Dari Inflamasi hingga Sirosis, Ini Tahapan Kerusakan Hati

0
45

(Vibizmedia – Jakarta) Hati merupakan organ vital yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia karena bekerja tanpa henti selama 24 jam. Organ ini dikenal sebagai “pabrik kimia terbesar” dalam tubuh karena menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari detoksifikasi, metabolisme, hingga produksi protein yang dibutuhkan tubuh.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahli Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (PISP), Prof. Dr. dr. David Handojo Muljono, Sp.PD dalam kegiatan Healthy Liver Awareness 2026 bertema “Solid Habit, Strong Liver” bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa hati berfungsi menyaring zat berbahaya yang masuk ke tubuh, termasuk obat-obatan dan alkohol, melalui proses detoksifikasi alami. Selain itu, hati juga mengatur metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta menyimpannya dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi.

Hati turut memproduksi protein penting seperti albumin yang berperan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Kekurangan albumin dapat menyebabkan pembengkakan pada kaki hingga penumpukan cairan di rongga perut. Fungsi lainnya meliputi pembentukan faktor pembekuan darah, produksi empedu untuk membantu pencernaan lemak serta penyerapan vitamin A, D, E, dan K, serta mendukung sistem imun dengan menangkap dan menghancurkan bakteri maupun zat asing.

Lebih lanjut, dr. David menjelaskan bahwa kerusakan hati dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti infeksi virus, konsumsi alkohol, perlemakan hati, penyakit autoimun, hingga gangguan metabolik. Proses kerusakan umumnya diawali dengan peradangan (inflamasi). Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang menjadi fibrosis atau jaringan parut. Pada tahap awal, fibrosis masih dapat diperbaiki, namun jika berlanjut akan berkembang menjadi sirosis.

Pada tahap sirosis, struktur hati menjadi keras, aliran darah terganggu, dan fungsi organ menurun. Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi seperti pembesaran perut akibat penumpukan cairan, mata menguning, hingga gangguan pembekuan darah.

Ia menegaskan bahwa penanganan penyakit hati tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan deteksi dini. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi, menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, rutin berolahraga, serta menghindari konsumsi alkohol dan perilaku berisiko.

Sementara itu, deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan fungsi hati, tes darah, USG, hingga metode non-invasif seperti elastografi untuk menilai tingkat fibrosis. Semakin dini gangguan hati terdeteksi, semakin besar peluang untuk pulih dan mencegah kondisi menjadi lebih berat.

Penanganan medis disesuaikan dengan penyebabnya, seperti pemberian antivirus untuk hepatitis virus, penghentian konsumsi alkohol, pengendalian berat badan pada perlemakan hati, hingga terapi khusus untuk penyakit autoimun. Pada kondisi lanjut, penanganan dapat mencakup tindakan medis, kemoterapi, terapi target, hingga transplantasi hati sebagai pilihan terakhir.

dr. David menekankan bahwa kunci utama dalam penanganan penyakit hati adalah menghentikan kerusakan sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Semakin cepat kerusakan dihentikan, semakin besar peluang untuk pulih dan terhindar dari komplikasi.