Motor Listrik Nasional Meluncur, Driver dan Kurir Ungkap Biaya Operasional Jauh Lebih Hemat

0
46
Motor Listrik Nasional
Presiden Prabowo Subianto menyapa para pengguna kendaraan listrik saat Peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukung oleh Presiden Prabowo Subianto di Fasilitas Produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Kamis, 13 Agustus 2026. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) oleh Presiden Prabowo Subianto di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026), mendapat sambutan positif dari pengguna kendaraan listrik.

Bagi pengemudi ojek daring hingga kurir ekspedisi, kendaraan listrik bukan lagi sekadar simbol transformasi transportasi. Efisiensi biaya operasional menjadi salah satu alasan utama mereka beralih dari kendaraan berbahan bakar bensin.

Salah satunya dirasakan Ratih Intan, yang telah menjadi pengemudi ojek daring selama sekitar dua setengah tahun. Ia mengaku merasakan perbedaan signifikan setelah menggunakan motor listrik, terutama dari sisi biaya dan waktu.

“Perbedaannya itu jauh lebih enak. Saya prefer menggunakan motor EV ini karena yang pertama lebih efisien. Efisiensi waktu, efisiensi biaya,” ujar Intan.

Menurutnya, motor listrik juga menawarkan pengalaman berkendara yang lebih nyaman. Selain tidak menghasilkan emisi, suara kendaraan yang lebih senyap membuatnya lebih nyaman digunakan ketika memasuki kawasan permukiman atau gang-gang sempit.

“Ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi, emisinya nol. Sudah itu senyap, lebih enak,” katanya.

Berharap Produksi Motor Listrik Diperbanyak

Bagi Intan, kehadiran MoLiNas bukan hanya berkaitan dengan agenda pemerintah mengembangkan kendaraan listrik nasional. Ia melihat semakin luasnya penggunaan motor listrik dapat memberikan manfaat langsung bagi para pengemudi ojek daring.

Ia pun berharap produksi motor listrik nasional dapat terus diperluas sehingga semakin banyak pengemudi yang bisa memperoleh manfaat dari biaya operasional yang lebih rendah.

“Saya dukung pemerintah untuk mencanangkan Motor Listrik Nasional. Besar harapan saya lebih diperbanyak lagi produksinya. Karena lebih banyak membantu para driver dari segi penghasilan,” tutur Intan.

Bagi pekerja yang setiap hari menghabiskan banyak waktu di jalan, penghematan biaya energi dapat menjadi faktor penting dalam menentukan besarnya pendapatan bersih.

Pos Indonesia: Rp750 Ribu Turun Jadi Rp250 Ribu

Efisiensi serupa dirasakan Pos Indonesia yang telah mulai memanfaatkan kendaraan listrik untuk mendukung aktivitas kurir sejak 2023.

Courier Operation Vice President Pos Indonesia Fernanda Windy Rahmanto mengatakan penggunaan motor listrik mampu memangkas biaya energi secara signifikan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.

Jika menggunakan kendaraan konvensional, biaya bahan bakar seorang kurir dapat mencapai sekitar Rp750.000 per bulan.

Sementara dengan kendaraan listrik, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp250.000 per bulan.

“Kalau dari sisi kelebihannya, memang lebih hemat. Kalau kami menggunakan bahan fosil itu, kalau dirupiahkan dalam satu bulan kami menghabiskan sekitar Rp750.000 per bulan. Tetapi dengan EV ini, satu kurir satu bulan itu hanya habis sekitar Rp250.000,” ujar Fernanda.

Artinya, berdasarkan perhitungan tersebut, penggunaan kendaraan listrik dapat menghemat sekitar Rp500.000 per kurir setiap bulan, atau sekitar 67 persen dari biaya energi sebelumnya.

Jangan Hanya di Kota Besar

Pos Indonesia menyambut positif peluncuran MoLiNas dan berharap perkembangan ekosistem kendaraan listrik tidak berhenti di pusat-pusat kota.

Menurut Fernanda, keberadaan stasiun pengisian, layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, hingga infrastruktur pendukung perlu diperluas agar penggunaan kendaraan listrik semakin mudah di berbagai wilayah Indonesia.

“Ke depannya kami berharap ekosistem motor listrik di Indonesia segera, cepat untuk diimplementasikan di semua daerah. Tidak hanya di kota-kota besar. Tapi untuk tier 2, tier 3 juga terbangun juga ekosistem itu,” ujarnya.

Harapan tersebut menjadi penting karena keberhasilan transisi kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan yang diproduksi, tetapi juga kesiapan ekosistem yang menopangnya.

Mulai dari pengguna individu, pengemudi ojek daring, perusahaan logistik hingga BUMN seperti Pos Indonesia, kendaraan listrik kini mulai menunjukkan manfaat ekonominya secara langsung.

Dengan peluncuran MoLiNas, pemerintah berharap manfaat tersebut dapat diperluas sekaligus mendorong tumbuhnya industri kendaraan listrik nasional.

Bagi para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari perjalanan setiap hari, motor listrik pada akhirnya bukan hanya soal teknologi baru dan kendaraan tanpa emisi. Lebih dari itu, efisiensi biaya berarti peluang untuk membawa pulang penghasilan yang lebih besar.