Dari Perlindungan Ozon hingga Efisiensi Energi, Teknisi RAC Disiapkan Hadapi Teknologi Baru

0
275
Foto: Kemnaker

(Vibizmedia – Jakarta) Perubahan menuju ekonomi hijau tidak hanya menyangkut penggunaan energi bersih dan teknologi rendah emisi. Transformasi tersebut juga membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, memasang, memperbaiki, dan merawat teknologi baru secara tepat.

Kebutuhan itu semakin terlihat pada sektor refrigeration and air conditioning (RAC) atau teknologi refrigerasi dan tata udara. Peralatan pendingin telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas industri, mulai dari pendingin ruangan, lemari pendingin, penyimpanan pangan, fasilitas kesehatan, hingga berbagai proses manufaktur.

Seiring berkembangnya teknologi, sistem pendinginan juga mengalami perubahan. Penggunaan refrigeran terus diarahkan menuju bahan yang memiliki dampak lebih rendah terhadap lingkungan, sementara desain peralatan semakin menekankan efisiensi energi. Perubahan tersebut membuat kemampuan teknisi tidak lagi cukup hanya mengandalkan keterampilan mekanis konvensional.

Atas dasar itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat kompetensi tenaga kerja di bidang RAC sebagai bagian dari upaya mendukung perlindungan lapisan ozon dan transisi menuju teknologi pendinginan yang lebih berkelanjutan.

Teknisi RAC Berada di Garis Depan Transisi Teknologi

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan teknisi dan operator peralatan pendingin merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang memiliki peran langsung dalam penerapan teknologi pendinginan berkelanjutan.

Menurutnya, perubahan teknologi menuntut kompetensi tenaga kerja untuk terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan peralatan dan standar industri.

“Momentum Hari Ozon Sedunia ini kita jadikan untuk mengakselerasi kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi transisi hijau. Salah satu yang menjadi lini depan adalah operator dan teknisi reparasi AC serta peralatan pendingin,” kata Yassierli pada Puncak Perayaan Hari Ozon Sedunia 2026 di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/9/2026).

Peran teknisi menjadi penting karena teknologi pendinginan berada di persimpangan antara kebutuhan energi, kenyamanan, produktivitas, keamanan, dan perlindungan lingkungan.

Kesalahan dalam instalasi, pengisian refrigeran, perawatan, maupun proses perbaikan dapat memengaruhi efisiensi sistem. Karena itu, perubahan menuju teknologi yang lebih ramah lingkungan harus diikuti dengan peningkatan kemampuan orang yang bekerja langsung dengan peralatan tersebut.

Teknologi Pendinginan Tidak Lagi Sekadar Soal Menghasilkan Udara Dingin

Teknologi pendinginan modern telah berkembang jauh dari sekadar menghasilkan suhu rendah atau udara sejuk. Sistem RAC saat ini semakin memperhatikan efisiensi energi, pengendalian suhu yang presisi, kualitas udara, keselamatan, serta penggunaan refrigeran dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Refrigeran menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan teknologi tersebut. Dalam perjalanan industri pendinginan, berbagai jenis refrigeran digunakan untuk memenuhi kebutuhan sistem pendingin. Namun, sebagian bahan refrigeran memiliki dampak terhadap lapisan ozon atau berkontribusi terhadap pemanasan global.

Karena itu, industri secara bertahap melakukan peralihan menuju refrigeran yang lebih sesuai dengan agenda perlindungan lingkungan. Konsekuensinya, teknisi perlu memahami karakteristik refrigeran baru, prosedur penanganannya, kompatibilitas dengan peralatan, hingga aspek keselamatan kerja.

Perubahan ini juga berkaitan dengan efisiensi energi. Peralatan pendingin yang semakin efisien dapat membantu mengurangi konsumsi listrik sepanjang masa operasinya. Dengan meningkatnya penggunaan AC dan sistem refrigerasi di rumah tangga, gedung komersial, industri, pusat data, fasilitas kesehatan, serta rantai dingin pangan, efisiensi sistem pendinginan menjadi bagian penting dari upaya mengendalikan kebutuhan energi.

Dengan demikian, kompetensi teknisi RAC tidak hanya berpengaruh terhadap kinerja satu unit AC atau mesin pendingin, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap efisiensi energi dan pengurangan dampak lingkungan secara lebih luas.

Kompetensi Lingkungan Menjadi Bagian dari Keterampilan Teknis

Yassierli menegaskan bahwa kemampuan teknisi RAC tidak boleh berhenti pada keterampilan memasang, mengoperasikan, dan memperbaiki peralatan.

Tenaga kerja juga harus memahami aspek lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan dan penanganan bahan pendingin.

“Bagaimana memilih, mengoperasikan, termasuk bagaimana zat-zat yang berbahaya terhadap lingkungan tidak lagi digunakan. Ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia secara global untuk mengurangi kerusakan ozon,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konsep green jobs atau pekerjaan hijau semakin membutuhkan perpaduan antara keterampilan teknis dan pengetahuan lingkungan.

Seorang teknisi RAC, misalnya, perlu memahami prosedur penanganan refrigeran agar tidak terjadi pelepasan bahan secara tidak semestinya. Pada saat yang sama, teknisi juga perlu mengetahui prosedur pemulihan dan pengelolaan refrigeran ketika melakukan servis atau mengganti komponen.

Artinya, transformasi teknologi harus berjalan bersamaan dengan transformasi kompetensi.

Kolaborasi Pengembangan Kompetensi Sejak 2017

Penguatan kompetensi tenaga kerja RAC telah dikembangkan Kemnaker dan KLH/BPLH sejak 2017.

Kolaborasi tersebut mencakup pemutakhiran Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), penyusunan dan pengembangan kurikulum serta skema pelatihan, hingga peningkatan kompetensi tenaga kerja di bidang refrigerasi dan tata udara.

Pemutakhiran standar menjadi penting karena kompetensi yang dibutuhkan industri dapat berubah seiring dengan perkembangan peralatan dan refrigeran.

Materi pelatihan tidak hanya perlu menjawab kebutuhan teknis peralatan yang digunakan saat ini, tetapi juga mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan teknologi berikutnya.

99 Unit Peralatan Pelatihan Disalurkan ke 14 Balai

Untuk memperkuat infrastruktur pelatihan, KLH/BPLH menyerahkan hibah 99 unit peralatan pelatihan RAC kepada Kemnaker.

Peralatan tersebut akan digunakan untuk mendukung kegiatan pelatihan di 14 BBPVP/BPVP yang tersebar dari Aceh hingga Sorong.

Ketersediaan peralatan praktik menjadi elemen penting dalam pendidikan vokasi. Teknisi tidak cukup hanya mempelajari prinsip kerja sistem pendinginan melalui teori. Mereka membutuhkan kesempatan untuk berlatih menggunakan peralatan, melakukan pengukuran, menganalisis gangguan, serta menjalankan prosedur perawatan dan perbaikan.

Terlebih, perubahan teknologi pendinginan membuat sejumlah perangkat, sistem kontrol, dan jenis refrigeran membutuhkan pemahaman baru.

Dengan dukungan peralatan yang sesuai, pelatihan diharapkan dapat lebih mendekati kondisi pekerjaan sebenarnya sehingga kompetensi yang diperoleh tenaga kerja relevan dengan kebutuhan industri.

Teknologi Baru Membutuhkan Pelatihan Ulang

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Jumhur Hidayat mengatakan pembaruan kompetensi diperlukan karena teknologi pendinginan terus mengalami perkembangan.

Pembagian peran antara kedua kementerian diarahkan untuk saling melengkapi. Kemnaker menyediakan sarana dan ekosistem pelatihan tenaga kerja, sementara KLH/BPLH mendukung dari sisi peralatan yang diperlukan.

“Karena sekarang teknologinya sudah baru, maka perlu pelatihan ulang. Kemnaker menyediakan tempat untuk melatih tenaga kerja, sementara kami menyediakan peralatannya,” kata Jumhur.

Pelatihan ulang atau upskilling menjadi semakin relevan karena tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman sekalipun dapat menghadapi perubahan teknologi yang berbeda dari sistem yang sebelumnya mereka tangani.

Dalam konteks RAC, perubahan tersebut dapat mencakup teknologi kompresor, sistem kontrol elektronik, sensor, perangkat hemat energi, hingga penggunaan refrigeran dengan karakteristik berbeda.

Efisiensi Energi dan Digitalisasi Ikut Mengubah Industri Pendinginan

Perkembangan teknologi pendinginan juga bergerak menuju sistem yang semakin cerdas. Peralatan modern dapat dilengkapi sensor dan sistem kontrol digital untuk memantau suhu, tekanan, konsumsi energi, serta kondisi komponen.

Teknologi tersebut membuka peluang penerapan pemeliharaan berbasis kondisi atau condition-based maintenance, sehingga gangguan dapat dideteksi lebih awal sebelum menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

Pada fasilitas komersial dan industri, sistem manajemen bangunan juga semakin memungkinkan pengaturan pendinginan berdasarkan kebutuhan aktual. Sistem seperti ini dapat membantu menghindari penggunaan energi yang tidak diperlukan.

Perkembangan tersebut membawa konsekuensi baru bagi tenaga kerja. Teknisi masa kini berpotensi membutuhkan kombinasi keterampilan mekanik, kelistrikan, sistem kontrol, elektronika, hingga pemahaman dasar teknologi digital.

Karena itu, pengembangan kompetensi RAC tidak lagi cukup hanya mengikuti perkembangan perangkat keras. Kurikulum pelatihan juga perlu menyesuaikan diri dengan meningkatnya penggunaan sistem kontrol digital dan teknologi pendinginan yang semakin efisien.

Menyiapkan Tenaga Kerja untuk Ekonomi Hijau

Jumhur menekankan bahwa tenaga kerja hijau harus mampu menjalankan pekerjaannya dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Dengan perspektif tersebut, keterampilan teknis dan tanggung jawab lingkungan tidak lagi ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya menjadi bagian dari kompetensi yang harus dimiliki tenaga kerja.

Pada sektor RAC, penerapannya dapat terlihat dari pemilihan refrigeran, penggunaan peralatan secara efisien, prosedur servis yang tepat, pencegahan kebocoran, hingga pengelolaan bahan pendingin pada akhir masa penggunaan peralatan.

Kolaborasi Kemnaker dan KLH/BPLH kemudian menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memastikan perubahan teknologi dapat diikuti kesiapan sumber daya manusia.

Perlindungan Ozon dan Masa Depan Teknologi Pendinginan

Penguatan kompetensi teknisi RAC memiliki arti strategis karena sektor pendinginan akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan dan aktivitas ekonomi. Pertumbuhan kawasan perkotaan, kebutuhan rantai dingin untuk pangan dan obat-obatan, perkembangan industri, serta meningkatnya kebutuhan pengendalian suhu membuat permintaan terhadap teknologi refrigerasi dan tata udara terus berkembang.

Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak menghasilkan beban lingkungan yang semakin besar.

Karena itu, teknologi pendinginan masa depan dituntut semakin efisien, menggunakan refrigeran dengan dampak lingkungan yang lebih rendah, serta didukung tenaga kerja yang memahami standar keselamatan dan lingkungan.

Dalam kerangka tersebut, 99 unit peralatan pelatihan yang disalurkan ke 14 balai bukan sekadar tambahan fasilitas pendidikan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari investasi pada kemampuan tenaga kerja agar mampu mengikuti perubahan teknologi.

Transisi menuju ekonomi hijau pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi baru diadopsi. Keberhasilannya juga bergantung pada kesiapan manusia yang berada di balik teknologi tersebut.

Di sektor RAC, teknisi dan operator menjadi salah satu mata rantai penting yang memastikan teknologi pendinginan dapat bekerja secara aman, efisien, dan semakin selaras dengan agenda perlindungan lingkungan serta pelindungan lapisan ozon.