Deteksi Dini Jadi Kunci, Menkes Tekankan Percepatan Skrining Hepatitis

0
97
Foto: Kemenkes

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih lebarnya kesenjangan penanganan penyakit hati kronis di Indonesia dibandingkan target global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), khususnya dalam aspek deteksi dini dan akses pengobatan.

WHO menargetkan 90 persen penderita hepatitis dapat terdeteksi melalui skrining, serta 80 persen di antaranya memperoleh penanganan medis yang memadai. Namun, capaian Indonesia masih jauh dari target tersebut.

Menkes menyebut, tingkat skrining hepatitis di Indonesia baru sekitar 10 persen, sementara akses pengobatan masih berada pada kisaran 1 hingga 5 persen. “Kesenjangannya masih sangat besar,” ujar Budi dalam dialog kesehatan Solid Habit Strong Liver di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Ia menjelaskan, tantangan ini semakin besar mengingat jumlah penduduk yang terpapar hepatitis di Indonesia diperkirakan mencapai 70 juta orang. Rendahnya klaim layanan kesehatan juga menunjukkan masih banyak kasus yang belum terdeteksi dalam sistem layanan nasional.

Sebagai respons, pemerintah memperkuat pendekatan promotif dan preventif yang dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan kuratif.

Sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya pemberian vaksin Hepatitis B bagi tenaga kesehatan sejak 2023, serta profilaksis bagi ibu hamil sejak 2024 melalui pemberian antivirus Tenofovir (TDF) untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi.

Selain itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diperluas pada 2025 guna meningkatkan cakupan skrining nasional. Pada 2026, pemerintah menargetkan skrining menjangkau hingga 136 juta penduduk, termasuk pemeriksaan HBsAg dan deteksi dini fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis tes darah.

Upaya pencegahan juga diperkuat melalui kebijakan pelabelan gizi untuk mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak sebagai faktor risiko penyakit hati berbasis metabolik.

Secara global, penyakit hati kronis telah menyerang lebih dari 300 juta orang dengan angka kematian sekitar 2 juta jiwa per tahun, atau hampir empat kematian setiap menit.

Menkes menekankan pentingnya deteksi dini karena penyakit hati berkembang secara bertahap, mulai dari peradangan, fibrosis, sirosis, hingga kanker hati. Percepatan skrining menjadi kunci untuk menghentikan progres penyakit sejak tahap awal.

“Dengan deteksi dan pencegahan yang lebih cepat, kita dapat meningkatkan kualitas hidup serta angka harapan hidup masyarakat yang saat ini rata-rata sekitar 74 tahun,” ujarnya.

Ia berharap penguatan strategi promotif dan preventif ini tidak hanya untuk mengejar target WHO, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional dalam jangka panjang.