Dari AI hingga Smelter, Indonesia–Finlandia Bangun Kerja Sama Komprehensif

0
54
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Paris) Hubungan bilateral antara Indonesia dan Finlandia memasuki fase baru yang semakin strategis. Kedua negara sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor utama, mulai dari transformasi digital, hilirisasi industri mineral, hingga penguatan program kesejahteraan sosial nasional.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia Ville Tavio, di sela-sela OECD Ministerial Council Meeting (PTM OECD) 2026 di Paris.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak menegaskan komitmen untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dan teknologi masing-masing negara. Saat ini, sekitar 30 perusahaan Finlandia telah berinvestasi di Indonesia, dengan lebih dari 200 perusahaan terlibat dalam berbagai proyek strategis. Kolaborasi ini mencakup pengembangan jaringan 5G/6G, komputasi kuantum, ekosistem semikonduktor, hingga pembangunan kota cerdas (smart city).

Di sektor industri, perusahaan telekomunikasi Nokia bersama mitranya NVIDIA turut berperan dalam pembangunan pusat data di Indonesia. Upaya ini sejalan dengan agenda hilirisasi mineral nasional. Salah satu implementasinya adalah keterlibatan perusahaan Finlandia, Metso, dalam pembangunan fasilitas smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, untuk menghasilkan katoda tembaga berkualitas tinggi.

Menko Airlangga menekankan pentingnya kerja sama yang saling menguntungkan dalam memperkuat kedaulatan digital dan ekonomi nasional. Ia menyatakan bahwa Indonesia berkomitmen mengembangkan manufaktur berbasis kecerdasan artifisial (AI) dan Internet of Things (IoT), namun tetap membutuhkan mitra teknologi yang tepercaya guna menjaga keamanan dan kedaulatan nasional. Ia juga berharap pasar Finlandia dan Uni Eropa dapat semakin terbuka bagi produk katoda tembaga Indonesia yang dibutuhkan industri elektronika global.

Selain sektor teknologi dan industri, kerja sama kedua negara juga menyentuh aspek sosial, khususnya dalam program makanan bergizi bagi anak sekolah. Finlandia, yang telah menerapkan program makan siang gratis sejak 1940-an, menjadi rujukan bagi Indonesia. Delegasi Indonesia bahkan telah mempelajari sistem dapur terpusat (central kitchen) yang efisien di negara tersebut.

Indonesia kini tengah mengadopsi model tersebut untuk mendukung program berskala besar yang ditargetkan menjangkau hingga 80 juta penerima manfaat. Pemerintah Finlandia menyambut positif langkah ini dan berencana melibatkan produsen peralatan dapur modern guna membantu mengatasi tantangan logistik, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan.

Untuk memastikan implementasi berjalan optimal, kedua negara juga menyusun langkah konkret dalam mengatasi hambatan perdagangan, termasuk penyelarasan regulasi terkait tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Selain itu, kunjungan tingkat menteri dari Finlandia ke Jakarta tengah dipersiapkan, dengan pertemuan lanjutan dijadwalkan pada 12 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Finlandia juga kembali menegaskan dukungannya terhadap aksesi Indonesia menjadi anggota OECD serta percepatan ratifikasi perjanjian Indonesia–EU CEPA.

Turut mendampingi Menko Airlangga dalam kunjungan kerja di Paris dan Brussels antara lain Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional dan Investasi Edi Prio Pambudi.