Dampak Gempa M7,7 NTT Dipetakan dari Udara, Jalur Bantuan Jadi Tantangan

0
64
Gempa NTT
Visual wilayah terdampak gempa M7.7 NTT dari udara diambil pada Jumat, 21 Agustus 2026. FOTO: BNPB

Survei Udara dari Labuan Bajo hingga Nagekeo Ungkap Sejumlah Wilayah Sulit Dijangkau Jalur Darat

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan survei udara untuk memetakan kondisi wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemantauan dilakukan pada hari ketujuh pascagempa, Jumat (21/8), dengan menyisir wilayah Flores dari Labuan Bajo hingga Nagekeo.

Survei udara dipimpin Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari. Helikopter menyisir wilayah pesisir hingga kawasan perbukitan untuk melihat secara langsung kondisi lanskap, memvalidasi laporan dari masyarakat dan pemerintah daerah, sekaligus mengidentifikasi lokasi yang membutuhkan penanganan khusus.

“Ini kita lakukan mapping, sudah selesai kita lakukan. Kita berangkat dari Labuan Bajo, kemudian pesisir utara, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, hingga Nagekeo,” ujar Abdul Muhari.

Helikopter terbang pada ketinggian sekitar 25 hingga 30 meter dari permukaan tanah. Dari udara, tim BNPB melakukan dokumentasi visual secara berurutan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi wilayah terdampak, mulai dari kawasan pesisir hingga daerah pedalaman.

Akses Darat Sulit, Bantuan Disiapkan Lewat Udara

Selain pemetaan dampak bencana, survei udara juga menjadi bagian dari strategi distribusi bantuan kepada warga yang berada di wilayah sulit dijangkau.

BNPB menemukan sejumlah permukiman yang berada di puncak bukit dengan akses jalan darat yang terbatas. Kondisi tersebut membuat pengiriman bantuan menggunakan kendaraan roda empat, termasuk truk logistik, menjadi sulit dilakukan.

Karena itu, BNPB mulai memetakan titik-titik yang memungkinkan digunakan sebagai lokasi penurunan bantuan menggunakan helikopter.

“Kondisi seperti ini tentu cukup sulit jika dikejar dengan truk logistik atau mobil angkut yang membawa bantuan hingga 1 ton. Jadi untuk daerah-daerah ini akan kita optimalkan dengan dropping logistik via udara,” kata Abdul Muhari.

Strategi tersebut diharapkan mempercepat distribusi bantuan kepada masyarakat yang terisolasi atau tinggal jauh dari jalur transportasi utama.

Dampak Tsunami Dinilai Minor

Dari hasil pengamatan udara, BNPB menyebut dampak tsunami yang menyertai gempa M7,7 secara umum relatif terbatas.

“Sekali lagi dampak tsunami itu minor,” ujar Abdul Muhari.

Meski demikian, BNPB menemukan sejumlah titik yang secara geografis memiliki potensi memperkuat gelombang tsunami. Kondisi tersebut terutama terdapat pada wilayah dengan topografi berupa cekungan dan teluk yang memungkinkan terjadinya amplifikasi gelombang.

Dari hasil pengamatan, terdapat rumah-rumah di sejumlah lokasi pesisir yang berpotensi terkena landaan tsunami. Namun, dampaknya tidak terjadi secara luas pada kawasan permukiman.

“Yang sifatnya hamparan, kita melihat hanya di dua titik. Itu di posisi Riung dan perbatasan antara Riung dan Nagekeo,” jelas Abdul Muhari.

Menurutnya, wilayah hamparan yang terdampak tersebut sebagian dimanfaatkan masyarakat sebagai kawasan tambak. Dengan demikian, dampak langsung terhadap permukiman dan masyarakat relatif tidak signifikan.

Pemetaan Darat Akan Dilanjutkan

Gempa M7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) sebelumnya sempat memicu peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan hasil pemodelan. Namun, peringatan tersebut kemudian berakhir setelah evaluasi lebih lanjut.

BNPB akan memperkuat hasil survei udara dengan survei darat untuk memperoleh gambaran yang lebih detail mengenai kerusakan akibat gempa maupun dampak tsunami.

Selain mendokumentasikan kondisi wilayah dan kerusakan rumah, operasi udara juga akan dimanfaatkan untuk mendukung distribusi logistik ke lokasi yang tidak memungkinkan dijangkau kendaraan.

“Kami akan optimalkan operasi udara untuk dropping logistik sebagaimana yang kita lakukan di tempat-tempat lain di mana akses darat cukup sulit untuk dilakukan,” ujar Abdul Muhari.

Dengan kombinasi pemetaan udara dan survei darat, BNPB berharap kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak dapat dipetakan lebih akurat sekaligus memastikan bantuan menjangkau warga yang berada di kawasan terpencil dan sulit diakses.