air turun hingga sekitar 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali secara terbatas hingga mencapai 3–5 cm,” jelasnya.

Siklus ini dilakukan secara berulang dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan dan cuaca, serta tetap menjaga ketersediaan air pada fase kritis tanaman seperti pemupukan hingga masa berbunga.

Menurut Ali, penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi air, tetapi juga memperbaiki struktur tanah dan perakaran, sehingga tanaman lebih tahan terhadap kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil panen.

“AWD bukan sekadar teknik pengairan, tetapi bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” pungkasnya.

Penerapan metode AWD menjadi bagian dari strategi climate smart agriculture yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan, sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air pada musim kemarau.