Di Balik Sepiring Ayam dan Telur

0
39
ayam petelur
Hen, poultry industry. Free public domain CC0 photo. More: View public domain image source here

(Vibizmedia-Kolom) Pagi hari, ketika kota-kota Indonesia baru mulai bergerak, sebuah industri raksasa sebenarnya sudah bekerja sejak jauh sebelum matahari terbit. Di sebuah peternakan di Jawa Barat, suara mesin dan aktivitas kandang telah dimulai ketika sebagian besar orang masih tertidur. Pakan bergerak melalui jalur produksi, pekerja memeriksa kondisi ternak, telur dikumpulkan, sementara ayam-ayam pedaging tumbuh dalam sebuah sistem produksi yang nyaris tidak pernah berhenti. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada panggung besar. Namun dari tempat-tempat seperti inilah sebagian protein masyarakat Indonesia setiap hari dimulai.

Angka-angka Badan Pusat Statistik memperlihatkan ukuran sebenarnya dari dunia tersebut. Pada 2025 terdapat 858 perusahaan peternakan unggas berbadan hukum di Indonesia. Sebanyak 286 merupakan perusahaan pembibitan dan 572 bergerak dalam budidaya unggas. Jumlah itu memang turun dari 916 perusahaan pada 2024, atau berkurang 58 perusahaan. Penurunan terutama terjadi pada perusahaan budidaya yang berkurang 36 unit dan perusahaan pembibitan yang berkurang 22 unit.

Jawa menjadi jantung yang berdetak paling keras.

Jika industri unggas Indonesia dibayangkan sebagai sebuah jaringan kehidupan yang sangat besar, pusat gravitasinya berada di Pulau Jawa. Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah perusahaan unggas terbanyak, mencapai 242 unit. Setelah itu terdapat Banten dengan 147 perusahaan, Jawa Timur 115 perusahaan, dan Jawa Tengah 102 perusahaan. Empat provinsi ini saja menyumbang sekitar 70 persen perusahaan peternakan unggas Indonesia. Tiga puluh persen lainnya tersebar di 28 provinsi.

Di Jawa Barat, skala industrinya bahkan terlihat lebih jelas ketika perusahaan dipisahkan berdasarkan kegiatan. Terdapat 154 perusahaan budidaya unggas, terdiri dari 46 perusahaan ayam petelur, 93 perusahaan ayam pedaging, dan 15 perusahaan lainnya. Di sisi pembibitan, Jawa Barat memiliki 88 perusahaan, menjadikannya salah satu pusat terpenting dalam mata rantai pasokan unggas nasional.

Bayangkan rantai tersebut seperti sebuah sungai panjang. Di bagian hulu terdapat perusahaan pembibitan yang menghasilkan indukan dan DOC. Di bagian tengah terdapat perusahaan budidaya yang membesarkan unggas. Di bagian hilir, produk akhirnya masuk ke pasar sebagai ayam dan telur yang kemudian hadir di meja makan jutaan keluarga.

Yang terlihat sederhana di meja makan ternyata dibangun oleh ekosistem yang sangat kompleks.

Industri ini bukan hanya tentang ayam. Di belakangnya terdapat pekerja, pakan, obat-obatan, energi, kendaraan, kandang, mesin, lahan, pembiayaan, serta jaringan distribusi. BPS mencatat sebanyak 149.353 orang bekerja pada perusahaan peternakan unggas pada 2025. Sebanyak 88,16 persen merupakan pekerja tetap, sementara 95,17 persen pekerja adalah laki-laki.

Dengan demikian, setiap kandang sebenarnya adalah sebuah ruang ekonomi. Di dalamnya ada orang yang memberi makan ternak, membersihkan kandang, mengumpulkan telur, mengoperasikan mesin, menangani kesehatan unggas, mengelola administrasi, sampai memastikan produk dapat dipasarkan. Industri yang dari luar tampak hanya berisi ayam ternyata mempekerjakan manusia dalam jumlah sangat besar dengan fungsi yang berlapis-lapis.

Namun ada satu benda yang diam-diam menentukan hampir seluruh permainan: pakan.

Dalam struktur biaya perusahaan peternakan unggas, pakan menyerap 64,26 persen dari total pengeluaran. Upah pekerja berada pada posisi berikutnya dengan 10,41 persen, disusul pembelian DOC sebesar 9,81 persen. Obat-obatan menyumbang 4,16 persen, listrik dan air 3,48 persen, sedangkan BBM dan pelumas 3,94 persen.

Angka tersebut memberikan sebuah gambaran penting. Dalam bisnis unggas, ayam memang menjadi pusat perhatian, tetapi secara ekonomi pakan adalah salah satu pusat gravitasi yang menentukan biaya produksi. Ketika harga bahan baku pakan bergerak, dampaknya dapat menjalar ke seluruh rantai usaha.

Karena itu, peternakan unggas bukan sekadar persoalan berapa banyak ayam yang dapat dipelihara. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah berapa biaya untuk membuat seekor ayam tumbuh, seberapa efisien pakan dikonversikan menjadi berat badan atau telur, dan berapa harga produk ketika akhirnya mencapai pasar.

Di sinilah angka populasi mulai berbicara tentang skala.

Pada 31 Desember 2025, perusahaan peternakan unggas mengelola 45,74 juta ayam bibit petelur dan 29,42 juta ayam bibit pedaging. Sementara itu, final stock ayam ras petelur mencapai 37,68 juta ekor. Angka-angka tersebut menggambarkan sebuah industri dengan basis biologis yang sangat besar, sekaligus menunjukkan bagaimana produksi daging dan telur bergantung pada sistem pembibitan yang terorganisasi.

Tetapi populasi bukanlah akhir cerita. Yang jauh lebih menarik adalah apa yang keluar dari sistem tersebut.Pada 2025, produksi unggas potong perusahaan peternakan meningkat tajam. Dari 230,62 juta ekor pada 2024, produksi naik menjadi 303,25 juta ekor pada 2025. Nilai produksinya melonjak dari Rp6,92 triliun menjadi Rp11,08 triliun. Secara volume, kenaikannya mencapai 31,49 persen.

Namun pada saat yang sama, cerita telur bergerak ke arah berbeda.Produksi telur konsumsi turun 25,05 persen. Dari 485.603 ton pada 2024, produksinya turun menjadi 363.959 ton pada 2025. Nilai produksinya juga turun, dari Rp9,55 triliun menjadi Rp9,09 triliun.

Dua angka tersebut seperti dua arus yang bergerak berlawanan. Produksi unggas potong meningkat, sementara produksi telur konsumsi menurun. Ini menunjukkan bahwa industri unggas tidak bergerak sebagai satu blok yang seragam. Di dalamnya terdapat segmen-segmen dengan dinamika produksi dan ekonomi yang berbeda.

Dan kemudian muncul angka yang mungkin paling menarik bagi dunia bisnis: Rp49,82 triliun.

Itulah total pemasukan perusahaan peternakan unggas pada 2025 menurut BPS. Sementara total pengeluaran mencapai Rp25,31 triliun. Secara agregat, terdapat selisih positif antara pemasukan dan pengeluaran yang menunjukkan profitabilitas sektor tersebut.

Tetapi angka tersebut sebaiknya tidak dibaca sebagai gambaran bahwa setiap perusahaan pasti memperoleh keuntungan dengan tingkat yang sama. Industri ini memiliki perusahaan dengan skala, jenis kegiatan, struktur biaya, produktivitas, dan kondisi pasar yang berbeda. Yang terlihat dari data nasional adalah bahwa secara keseluruhan aktivitas perusahaan unggas menghasilkan nilai ekonomi yang besar dan menciptakan selisih positif.

Di balik angka Rp49,82 triliun itu, modal domestik masih menjadi pemeran utama.

Dari 858 perusahaan, 769 merupakan perusahaan dengan status penanaman modal dalam negeri atau PMDN. Sementara perusahaan dengan penanaman modal asing berjumlah 89 unit. Artinya, sekitar 89,63 persen perusahaan berada dalam kategori PMDN, sedangkan PMA sekitar 10,37 persen.

Ini memberi warna tersendiri pada industri unggas Indonesia. Pertumbuhan sektor tersebut sebagian besar tidak digerakkan oleh modal asing, melainkan oleh perusahaan domestik. Industri ini tumbuh dari jaringan pelaku usaha yang sebagian besar berakar di dalam negeri.Bentuk kelembagaannya pun sangat jelas. Sebanyak 837 dari 858 perusahaan berbentuk PT, CV, atau firma. Hanya empat yang merupakan BUMN, sementara sembilan berbentuk koperasi dan delapan berbentuk yayasan.

Jika kita mundur beberapa langkah, gambarnya menjadi lebih besar.

Industri unggas sebenarnya merupakan salah satu infrastruktur pangan Indonesia. Ia tidak dibangun dari beton dan baja seperti jalan tol atau pelabuhan, tetapi dari populasi biologis yang harus terus tumbuh, diberi makan, dijaga kesehatannya, dipanen, dan digantikan oleh generasi berikutnya.

Karena itu, satu kandang kosong bukan sekadar ruang kosong. Ia bisa berarti kapasitas produksi yang hilang. Sebaliknya, satu sistem pembibitan yang efisien dapat menjadi awal dari jutaan ekor unggas yang kemudian masuk ke rantai makanan nasional.

BPS sendiri menempatkan statistik unggas dalam konteks ketahanan pangan, terutama penyediaan protein hewani. Perusahaan peternakan unggas dipandang memiliki peran signifikan sebagai produsen utama daging ayam dan telur, yang merupakan sumber protein penting bagi masyarakat.

Maka kisah tentang ayam dan telur sebenarnya adalah kisah tentang ekonomi Indonesia.

Ia berbicara tentang investasi ketika perusahaan membangun kandang dan fasilitas produksi. Ia berbicara tentang pekerjaan ketika 149 ribu lebih orang datang setiap hari untuk menjalankan sistem tersebut. Ia berbicara tentang perdagangan ketika ayam dan telur bergerak dari sentra produksi menuju konsumen. Ia berbicara tentang biaya ketika pakan menyerap hampir dua pertiga struktur pengeluaran. Dan ia berbicara tentang ketahanan pangan ketika produk-produk tersebut akhirnya hadir di meja makan.

Pada suatu pagi, seorang konsumen mungkin hanya melihat sebungkus ayam atau beberapa butir telur di pasar. Harganya mungkin naik atau turun beberapa ribu rupiah. Tetapi di balik benda sederhana itu terdapat 858 perusahaan, puluhan juta ekor unggas, ratusan juta ekor produksi, lebih dari seratus ribu pekerja, serta puluhan triliun rupiah yang berputar di dalam sebuah ekosistem ekonomi.

Itulah wajah industri unggas Indonesia pada 2025, sebuah dunia yang hampir tidak terlihat dari luar, tetapi bekerja setiap hari untuk memastikan bahwa ketika masyarakat membuka pintu kulkas, pergi ke pasar, atau duduk di meja makan, sumber protein yang sederhana itu tetap tersedia.Dan mungkin justru di situlah kekuatan industri ini berada. Ia tidak selalu terlihat, tetapi hampir selalu hadir.