(Vibizmedia – Industry) Pemerintah Indonesia dan Maroko menjajaki pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) sebagai langkah memperkuat kerja sama perdagangan dan industri. Inisiatif ini diharapkan mampu menurunkan hambatan tarif, meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di kawasan Mediterania, sekaligus mengamankan pasokan bahan baku strategis seperti fosfat dan aluminium bagi industri nasional.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza dan Wakil Menteri yang Membidangi Perdagangan Luar Negeri Maroko H.E. Omar Hejira di Jakarta. Kerja sama juga diarahkan pada penguatan investasi, industri halal, dirgantara, farmasi, serta energi baru dan terbarukan.
Faisol Riza mengatakan, Maroko memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Posisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar produk manufaktur sekaligus membangun kemitraan pada sektor-sektor industri masa depan.
Optimisme tersebut didukung tren positif perdagangan kedua negara. Pada 2025, nilai perdagangan nonmigas Indonesia–Maroko meningkat hampir 33 persen hingga mencapai USD 235 juta. Indonesia mengekspor minyak nabati, produk karet, alas kaki, tekstil, mesin dan peralatan listrik, serta kopi, teh, dan rempah-rempah. Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk, aluminium, tekstil, dan berbagai bahan baku industri dari Maroko.
Pertemuan bilateral juga menegaskan komitmen mempercepat pengembangan industri halal. Hal ini diperkuat melalui Mutual Recognition Agreement (MRA) Sertifikasi Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) yang ditandatangani pada Mei 2026. Kesepakatan tersebut akan mempermudah akses produk halal Indonesia ke pasar Maroko tanpa sertifikasi ulang serta mendorong investasi di sektor halal.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perindustrian mengundang Maroko berpartisipasi dalam Halal Expo 2026 guna memperluas jejaring bisnis dan membuka peluang investasi baru.
Selain perdagangan, kedua negara menjajaki kolaborasi di sektor dirgantara, termasuk pengembangan maintenance, repair and overhaul (MRO), industri farmasi dan kosmetik halal, serta energi baru dan terbarukan. Kerja sama tersebut akan didukung melalui peningkatan kapasitas SDM, riset bersama, promosi investasi, hingga business matching.
Kedua negara juga berencana menindaklanjuti hasil pembahasan melalui Indonesia–Maroko Business Forum pada awal 2027. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk mempercepat realisasi investasi, memperkuat rantai pasok industri, serta memperluas akses pasar bagi produk manufaktur kedua negara.
Jika diinginkan, saya juga dapat membuat versi yang lebih bergaya berita media nasional (sekitar 350 kata) dengan lead yang lebih kuat dan lebih “newsworthy”.









