(Vibizmedia – Jakarta) Euforia Piala Dunia 2026 tidak hanya terasa di stadion negara tuan rumah, tetapi juga menjalar hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Ribuan warga memadati ruang publik, lapangan terbuka, balai desa, hingga pusat keramaian untuk mengikuti pertandingan melalui kegiatan nonton bareng (nobar), yang kini berkembang menjadi fenomena sosial sekaligus ekonomi.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menilai tingginya antusiasme masyarakat terhadap nobar Piala Dunia membawa dampak positif yang melampaui sekadar hiburan. Aktivitas tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui meningkatnya transaksi dan keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam keterangan pers yang diterima InfoPublik, Selasa (23/6/2026), Erick menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas dukungannya dalam menghadirkan akses tayangan olahraga bagi masyarakat luas.
Menurut Erick, akses terhadap tontonan olahraga berkualitas tidak hanya menciptakan ruang kebersamaan, tetapi juga memperkuat optimisme publik. Kehadiran nobar di berbagai daerah pun membuka peluang ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Saya yakin dengan adanya nobar, aktivitas ekonomi dapat tumbuh secara menyeluruh di berbagai tempat,” ujarnya.
Data TVRI mencatat jumlah titik nobar di seluruh Indonesia telah mencapai sekitar 7.200 lokasi. Angka tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap ajang sepak bola terbesar di dunia sekaligus menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang tercipta dari kegiatan tersebut.
Di berbagai wilayah, nobar tidak hanya menjadi ajang berkumpul bagi pecinta sepak bola. Kehadiran massa dalam jumlah besar turut menggerakkan sektor kuliner, pedagang kaki lima, pelaku ekonomi kreatif, hingga berbagai jasa pendukung kegiatan masyarakat.
Melihat potensi tersebut, Kemenpora telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri agar pemerintah daerah dapat mengoptimalkan penyelenggaraan nobar sebagai penggerak ekonomi lokal.
Erick berharap kepala daerah dapat melibatkan UMKM secara aktif dalam setiap kegiatan nobar, sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan lebih luas.
“Sekarang titik nobar sudah mencapai 7.200. Artinya ini kegiatan yang positif. Karena itu kami meminta pemerintah daerah menyelenggarakan nobar yang sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dengan melibatkan UMKM,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa olahraga memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap perekonomian. Selain menghadirkan hiburan dan kebersamaan, olahraga juga mampu menggerakkan berbagai sektor usaha.
Erick mencontohkan bagaimana penyelenggaraan Piala Dunia di negara tuan rumah mampu mendorong aktivitas ekonomi secara besar-besaran, mulai dari transportasi, perhotelan, kuliner, hingga industri kreatif. Tingkat okupansi stadion yang mencapai lebih dari 96 persen menjadi bukti kuatnya daya dorong ekonomi sektor olahraga.
Dampak serupa, meski dalam skala berbeda, juga dirasakan di Indonesia melalui ribuan titik nobar. Semakin banyak masyarakat berkumpul dalam kegiatan positif, semakin besar pula peluang ekonomi yang tercipta.
Di sisi lain, nobar juga menjadi ruang pemersatu masyarakat. Perbedaan latar belakang, usia, dan profesi melebur dalam semangat yang sama untuk menikmati pertandingan sepak bola dunia.
Nilai kebersamaan ini sejalan dengan semangat pembangunan nasional yang menempatkan persatuan sosial sebagai fondasi kemajuan bangsa. Melalui olahraga, solidaritas sosial dapat diperkuat, interaksi masyarakat meningkat, serta optimisme kolektif tumbuh.
Dalam perspektif pembangunan nasional, penguatan ekosistem olahraga dan ekonomi kerakyatan juga selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif hingga ke daerah.
Kemenpora berkomitmen untuk terus memperluas akses masyarakat terhadap tayangan olahraga melalui televisi nasional. Upaya ini diharapkan mampu membuka lebih banyak ruang partisipasi publik sekaligus memperkuat industri olahraga nasional.
Erick menyatakan pihaknya akan menjajaki berbagai skema kerja sama agar pertandingan olahraga, baik nasional maupun internasional, semakin mudah diakses masyarakat.
“Kita akan cari jalan agar pertandingan olahraga nasional bisa hadir di TVRI, termasuk mencari dukungan sponsor bersama,” ujarnya.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, media penyiaran, dunia usaha, dan komunitas diharapkan mampu memperkuat ekosistem olahraga nasional. Dengan demikian, olahraga tidak hanya menjadi ajang prestasi, tetapi juga instrumen pembangunan sosial dan ekonomi yang memberikan dampak nyata.
Di tengah semarak Piala Dunia 2026, ribuan titik nobar yang tersebar dari kota hingga pelosok daerah menjadi bukti bahwa olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat sekaligus menggerakkan roda perekonomian. Dari layar televisi, lahir peluang ekonomi baru yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.









