Maskapai Belanda KLM telah mempersiapkan pengalaman kelas bisnis yang baru dan lebih mewah dengan menghadirkan 34 kursi rebah penuh (lie-flat) yang dilengkapi pintu privasi dan layar sentuh berukuran 19 inci.
Namun, terdapat satu kendala. Kursi-kursi tersebut, yang dipasarkan kepada penumpang premium di pesawat jarak jauh terbaru KLM, hingga kini belum memperoleh sertifikasi dari otoritas penerbangan. Akibatnya, ketika pesawat tersebut melakukan penerbangan perdana pada September mendatang, kursi-kursi itu akan tetap dibiarkan kosong.
Lufthansa menghadapi persoalan yang sama. Singapore Airlines juga mengalami kondisi serupa. Sejumlah maskapai lain, termasuk United dan American, bahkan telah memperkenalkan suite kelas bisnis baru dengan pintunya tetap terbuka karena masih menunggu persetujuan dari regulator.
Maskapai-maskapai saat ini berlomba menghadirkan fasilitas yang lebih mewah untuk membedakan diri dari para pesaing sekaligus menawarkan kenyamanan yang lebih tinggi kepada penumpang. Kursi menjadi pusat persaingan tersebut, dengan hadirnya pod pribadi yang dilengkapi ruang penyimpanan tambahan, pengisian daya nirkabel, sandaran kaki (ottoman), hingga pembatas privasi yang dapat ditarik. Namun, otoritas keselamatan penerbangan di Amerika Serikat dan Eropa menilai pengembangan tersebut tetap harus melewati proses pengujian yang ketat.
Kursi biasanya merupakan komponen terakhir yang dipasang pada pesawat baru. Dalam sejumlah kasus, lamanya proses sertifikasi membuat produsen pesawat memiliki armada yang sebenarnya sudah selesai diproduksi, tetapi belum dapat diserahkan kepada maskapai.
Chief Executive Boeing, Kelly Ortberg, bulan lalu mengatakan bahwa Boeing memiliki sejumlah pesawat pelanggan yang sebenarnya telah selesai sepenuhnya, tetapi pengirimannya masih tertunda karena sertifikasi kursi belum diterbitkan.
Kepala Federal Aviation Administration (FAA), Bryan Bedford, mengatakan kepada wartawan bulan lalu bahwa berbagai komponen, mulai dari mekanisme gesper sabuk pengaman hingga kait pintu, dapat memengaruhi cara penumpang mengevakuasi diri dalam keadaan darurat maupun tingkat perlindungan mereka ketika terjadi kecelakaan.
Bedford menjelaskan bahwa kursi memang jarang dipandang sebagai teknologi baru. Namun, menurutnya, FAA menemukan bahwa sejumlah kursi dan suite, terutama di kabin premium, tidak berhasil memenuhi pengujian faktor manusia (human factors tests) yang berkaitan dengan benturan.
Pengujian tersebut sebenarnya bukan hal baru. Namun, Gary Weissel, konsultan yang telah membantu berbagai maskapai mengembangkan, memperoleh sertifikasi, dan memasang interior kabin, mengatakan bahwa desain kursi yang semakin kompleks, semakin disesuaikan dengan kebutuhan maskapai, serta penggunaan material baru telah memunculkan berbagai pertanyaan baru bagi regulator.
Ketika kursi dipasang dengan posisi miring, seperti konfigurasi herringbone yang digunakan agar lebih banyak kursi rebah penuh dapat ditempatkan di dalam kabin, penumpang berpotensi mengalami jenis cedera yang berbeda ketika terjadi kecelakaan dibandingkan dengan kursi yang menghadap ke depan seperti di kabin ekonomi selama puluhan tahun. Pod yang lebih luas serta kursi premium yang lebih lapang juga memungkinkan tubuh penumpang bergerak dengan pola yang berbeda ketika terjadi benturan.
Kepala Keselamatan FAA, Caitlin Locke, mengatakan bahwa meskipun perubahan hanya dilakukan pada posisi duduk penumpang atau penggunaan material yang lebih modern, seluruh desain tetap harus memenuhi seluruh persyaratan keselamatan yang sangat penting.
Dalam sebuah konferensi bulan ini, Locke juga mengatakan bahwa peningkatan standar keselamatan kabin menjadi salah satu alasan mengapa penumpang saat ini dapat selamat dari kecelakaan yang beberapa dekade lalu kemungkinan besar berakibat fatal.
Uji Tabrak dan Boneka Uji
Setiap kursi baru harus melewati serangkaian pengujian ketat untuk membuktikan tingkat keamanannya.
Kursi dipasang pada kereta luncur (sled) dan ditembakkan di sepanjang lintasan guna memastikan strukturnya tetap utuh ketika menerima gaya benturan hingga 16 kali gaya gravitasi. Boneka uji tabrak kemudian dievaluasi untuk mengetahui tingkat cedera yang dialami. Material ringan baru juga harus lolos uji ketahanan api agar dipastikan tidak mudah terbakar maupun menyebarkan api ke seluruh kabin.
Mencari solusi terhadap berbagai persoalan tersebut membutuhkan waktu, dan keterlambatan itu menimbulkan kerugian bagi maskapai.
Ketika Boeing 787-9 Dreamliner baru milik Lufthansa mulai beroperasi tahun lalu, hanya empat dari total 28 kursi kelas bisnis yang dapat dipesan penumpang, sementara sisanya diblokir. Kondisi tersebut berlangsung hingga pertengahan Maret setelah FAA menyetujui sebagian besar kursi, meskipun tiga kursi di baris kedua hingga kini masih belum dapat digunakan.
Situasi tersebut menghambat rencana Lufthansa untuk menawarkan lima pilihan tempat duduk berbeda di dalam kabin kelas bisnis Dreamliner sebagai bagian dari strategi peningkatan layanan premium.
Singapore Airlines juga menunda peluncuran Airbus A350-900 jarak jauh yang telah dimodifikasi hingga awal tahun depan. Maskapai tersebut menyebut keterlambatan sertifikasi salah satu jenis kursi, ditambah kendala rantai pasok yang masih melanda industri, sebagai penyebab utama.
Meskipun Air France, maskapai saudara KLM, telah menggunakan kursi kelas bisnis yang serupa dengan yang dipasang KLM pada Airbus A350, juru bicara European Union Aviation Safety Agency (EASA) mengatakan bahwa desain kelas bisnis baru KLM memiliki jumlah baris yang lebih banyak serta sudut pemasangan yang berbeda sehingga tetap memerlukan pengujian keselamatan tambahan.
Delta Air Lines juga sempat memiliki sejumlah Airbus A321neo baru yang disimpan sambil menunggu persetujuan atas kursi rebah penuh yang baru. Namun, proses sertifikasi diperkirakan dapat berlangsung hingga 2028 sehingga Delta sedang mempertimbangkan untuk menggunakan pemasok lain. Sebagai solusi sementara, Delta memasang 44 kursi first class model sandaran biasa yang kualitasnya tidak semewah kursi baru pada tujuh pesawat tersebut untuk melayani penerbangan lintas negara.
Safran, produsen kursi rebah penuh baru milik Delta, mengatakan bahwa proses sertifikasi, terutama untuk kursi kelas bisnis, menjadi semakin kompleks dari tahun ke tahun karena desain dan fitur yang terus berkembang, serta adanya teknologi baru yang memungkinkan pemahaman lebih baik mengenai keselamatan penumpang. Perusahaan tersebut menambahkan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan Delta untuk memenuhi persyaratan terbaru.
Pemilihan Kursi
FAA mengatakan bahwa lembaga tersebut terus bekerja sama dengan industri untuk mengidentifikasi serta mengomunikasikan potensi persoalan sejak tahap awal pengembangan sehingga berbagai hambatan dapat dihindari sebelum proses sertifikasi berlangsung.
Pada awal 2023, Riyadh Air memesan armada pesawat jarak jauh Boeing dengan tujuan menantang dominasi maskapai pesaing di Uni Emirat Arab dan Qatar sekaligus meningkatkan konektivitas Arab Saudi. Maskapai tersebut menargetkan penerbangan komersial pertamanya pada paruh pertama 2025 sehingga hanya memiliki waktu sekitar dua tahun untuk memperoleh sertifikasi bagi kabin dan kursi barunya.
Target waktu tersebut akhirnya terbukti terlalu singkat.
Riyadh Air akhirnya memperoleh seluruh sertifikasi sekitar satu tahun lebih lambat dari rencana awal setelah melakukan sejumlah penyesuaian terhadap desain kursinya. Meski demikian, hasil tersebut masih dianggap lebih baik dibandingkan sejumlah maskapai lain yang hingga kini masih menghadapi proses sertifikasi yang berlangsung bertahun-tahun.
CEO Riyadh Air, Tony Douglas, mengatakan dalam sebuah wawancara pada awal bulan ini, tidak lama setelah penerbangan komersial pertama maskapai tersebut mendarat di Bandara Heathrow, London, bahwa persoalan sertifikasi kursi sangat kompleks sehingga menurutnya topik tersebut bahkan layak dijadikan bahan disertasi doktoral.
Garuda Indonesia
Berbeda dengan sejumlah maskapai internasional yang saat ini menghadapi penundaan akibat sertifikasi kursi premium generasi terbaru, hingga kini belum ada laporan dari regulator maupun media internasional yang menunjukkan Garuda Indonesia mengalami persoalan serupa. Garuda terakhir melakukan pembaruan besar pada kabin kelas bisnisnya melalui peluncuran Super Diamond Business Class di armada Airbus A330-300 pada 2016 sebagai bagian dari program modernisasi armada, dan produk tersebut kemudian dioperasikan secara komersial tanpa adanya laporan publik mengenai hambatan sertifikasi.









