Jepang Memilih Inggris Demi Membangun Insinyur Modern

0
62
Jepang
Seorang gadis kecil berinteraksi dengan robot di Osaka, Jepang (Foto: Andy Kelly)

(Vibizmedia-Kolom) Restorasi Meiji tahun 1868 menandai dimulainya perubahan besar dalam sejarah Jepang. Pemerintah baru menyadari bahwa negara tidak mungkin mempertahankan kedaulatannya apabila tetap mengandalkan sistem ekonomi dan teknologi tradisional. Dalam waktu yang relatif singkat, Jepang harus membangun industri, memperkuat pertahanan, mengembangkan infrastruktur, serta menciptakan birokrasi modern. Semua tujuan tersebut memiliki satu kebutuhan yang sama, yaitu tersedianya tenaga teknik yang mampu merancang, membangun, mengoperasikan, dan mengelola teknologi modern. Menurut Erich Pauer dalam From Samurai to Engineer-Manager: The Case Study of Ōhara Junnosuke (1859–96), Mining Specialist in Meiji Japan, pemerintah Meiji memahami bahwa modernisasi tidak cukup dilakukan dengan membeli mesin dari Barat. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia yang mampu menguasai teknologi tersebut.

Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan salah satu kebijakan pendidikan paling penting dalam sejarah Jepang modern. Pemerintah tidak sekadar mendirikan sekolah teknik, tetapi terlebih dahulu mempelajari berbagai sistem pendidikan di Eropa untuk menentukan model yang paling sesuai dengan kebutuhan nasional. Pilihan akhirnya jatuh pada Inggris, sebuah keputusan yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap lahirnya generasi insinyur Jepang pada akhir abad ke-19.

Teknologi Tidak Sama dengan Ilmu Pengetahuan

Sebelum membangun sistem pendidikan baru, Jepang terlebih dahulu menghadapi persoalan mendasar mengenai bagaimana memahami teknologi itu sendiri. Erich Pauer menjelaskan bahwa pada awal era Meiji istilah technology belum dipahami sebagai disiplin yang berdiri sendiri. Dalam bahasa Jepang bahkan berkembang istilah kagakugijutsu, yaitu gabungan antara kagaku (ilmu pengetahuan) dan gijutsu (teknologi). Akibatnya, teknologi sering dipandang hanya sebagai penerapan ilmu pengetahuan, bukan sebagai bidang yang memiliki karakter, metode, dan tradisi tersendiri.

Pandangan tersebut mulai berubah setelah Jepang mempelajari perkembangan industri Barat. Pemerintah menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak hanya lahir dari laboratorium, tetapi juga dari pengalaman para pengrajin, insinyur, dan praktisi industri. Karena itu, pendidikan teknik tidak boleh hanya berisi teori ilmiah. Mahasiswa juga harus memahami proses produksi, organisasi kerja, dan penerapan teknologi di lapangan. Cara berpikir inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan sistem pendidikan teknik modern di Jepang.

Mengapa Inggris Menjadi Pilihan

Pada awal dekade 1860-an sejumlah pemuda dari Domain Chōshū dan Satsuma diam-diam berangkat ke Inggris untuk belajar. Keberangkatan tersebut dilakukan tanpa izin pemerintah Tokugawa karena pada saat itu Jepang masih menerapkan pembatasan perjalanan ke luar negeri. Mereka tidak memilih universitas klasik seperti Oxford atau Cambridge, melainkan belajar di University College London yang menawarkan pendidikan ilmu pengetahuan alam dan teknik dalam bentuk yang lebih praktis. Selama berada di Inggris mereka tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga bekerja di galangan kapal dan perusahaan industri untuk memahami secara langsung proses produksi modern.

Sekembalinya ke Jepang, pengalaman tersebut membawa dua pelajaran penting. Pertama, mereka melihat bahwa keberhasilan industri Inggris ditopang oleh pendidikan teknik yang kuat. Kedua, mereka menyadari bahwa pendidikan terbaik bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan pengalaman bekerja di lingkungan industri. Pengalaman inilah yang kemudian memengaruhi arah kebijakan pemerintah Meiji dalam membangun sistem pendidikan teknik nasional.

Negara Mencari Pengetahuan ke Seluruh Dunia

Semangat modernisasi juga terlihat dalam kebijakan pemerintah yang mendorong pencarian ilmu pengetahuan dari berbagai negara. Pada tahun 1868 Kaisar Meiji menyerukan agar pengetahuan dicari ke seluruh dunia demi memperkuat fondasi negara. Gagasan tersebut kemudian diperkuat oleh tokoh pendidikan Fukuzawa Yukichi yang mendorong agar ilmu pengetahuan alam dan teknologi menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Jepang. Di sisi lain, Guido Fridolin Verbeck, seorang pendidik berkebangsaan Belanda yang pernah bekerja sebagai insinyur, mengusulkan pembentukan sekolah-sekolah politeknik untuk mendukung industrialisasi Jepang.

Pemerintah tidak berhenti pada penyusunan gagasan. Kementerian Pekerjaan Umum (Kōbushō) dibentuk untuk mengembangkan berbagai sektor industri modern seperti pertambangan, perkeretaapian, baja, dan manufaktur. Bersamaan dengan itu, pemerintah mulai merancang sekolah-sekolah teknik yang mampu menghasilkan tenaga profesional bagi sektor-sektor tersebut.

Delegasi Iwakura dan Pencarian Model Pendidikan

Salah satu langkah paling strategis dilakukan melalui Misi Iwakura pada tahun 1871–1873. Delegasi besar pemerintah Jepang mengunjungi Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa untuk mempelajari sistem pemerintahan, industri, dan pendidikan. Menurut Erich Pauer, perhatian khusus diberikan kepada sekolah-sekolah teknik karena pemerintah memandang pendidikan sebagai fondasi pembangunan industri. Rombongan tersebut mengunjungi berbagai institusi pendidikan serta fasilitas industri untuk melihat secara langsung hubungan antara proses belajar dengan dunia kerja.

Hasil pengamatan mereka menunjukkan bahwa sistem Inggris memiliki keunggulan tersendiri. Pendidikan teknik tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga terbiasa bekerja di lingkungan industri. Model inilah yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan Jepang yang sedang membangun berbagai fasilitas industri secara bersamaan. Bahkan jurnal Nature pada tahun 1873 memberitakan rencana Jepang mendirikan sebuah perguruan tinggi teknik di Tokyo untuk mendidik generasi muda dalam bidang teknik sipil dan teknik mesin guna mengembangkan sumber daya alam negara tersebut.

Kurikulum Enam Tahun yang Visioner

Pilihan terhadap model Inggris diwujudkan melalui pendirian Imperial College of Engineering (ICE). Salah satu ciri paling menonjol dari lembaga ini adalah kurikulum enam tahun yang menggabungkan tiga komponen utama, yaitu pendidikan umum dan ilmiah, pendidikan teknik, serta praktik industri. Dua tahun pertama digunakan untuk memperkuat kemampuan dasar seperti bahasa Inggris, matematika, fisika, kimia, mekanika, dan gambar teknik. Dua tahun berikutnya mahasiswa membagi waktu antara kuliah dan praktik sesuai bidang teknik yang dipilih. Adapun dua tahun terakhir dihabiskan hampir seluruhnya untuk bekerja secara langsung di lingkungan industri.

Sistem tersebut mendapat perhatian bahkan di Inggris sendiri. Sebuah artikel di Nature tahun 1877 menyebut bahwa pendekatan Jepang berhasil menggabungkan keunggulan pendidikan ilmiah dengan pengalaman praktik yang selama itu sering dipisahkan di Inggris maupun Eropa Kontinental. Dalam pandangan tersebut, sistem pendidikan Jepang justru dapat menjadi contoh bagi Inggris karena menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik sekaligus pengalaman kerja nyata.

Pendidikan untuk Membangun Bangsa

Bagi pemerintah Meiji, keberadaan Imperial College of Engineering bukan sekadar mendidik mahasiswa menjadi insinyur. Lembaga ini dipersiapkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu membangun industri nasional secara mandiri. Para lulusan diharapkan dapat menggantikan tenaga ahli asing yang pada tahap awal masih didatangkan untuk membantu proses modernisasi. Dengan demikian, investasi terbesar pemerintah sesungguhnya bukan pada pembangunan gedung atau pembelian mesin, melainkan pada pembangunan manusia yang mampu mengembangkan teknologi secara berkelanjutan.

Keputusan memilih model pendidikan Inggris memperlihatkan bahwa Jepang tidak pernah meniru Barat secara membabi buta. Pemerintah mempelajari berbagai sistem pendidikan, menilai kelebihan dan kekurangannya, kemudian mengadaptasi pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan nasional. Hasilnya adalah sistem pendidikan teknik yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, pengalaman praktis, dan kebutuhan industri dalam satu kurikulum yang utuh. Strategi inilah yang kemudian melahirkan generasi insinyur profesional, termasuk Ōhara Junnosuke, yang menjadi motor penggerak industrialisasi Jepang pada era Meiji. Sebagaimana ditunjukkan Erich Pauer, keberhasilan Jepang bukan hanya terletak pada kemampuannya mengimpor teknologi Barat, tetapi pada kecerdasannya membangun sistem pendidikan yang menghasilkan manusia mampu menciptakan, mengelola, dan mengembangkan teknologi bagi kemajuan bangsa.