Ekspor Batik Indonesia Melonjak 13 Persen, Pasar Global Makin Terpikat

0
140
Industri Batik
Para pembatik di salah satu toko di Solo. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/DYAH M NUGRAHANI

(Vibizmedia-Nasional) Industri batik nasional terus menunjukkan kinerja positif dan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di pasar internasional. Di tengah berbagai tantangan industri, batik tetap mampu mencatat pertumbuhan ekspor yang signifikan sekaligus mempertahankan perannya sebagai warisan budaya bernilai ekonomi tinggi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai US$30,62 juta atau tumbuh 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$26,63 juta.

Menurut Agus, capaian tersebut menjadi bukti bahwa batik Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global. Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem industri batik melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar yang berkelanjutan.

Salah satu peluang yang tengah dibidik pemerintah adalah pemanfaatan ekosistem haji dan umrah sebagai pasar baru bagi produk batik nasional. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi perajin dan pelaku usaha batik, khususnya yang telah memiliki sertifikasi Batikmark.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, mengatakan bahwa meningkatnya minat generasi muda terhadap batik menjadi modal penting bagi pertumbuhan industri ke depan.

“Batik kini tidak hanya digunakan dalam acara formal, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Ini merupakan peluang besar bagi pelaku IKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas usaha,” ujarnya.

Meski prospeknya cerah, industri batik masih menghadapi tantangan, terutama maraknya produk tekstil bermotif batik yang sering disalahartikan sebagai batik asli. Pemerintah menegaskan bahwa batik autentik hanya mencakup batik tulis, batik cap, atau kombinasi keduanya yang diproduksi menggunakan proses pembatikan dengan malam atau lilin batik.

Untuk meningkatkan daya saing perajin, Kementerian Perindustrian bersama Yayasan Batik Indonesia terus mendorong efisiensi produksi melalui berbagai program pembinaan. Salah satunya dilakukan melalui bimbingan teknis di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang mengajarkan pemanfaatan kembali lilin batik bekas serta penggunaan cap batik alternatif berbahan kertas.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dapat membantu pelaku usaha menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas dan nilai budaya batik.

Selain meningkatkan efisiensi, langkah tersebut juga mendukung prinsip industri hijau melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali material produksi.

Pemerintah optimistis kombinasi antara inovasi, efisiensi produksi, perluasan pasar, dan meningkatnya apresiasi masyarakat akan semakin memperkuat posisi batik Indonesia sebagai produk budaya yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Produk-produk hasil pembinaan tersebut rencananya akan ditampilkan dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional 2026 yang akan digelar pada Oktober mendatang, sekaligus menjadi etalase kekuatan industri batik Indonesia di hadapan pasar yang lebih luas.