Dari Sawah ke Ekonomi Nasional: Pertanian Jadi Penopang Baru Pertumbuhan

0
115
Foto: Kementan

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) sekaligus ad interim Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan sektor pertanian kini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah seiring meningkatnya produksi pangan nasional dan menurunnya ketergantungan impor komoditas strategis.

Dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah meblalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026), Sudaryono mengatakan kebijakan pengurangan impor memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi di desa.

“Dulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri. Ini yang membuat ekonomi daerah bergerak,” ujar Sudaryono.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki efek berganda yang luas karena mampu menyerap tenaga kerja, membuka peluang usaha baru, sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan.

Ia mencontohkan keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras medium pada 2025, serta tercapainya swasembada jagung dan gula konsumsi, telah menciptakan ruang produksi baru di dalam negeri yang sebelumnya diisi produk impor.

“Artinya ada lapangan kerja baru dan masyarakat yang tadinya tidak berdaya menjadi lebih produktif karena produksi meningkat,” kata Sudaryono, yang juga merupakan putra petani asal Grobogan, Jawa Tengah.

Peningkatan produksi pangan nasional, lanjutnya, didorong melalui berbagai program percepatan produksi seperti pompanisasi, pipanisasi, rehabilitasi irigasi, optimalisasi lahan rawa, hingga distribusi benih unggul dan alat mesin pertanian. Kementerian Pertanian tercatat telah menyalurkan sekitar 70 ribu pompa guna meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun.

“Rahasianya sederhana, menanam lebih banyak supaya panennya juga lebih banyak,” ujarnya.

Sudaryono menilai sektor pertanian menjadi sektor ekonomi yang paling mudah dijangkau masyarakat desa karena mampu langsung menciptakan aktivitas ekonomi lokal.

“Saat produksi meningkat, usaha ikut tumbuh, tenaga kerja terserap, dan ekonomi daerah bergerak,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menciptakan pasar baru bagi komoditas pertanian dan peternakan nasional. Menurutnya, kebutuhan susu dalam negeri yang meningkat mulai mendorong investasi peternakan sapi perah di berbagai daerah.

Pemerintah pun terus mendorong pengembangan komoditas strategis seperti susu, daging sapi, bawang putih, dan kedelai guna mengurangi ketergantungan impor secara bertahap.

“MBG menciptakan permintaan besar terhadap susu, sayur, telur, ayam, dan komoditas lainnya. Jadi bukan hanya anak-anak yang mendapat gizi, tetapi ekonomi pertanian daerah juga ikut bergerak,” jelasnya.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, penguatan sektor pertanian juga mulai berdampak terhadap peningkatan ekspor nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun, sementara impor turun sekitar Rp41 triliun.

Sudaryono juga menilai penguatan dolar AS dapat menjadi peluang bagi komoditas pertanian berbasis ekspor seperti kopi, karet, kelapa, cengkeh, gula aren, hingga serabut kelapa yang diperdagangkan menggunakan dolar.

“Kalau ekspor naik, petani juga menikmati nilai tambah karena dibayar dolar. Ini peluang bagi daerah untuk memperkuat komoditas ekspor pertanian,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah terus memperluas program cetak sawah baru di luar Pulau Jawa sebagai strategi jangka panjang menjaga ketahanan pangan sekaligus membuka pusat-pusat ekonomi baru di daerah.

“Cetak sawah bukan hanya soal pangan hari ini, tetapi persiapan pangan dan ekonomi Indonesia untuk 50 sampai 100 tahun ke depan,” tegasnya.

Ia menambahkan, sektor pertanian saat ini menjadi salah satu penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) nasional. Karena itu, pemerintah terus memperkuat dukungan melalui subsidi pupuk, bantuan alat mesin pertanian, hingga akses pembiayaan murah bagi petani dan peternak.

“Kami yakin sektor pertanian sangat menjanjikan. Produksi ada, pasar ada, ekspor juga besar. Tinggal bagaimana semua pihak mendukung agar ekonomi desa tumbuh semakin kuat,” pungkasnya.