IA-CEPA Ditinjau Ulang, Indonesia Dorong Penguatan Industri dan Rantai Pasok

0
357
Indonesia-Australia Mulai Reviu IA-CEPA Melbourne, Australia, Rabu, 26 Agustus 2026 (Foto: Kemendag)

(Vibizmedia – Industry) Indonesia dan Australia mulai meninjau kembali pelaksanaan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), dengan mendorong kerja sama yang lebih kuat di sektor industri, investasi, jasa, dan rantai pasok global.

Langkah tersebut ditandai dengan pertukaran Stage One Report atau National Report kedua negara di Canberra, Australia, pada 27 Agustus 2026.

Laporan ini menjadi pijakan untuk mengevaluasi implementasi IA-CEPA selama lima tahun pertama sekaligus mengidentifikasi peluang pengembangan kerja sama ekonomi ke depan.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI Johni Martha mendorong agar pengembangan IA-CEPA selanjutnya menggunakan pendekatan powerhouse. Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara, tidak hanya melalui perdagangan barang, tetapi juga investasi, jasa, dan integrasi dalam rantai pasok global.

“Kerja sama selanjutnya perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan perdagangan, tetapi juga investasi, jasa, dan keterhubungan dalam rantai pasok global,” ujar Johni.

Pada Januari–Juli 2026, total perdagangan kedua negara mencapai USD 8,92 miliar, dengan ekspor Indonesia USD 2,1 miliar dan impor USD 6,8 miliar. Kerjasama ini menjadi penting di tengah masih lebarnya defisit perdagangan Indonesia dengan Australia.

Dari sisi industri, ekspor Indonesia ke Australia antara lain ditopang mesin dan peralatan listrik, mesin dan pesawat mekanik, bahan kimia anorganik, produk besi dan baja, serta alas kaki. Sementara impor didominasi gandum-ganduman, bahan bakar mineral, bijih dan abu logam, perhiasan dan permata, serta hewan hidup.

Karena itu, tinjauan IA-CEPA membuka ruang untuk memperluas kerja sama dari sekadar perdagangan komoditas menuju penguatan kapasitas industri dan nilai tambah. Isu mineral kritis, ekonomi digital, lingkungan, dan ketahanan pangan juga mulai mendapat perhatian sebagai area kerja sama baru.

Australia menilai hubungan ekonomi dengan Indonesia perlu dilihat lebih luas, termasuk dari keterkaitan rantai pasok dan manfaat ekonomi yang tercipta.

Selanjutnya, kedua negara akan menyusun Stage Two Report atau Joint Report untuk mengidentifikasi kesamaan hasil evaluasi dan peluang memodernisasi IA-CEPA.

Dengan total perdagangan mencapai USD 13,09 miliar pada 2025, momentum tinjauan ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi industri nasional sekaligus mendorong ekspor bernilai tambah ke pasar Australia.