Surplus Nonmigas Menguat, Neraca Perdagangan Indonesia Mulai Pulih di Tengah Tekanan Global

0
63
Surplus Neraca Perdagangan Indonesia November 2024 Meningkat
Ilustrasi perdagangan Indonesia. FOTO: KEMENKEU

(Vibizmedia-Nasional) Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada pertengahan 2026. Di tengah perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian geopolitik, neraca perdagangan nasional masih mampu mempertahankan surplus secara kumulatif, sementara defisit sektor migas mulai menyusut.

Data Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan migas pada Juni 2026 turun menjadi USD3,49 miliar, lebih baik dibandingkan Mei 2026 yang mencapai USD3,76 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan perbaikan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan pada sektor energi mulai mereda sehingga menopang ketahanan perdagangan Indonesia.

“Secara akumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari hingga Juni 2026 masih mencetak surplus sebesar USD3,58 miliar,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya.

Menurut BI, capaian tersebut menunjukkan fondasi sektor eksternal Indonesia masih cukup kuat di tengah tingginya volatilitas ekonomi global.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai otoritas terkait guna menjaga stabilitas sektor eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Bank Indonesia terus memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan melalui sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah,” kata Ramdan.

Penyangga utama kinerja perdagangan Indonesia tetap berasal dari sektor nonmigas. Pada Juni 2026, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus USD3,04 miliar, meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD2,15 miliar.

Kenaikan surplus tersebut didorong oleh meningkatnya nilai ekspor nonmigas yang mencapai USD24,39 miliar. Produk berbasis sumber daya alam, terutama kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati, menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekspor selama Juni.

Sementara itu, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga pasar utama yang menyerap sebagian besar ekspor nonmigas Indonesia.

Membaiknya neraca perdagangan pada Juni 2026 memberikan sinyal bahwa sektor eksternal Indonesia mulai beradaptasi dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan. Walaupun defisit migas masih cukup besar, penyusutannya menunjukkan tekanan impor energi tidak seberat beberapa bulan sebelumnya. Hal ini penting karena defisit migas selama ini menjadi faktor yang terus menggerus surplus perdagangan nasional.

Di sisi lain, peningkatan surplus nonmigas menjadi indikator bahwa daya saing produk ekspor Indonesia masih terjaga. Permintaan dari tiga pasar utama—Tiongkok, Amerika Serikat, dan India—tetap menjadi penopang ekspor nasional meskipun ketiga negara tersebut juga menghadapi perlambatan ekonomi dan dinamika perdagangan internasional.

Namun, struktur perdagangan Indonesia masih memperlihatkan ketergantungan yang cukup besar terhadap komoditas berbasis sumber daya alam. Lemak dan minyak hewani maupun nabati, termasuk produk turunan kelapa sawit, masih menjadi penyumbang utama devisa. Kondisi ini menguntungkan ketika harga komoditas berada pada level yang baik, tetapi juga membuat kinerja ekspor rentan terhadap fluktuasi harga global.

Perbaikan neraca perdagangan juga memiliki implikasi yang luas bagi perekonomian. Surplus perdagangan membantu memperkuat cadangan devisa, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Dari sisi makroekonomi, kondisi tersebut memberi ruang yang lebih besar bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas tanpa harus menghadapi tekanan eksternal yang berlebihan.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berlalu. Ketidakpastian ekonomi global, kebijakan perdagangan negara-negara besar, volatilitas harga energi, hingga risiko gangguan rantai pasok masih dapat memengaruhi ekspor Indonesia pada paruh kedua 2026. Oleh karena itu, menjaga momentum ekspor manufaktur dan meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting dibandingkan mempertahankan surplus perdagangan.

Ke depan, kualitas surplus perdagangan akan menjadi perhatian utama. Surplus yang didukung oleh peningkatan ekspor produk manufaktur dan industri bernilai tambah akan jauh lebih berkelanjutan dibandingkan surplus yang hanya bergantung pada komoditas primer. Jika tren pemulihan ini terus berlanjut, neraca perdagangan dapat menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester II 2026.