Dari Bali ke Dunia, Ekraf Genjot Kuliner Lokal Masuk Pasar Global

0
143
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Nusa Dua, Bali) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) melalui Direktorat Kuliner memfasilitasi sejumlah jenama lokal untuk tampil dalam ajang internasional Food, Hotel & Tourism Bali (FHTB) 2026.

Ajang Food, Hotel & Tourism Bali (FHTB) 2026  diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Lokasinya berada di kawasan Nusa Dua, yang dikenal sebagai pusat kegiatan konferensi dan pameran internasional di Bali.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing produk kuliner Indonesia agar mampu menembus rantai pasok global.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa partisipasi dalam ajang ini membuka peluang luas bagi pelaku usaha, mulai dari promosi hingga penjajakan kemitraan dan ekspansi pasar.

“Melalui ajang ini, pelaku usaha tidak hanya mendapatkan eksposur, tetapi juga peluang konkret untuk membangun kerja sama, membuka jalur ekspor, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri kuliner dunia,” ujarnya, Selasa (28/4).

FHTB 2026 yang berlangsung pada 28–30 April di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) merupakan penyelenggaraan ke-14 dengan menghadirkan lebih dari 300 peserta dari berbagai negara. Dalam kesempatan ini, Ekraf membawa lima jenama binaan program ASIK (Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia), yakni TERVE, Muntigunung Community, Sekatup Sari Indonesia, Imago Raw Honey, dan Roemah Koffie.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, menjelaskan bahwa pihaknya juga menggandeng intellectual property (IP) lokal Punopals sebagai elemen visual dalam materi promosi. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat identitas produk sekaligus meningkatkan daya tarik visual di pasar global.

Menurutnya, pendekatan kreatif tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk kuliner Indonesia agar tidak hanya unggul dari sisi rasa, tetapi juga dari sisi branding dan identitas.

Partisipasi dalam FHTB juga menjadi momentum untuk memperkuat rantai nilai industri kuliner nasional, seiring dengan tren positif sektor makanan dan minuman yang diproyeksikan terus tumbuh. Ajang ini berfungsi sebagai platform strategis untuk memamerkan inovasi, memperluas jaringan bisnis, serta membuka peluang kerja sama lintas negara.

Di sisi lain, pemulihan sektor pariwisata turut memperbesar peluang bagi subsektor kuliner. Tingginya kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya ke Bali, menjadi pasar potensial untuk meningkatkan eksposur dan penjualan produk kreatif lokal.

Melalui keikutsertaan dalam FHTB 2026, pemerintah menegaskan peran ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional, dengan subsektor kuliner sebagai salah satu penggerak utama dalam menciptakan nilai tambah, membuka peluang ekspor, serta memperkuat posisi Indonesia di pasar global melalui inovasi dan kolaborasi.