Operator Bus Menjerit, Solar Langka Lagi di Sejumlah Wilayah Indonesia

0
199
Solar
Solar. DOK: ASTRA OTO SHOP

(Vibizmedia-Nasional) Operator bus umum di Indonesia kembali menghadapi persoalan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Kondisi tersebut mulai dirasakan di sejumlah wilayah dan berpotensi mengganggu operasional angkutan darat.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, sejauh ini jadwal operasional bus belum terganggu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. Justru, persoalan yang lebih dikhawatirkan operator adalah sulitnya mendapatkan solar.

“Sejauh ini jadwal kami (operator bus) belum terganggu oleh terjadinya erupsi Anak Krakatau, (malah) yang mengganggu karena masih sulitnya BBM jenis solar di seantero Indonesia,” ujar Kurnia Lesani Adnan melalui pesan singkat.

Menurut pria yang akrab disapa Sani tersebut, kesulitan mendapatkan solar tidak hanya terjadi di daerah. Kondisi serupa mulai dirasakan di Pulau Jawa yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.

“Saat ini, kesulitan BBM solar didapati di SPBU daerah-daerah, bahkan di Pulau Jawa pun mulai sulit setelah beberapa saat yang lalu ‘agak’ kondusif,” katanya.

Kelangkaan solar sebelumnya juga pernah terjadi dan menyebabkan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap waktu perjalanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan keselamatan.

Sani mengingatkan, pengemudi maupun awak bus yang harus mengantre BBM selama berjam-jam, bahkan semalaman, berisiko mengalami kelelahan akibat kurang istirahat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kecelakaan karena pengemudi tetap dituntut menjalankan perjalanan setelah menghabiskan waktu panjang untuk mendapatkan bahan bakar.

“Ini juga yang bisa dijadikan alasan oknum pada saat kecelakaan, kelelahan karena antre BBM berjam-jam bahkan semalaman menyebabkan kurang istirahat,” ungkap Sani.

Persoalan tidak berhenti pada keselamatan pengemudi. Antrean panjang untuk mendapatkan solar juga dapat mengganggu jadwal perawatan kendaraan.

Bus yang seharusnya menjalani pemeriksaan dan perawatan berkala berpotensi kembali beroperasi karena harus segera melayani penumpang. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap kesiapan kendaraan di tengah tingginya kebutuhan transportasi masyarakat.

Di sisi lain, jadwal keberangkatan dan kedatangan bus juga ikut terancam terganggu. Keluhan penumpang mengenai keterlambatan perjalanan bahkan mulai bermunculan di media sosial.

Sani mengatakan, sejumlah keluhan tersebut muncul karena bus harus mengantre BBM dengan waktu yang tidak dapat dipastikan.

Bagi operator, kondisi ini menjadi persoalan serius karena ketepatan waktu merupakan salah satu faktor penting dalam layanan transportasi umum.

Jika kelangkaan solar terus berlangsung, dampaknya bukan hanya dirasakan operator, tetapi juga merembet kepada penumpang melalui keterlambatan perjalanan, terganggunya jadwal operasional, hingga potensi meningkatnya risiko keselamatan.

Karena itu, operator bus berharap ketersediaan solar dapat kembali normal sehingga kegiatan operasional angkutan umum tidak semakin terganggu.