10 Kota dengan Kualitas Hidup Terendah di Indonesia

0
189
kota
Revitalisasi Pasar Amahami di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. FOTO : SETPRES

(Vibizmedia-Kolom)  Tidak semua kota di Indonesia menikmati kualitas hidup yang sama. Sejumlah kota masih menghadapi pekerjaan besar dalam memperkuat pendidikan, kesehatan dan kemampuan ekonomi masyarakat.

Kota sering kali identik dengan pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, pemerintahan dan berbagai fasilitas publik. Namun, status sebagai kota tidak otomatis membuat kualitas hidup penduduknya lebih tinggi. Data pembangunan manusia 2025 menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antarkota di Indonesia. Pada satu sisi terdapat kota dengan capaian mendekati 90, tetapi di sisi lain masih ada kota yang angkanya berada pada kisaran 70-an. BPS mencatat angka nasional pada 2025 mencapai 75,90, dengan perbaikan pada dimensi kesehatan, pendidikan dan standar hidup layak.

Jika perhatian diarahkan khusus kepada wilayah yang berstatus kota, daerah dengan capaian relatif rendah banyak ditemukan di kawasan Indonesia bagian barat hingga timur. Kondisi tersebut tidak berarti kehidupan masyarakat di kota-kota tersebut secara keseluruhan buruk. Sebaliknya, angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran bahwa masih terdapat ruang pembangunan yang cukup besar dibandingkan kota-kota yang telah memiliki fasilitas pendidikan, kesehatan dan aktivitas ekonomi yang lebih maju.

1. Kota Subulussalam

Kota Subulussalam di Aceh berada di antara kota dengan capaian kualitas hidup paling rendah di Indonesia. Pada 2025, nilainya tercatat 71,63, jauh di bawah capaian Kota Banda Aceh yang mencapai 89,55. BPS mencatat perbedaan yang cukup lebar di antara kota-kota Aceh tersebut.

Posisi Subulussalam menunjukkan bahwa ukuran kota tidak selalu sejalan dengan kualitas pembangunan manusia. Kota yang berada di kawasan relatif jauh dari pusat pertumbuhan provinsi harus menghadapi tantangan dalam memperluas akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan serta kesempatan ekonomi. Peningkatan kualitas infrastruktur dasar dan penciptaan kegiatan ekonomi yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat menjadi bagian penting dari agenda pembangunan kota ini.

2. Kota Gunungsitoli

Kota Gunungsitoli di Kepulauan Nias mencatat angka 73,29 pada 2025. Angka tersebut merupakan yang terendah di antara kota-kota di Sumatera Utara. Sebagai pembanding, Kota Medan mencapai 83,74, sedangkan Kota Pematangsiantar mencapai 81,71.

Kesenjangan tersebut memperlihatkan perbedaan karakter pembangunan antara pusat metropolitan dan wilayah kepulauan. Gunungsitoli memiliki tantangan geografis yang tidak sama dengan kota-kota besar di daratan Sumatera. Akses, konektivitas, biaya distribusi dan kesempatan kerja menjadi faktor yang ikut menentukan kemampuan masyarakat meningkatkan standar hidup.

3. Kota Serang

Kota Serang merupakan ibu kota Provinsi Banten, tetapi kualitas hidup masyarakatnya masih berada di bawah sejumlah kota besar lainnya di Pulau Jawa. Pada 2025, capaian kota ini berada di kisaran 77,50 berdasarkan evaluasi pemerintah daerah. Angka tersebut memang telah meningkat dan bahkan melampaui target yang ditetapkan.

Serang memiliki posisi strategis karena berada di kawasan yang terhubung dengan Jakarta dan koridor industri Banten. Namun, kedekatan geografis dengan pusat ekonomi nasional tidak otomatis menghilangkan persoalan pendidikan dan kualitas pekerjaan. Tantangan Serang adalah memastikan pertumbuhan sektor perdagangan, jasa dan industri benar-benar meningkatkan kualitas hidup penduduk lokal.

4. Kota Bima

Kota Bima merupakan salah satu kota dengan capaian relatif lebih rendah dibandingkan kota-kota besar Indonesia. Pada 2025, angkanya mencapai sekitar 79,41, melanjutkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data BPS menunjukkan angka tersebut naik dari 78,91 pada 2024.

Bima memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan pelayanan bagi wilayah timur Pulau Sumbawa. Namun, skala ekonominya masih jauh lebih kecil dibandingkan kota metropolitan. Tantangan pembangunan terletak pada bagaimana perdagangan, pertanian, jasa dan kegiatan ekonomi lokal dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar sehingga pendapatan masyarakat ikut meningkat.

5. Kota Baubau

Kota Baubau menjadi pusat kegiatan ekonomi penting di kawasan kepulauan Sulawesi Tenggara. Pada data terbaru yang tersedia, capaian kota ini berada di sekitar 80 poin, dengan nilai 79,61 pada 2024. BPS memasukkan Baubau dalam kategori tinggi, tetapi posisinya tetap berada cukup jauh di bawah Kota Kendari yang telah mencapai kategori sangat tinggi.

Perbedaan antara Baubau dan Kendari menggambarkan bagaimana konsentrasi fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan ekonomi dapat memengaruhi kualitas hidup. Baubau memiliki keunggulan sebagai kota perdagangan dan pintu gerbang wilayah kepulauan, tetapi perlu memperbesar aktivitas ekonomi bernilai tambah agar manfaat pertumbuhan semakin luas.

6. Kota Tual

Kota Tual di Maluku juga menghadapi tantangan pembangunan yang khas sebagai kota kepulauan. Letaknya yang berada di kawasan timur Indonesia membuat konektivitas dan biaya pelayanan publik menjadi persoalan penting. BPS Kota Tual secara khusus menerbitkan statistik pembangunan manusia untuk memantau perkembangan kesehatan, pendidikan dan standar hidup masyarakatnya.

Kualitas hidup di kota kepulauan sangat dipengaruhi oleh akses. Sekolah, fasilitas kesehatan, pasar dan lapangan kerja tidak hanya harus tersedia, tetapi juga harus dapat dijangkau masyarakat dengan biaya yang masuk akal. Karena itu, pembangunan konektivitas dan penguatan ekonomi lokal menjadi sangat penting bagi Tual.

7. Kota Tidore Kepulauan

Tidore Kepulauan memiliki karakter geografis yang berbeda dari kebanyakan kota di Indonesia karena wilayahnya mencakup kawasan kepulauan. BPS menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu ukuran penting untuk melihat perkembangan kualitas kehidupan penduduk kota ini, dengan tiga dimensi utama berupa kesehatan, pengetahuan dan standar hidup layak.

Tantangan Tidore bukan semata-mata meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi memastikan bahwa perkembangan ekonomi tersebut menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah kepulauan. Ketersediaan transportasi, pendidikan, fasilitas kesehatan dan akses pasar menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari strategi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

8. Kota Sorong

Kota Sorong mempunyai posisi yang berbeda karena merupakan salah satu pusat ekonomi penting di Tanah Papua. Kota ini menjadi pintu masuk perdagangan, jasa dan mobilitas manusia untuk kawasan Papua Barat Daya. Namun, pertumbuhan ekonomi dan peran strategis tersebut masih harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sorong memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat jasa, perdagangan, logistik dan ekonomi regional. Tantangannya adalah memastikan manfaat posisi strategis tersebut tidak hanya terkonsentrasi pada aktivitas perdagangan, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat.

9. Kota Banjar

Kota Banjar di Jawa Barat menunjukkan bahwa persoalan kualitas hidup tidak hanya ditemukan di wilayah Indonesia timur. Kota kecil di kawasan Priangan Timur ini memiliki tantangan untuk meningkatkan daya saing ekonominya di tengah keterbatasan skala pasar dan aktivitas industri.

Posisi Banjar yang berada pada jalur penghubung Jawa Barat dan Jawa Tengah memberikan keuntungan geografis. Namun, keuntungan tersebut perlu diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang menghasilkan lapangan kerja produktif. Penguatan perdagangan, jasa, pariwisata dan usaha mikro dapat menjadi bagian dari strategi agar pertumbuhan ekonomi lebih cepat diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan.

10. Kota Palangka Raya

Palangka Raya memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kota-kota lain dalam daftar ini. Sebagai ibu kota Kalimantan Tengah, kota tersebut memiliki fungsi pemerintahan dan pelayanan regional yang cukup kuat. Namun, tantangan pembangunan tetap muncul terutama dalam memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan pemerataan layanan di wilayah perkotaan yang sangat luas.

Kota ini sebenarnya mempunyai modal ekonomi yang cukup besar melalui sektor jasa, perdagangan, pemerintahan serta potensi pengembangan kawasan baru. Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja menjadi penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan aktivitas perdagangan, tetapi juga menciptakan pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang lebih tinggi.

Jika daftar tersebut dilihat secara lebih luas, terdapat satu pola penting. Kota-kota dengan capaian kualitas hidup relatif rendah tidak selalu merupakan kota yang ekonominya paling lemah. Beberapa justru mempunyai posisi strategis sebagai pusat perdagangan, pemerintahan atau pintu gerbang regional. Persoalannya adalah bagaimana aktivitas ekonomi tersebut dikonversikan menjadi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Faktor geografis juga sangat berpengaruh. Gunungsitoli, Tual dan Tidore Kepulauan memiliki karakter kepulauan yang membuat penyediaan layanan publik menghadapi persoalan konektivitas dan biaya. Subulussalam menghadapi tantangan sebagai kota yang relatif jauh dari pusat metropolitan. Sementara Bima, Baubau dan Sorong memiliki peluang besar sebagai pusat ekonomi regional tetapi membutuhkan peningkatan produktivitas agar pertumbuhan ekonomi menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Pendidikan menjadi salah satu persoalan yang paling penting. Kota dengan akses perguruan tinggi, sekolah berkualitas dan kesempatan memperoleh keterampilan biasanya mempunyai kemampuan lebih besar untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Sebaliknya, ketika pendidikan tertinggal, ekonomi kota cenderung bertumpu pada kegiatan berproduktivitas rendah dan sulit menghasilkan kenaikan pendapatan yang cepat.

Hal yang sama berlaku untuk kesehatan. Kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat hidup sehat dan memperoleh layanan kesehatan ketika membutuhkan. Karena itu, pembangunan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan, sanitasi, air bersih dan lingkungan yang sehat tetap menjadi fondasi penting bagi kota-kota dengan capaian relatif rendah.

Dimensi ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Peningkatan pengeluaran masyarakat yang mencerminkan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup merupakan bagian penting dari pembangunan manusia. Kota yang mampu menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas UMKM, menarik investasi dan mengembangkan sektor ekonomi baru memiliki peluang lebih besar untuk memperbaiki kualitas hidup penduduknya.

Dengan demikian, daftar sepuluh kota ini sebaiknya tidak dipahami sebagai daftar kota yang gagal. Justru sebaliknya, kota-kota tersebut menunjukkan ruang perbaikan yang paling besar. Ketika pendidikan diperluas, layanan kesehatan diperkuat, konektivitas diperbaiki dan ekonomi lokal menghasilkan pekerjaan yang lebih produktif, kualitas hidup masyarakat dapat meningkat secara signifikan.

Indonesia sendiri mengalami peningkatan capaian pembangunan manusia pada 2025 menjadi 75,90. BPS menyebut perbaikan terjadi pada seluruh dimensi, termasuk kesehatan, pendidikan dan standar hidup layak. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan tersebut tidak hanya terjadi di kota-kota yang sudah maju, tetapi juga menjangkau kota-kota yang masih tertinggal.

Ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa banyak pusat perdagangan dibangun atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya. Kota yang benar-benar berkembang adalah kota yang mampu membuat penduduknya hidup lebih sehat, memperoleh pendidikan lebih baik, mendapatkan pekerjaan yang layak dan memiliki kemampuan ekonomi yang semakin kuat. Di situlah kualitas pembangunan kota benar-benar terlihat.