Indonesia Menuju Bebas Malaria 2030, Ancaman Masih Nyata

0
54
Peta daerah endemis malaria 2024 (Foto: Kemenkes)

(Vibizmedia – Jakarta) Bayangkan Anda sedang menikmati pertandingan final Piala Dunia antara Argentina dan Spanyol, lalu tiba-tiba terdengar dengungan di telinga. Secara refleks, tangan menepuk—seekor nyamuk pun mati. Bagi sebagian orang di kota besar, itu mungkin sekadar gangguan kecil. Namun, bagi masyarakat di wilayah endemis, suara itu bisa menjadi pertanda ancaman yang mematikan.

Ilustrasi tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, dalam Puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia 2026 di Jakarta, Selasa (28/7/2026). Ia mengingatkan bahwa meskipun Indonesia terus bergerak menuju target bebas malaria pada 2030, penyakit ini masih tergolong ancaman serius.

Secara global, pada 2024 tercatat sekitar 282 juta kasus malaria dengan 610 ribu kematian. Di Indonesia sendiri, sepanjang 2025 terdapat sekitar 700 ribu kasus dengan 120 kematian—setara dengan satu kematian setiap tiga hari.

Untuk mempercepat eliminasi, pemerintah telah menetapkan Peta Jalan Eliminasi Malaria 2025–2045 sebagai strategi nasional yang menekankan penguatan berbagai intervensi pengendalian penyakit.

Jejak Panjang Malaria di Indonesia

Malaria telah lama menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Pada masa kolonial Belanda (1928–1938), penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian utama di Hindia Belanda, khususnya di Batavia. Bahkan, Presiden pertama RI, Soekarno, pernah beberapa kali terjangkit malaria, termasuk menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945.

Tonggak penting penanganan malaria terjadi pada 12 November 1959, ketika Soekarno meresmikan penyemprotan massal DDT di Desa Kalasan, DI Yogyakarta—peristiwa yang kini diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional. Semangat pemberantasan tersebut terus berlanjut hingga kini dengan target eliminasi malaria pada 2030.

Hingga Juli 2026, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan. Sebanyak 414 kabupaten/kota atau 94,1 persen dari target telah mencapai status eliminasi malaria. Pada tahun ini, Provinsi DI Yogyakarta dan Sumatra Selatan, bersama tujuh kabupaten lainnya, juga resmi memperoleh sertifikat eliminasi.

Keberhasilan ini didukung strategi TOKEN: Temukan, Obati, dan Kendalikan. Pendekatan ini melibatkan deteksi aktif oleh tenaga kesehatan, pengobatan hingga tuntas, serta pengendalian vektor melalui penggunaan kelambu dan pengurangan genangan air.

Tantangan di Kawasan Timur

Meski capaian nasional meningkat, tantangan masih besar di wilayah timur Indonesia. Papua menyumbang sekitar 95 persen dari total kasus malaria nasional, menjadikannya fokus utama bersama Nusa Tenggara Timur dan sebagian wilayah Maluku.

Kondisi geografis yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan dalam melakukan pengawasan dan pelayanan. Di balik upaya tersebut, peran tenaga laboratorium medis sangat penting dalam memastikan diagnosis yang cepat dan akurat.

Salah satu contoh dedikasi datang dari Leni Apriana, tenaga kesehatan dari Puskesmas Segala Mider, Kota Bandar Lampung, yang meraih juara pertama dalam Kejuaraan Nasional Mikroskopis Malaria tahun ini. Prestasi tersebut mencerminkan kerja keras ribuan tenaga medis di seluruh Indonesia.

Mengusung tema “Akhiri Malaria: Kita Harus, Kita Bisa,” Indonesia kini berada di jalur yang optimistis, namun tetap waspada. Komitmen pemerintah daerah juga terus diperkuat untuk menjaga wilayah yang telah bebas malaria agar tidak kembali terjangkit.

Perjalanan menuju Indonesia bebas malaria pada 2030 bukan sekadar upaya medis, tetapi juga gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan masa depan yang lebih sehat.