(Vibizmedia – Bali) Indonesia mempertegas komitmennya dalam mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan global dengan menjadi tuan rumah The Fourth Meeting of ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP) Working Group 5 (WG5) di Bali. Forum internasional ini dihadiri sekitar 130 pakar bahan bakar penerbangan dari berbagai negara untuk membahas penguatan kebijakan teknis pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menilai pertemuan tersebut sebagai momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi global dalam mendorong transisi energi bersih di sektor penerbangan.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman, menjelaskan bahwa Working Group 5 memiliki peran penting dalam menyusun landasan teknis pengembangan CORSIA Eligible Fuels. Pembahasan difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu Life Cycle Assessment (LCA), keberlanjutan, dan teknologi.
Menurutnya, industri penerbangan saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar energi. Oleh karena itu, percepatan pemanfaatan SAF tidak hanya penting untuk menekan emisi karbon, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
Indonesia mendorong agar implementasi SAF dilakukan melalui pendekatan yang inklusif dan seimbang, dengan mempertimbangkan keragaman sumber daya, bahan baku, serta teknologi yang dimiliki masing-masing negara.
Pemerintah juga menekankan bahwa seluruh metodologi pengembangan SAF—termasuk LCA, evaluasi teknologi, dan aspek keberlanjutan—harus disusun berdasarkan bukti ilmiah, transparansi, serta standar yang kredibel dan bebas dari kepentingan politik.
“Keberhasilan dekarbonisasi penerbangan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi internasional yang berbasis ilmu pengetahuan, transparansi, dan inovasi. Indonesia mendukung pengembangan SAF dari berbagai sumber bahan baku dan teknologi sesuai standar ICAO, sehingga setiap negara dapat berkontribusi sesuai potensinya,” ujar Sokhib.
Sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi udara, Indonesia menilai upaya keberlanjutan penerbangan harus berjalan seiring dengan menjaga konektivitas nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, Indonesia berkomitmen aktif berkontribusi melalui masukan teknis, diskusi ilmiah, dan pendekatan berbasis bukti dalam perumusan kebijakan lingkungan penerbangan global.
Melalui forum ini, Indonesia berharap dapat mendorong lahirnya rekomendasi teknis yang memperkuat implementasi CORSIA Eligible Fuels, mempercepat adopsi SAF secara global, serta mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan kemandirian ekonomi melalui transisi energi berkelanjutan serta peningkatan peran aktif Indonesia dalam kerja sama internasional untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim.









