IN-Apps 2026 Dorong Aplikasi Indonesia Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Digital

0
126
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong penguatan industri aplikasi nasional melalui Indonesia Apps Summit (IN-Apps) 2026. Mengusung tema “Application as the New Engine of Growth”, forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 dan diarahkan untuk mempertemukan talenta, pelaku industri, investor, pemerintah, serta mitra internasional.

IN-Apps 2026 yang berlangsung pada 14–15 September 2026 di ICE BSD, Tangerang, tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan mengenai perkembangan teknologi. Forum ini juga menjadi ruang untuk membangun kolaborasi dan memperkuat ekosistem aplikasi Indonesia agar mampu menghasilkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan perkembangan industri aplikasi memiliki kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Menurutnya, semakin banyak aplikasi Indonesia yang mampu berkembang dan menembus pasar global, semakin besar pula peluang terciptanya investasi, lapangan kerja, serta peningkatan daya saing nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Ekraf memberikan IN-Apps Digital Award 2026 kepada 13 pegiat dan perusahaan aplikasi yang dinilai memiliki kontribusi melalui karya dan inovasi digital.

Penghargaan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap para inovator yang telah menghasilkan berbagai solusi digital bagi masyarakat. Menteri Ekraf menilai keberhasilan pengembangan subsektor aplikasi ke depan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah aplikasi yang lahir, tetapi juga dari kemampuan produk digital Indonesia untuk bertumbuh secara berkelanjutan dan bersaing di pasar internasional.

“Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan kepada para inovator yang telah menghadirkan solusi digital yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menginspirasi lahirnya inovasi berikutnya,” ujar Teuku Riefky.

Ia menambahkan, pemerintah berharap IN-Apps 2026 dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya lebih banyak kemitraan konkret, baik di dalam negeri maupun dengan jaringan internasional.

Investasi Ekraf dan Potensi Industri Aplikasi

Besarnya perhatian terhadap subsektor aplikasi tidak terlepas dari kontribusinya terhadap investasi ekonomi kreatif. Pada 2025, subsektor aplikasi tercatat menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp54,18 triliun, dari total investasi ekonomi kreatif yang mencapai Rp183,01 triliun. Pada periode yang sama, ekspor ekonomi kreatif Indonesia mencapai US$31,94 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif digital memiliki posisi yang semakin strategis. Aplikasi tidak lagi sekadar dipandang sebagai produk teknologi, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari infrastruktur kehidupan masyarakat sekaligus instrumen penciptaan nilai ekonomi.

Satu aplikasi yang berhasil tumbuh dapat melahirkan ekosistem yang lebih luas. Di dalamnya terdapat kebutuhan terhadap tenaga kerja digital, pengembang perangkat lunak, desainer, penyedia layanan teknologi, pemasaran, keamanan siber, hingga investor.

“Ketika sebuah aplikasi berkembang, yang tumbuh bukan hanya perusahaan tetapi juga lapangan kerja, investasi dan daya saing bangsa,” kata Teuku Riefky.

Karena itu, pengembangan industri aplikasi membutuhkan ekosistem yang memungkinkan inovasi bergerak dari tahap gagasan menuju produk yang dapat digunakan masyarakat dan memiliki daya saing komersial.

Pemerintah juga mendorong agar hubungan antara talenta, perusahaan rintisan, korporasi, investor, dan pemerintah semakin kuat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar inovasi digital tidak berhenti pada tahap prototipe atau ide, tetapi dapat berkembang menjadi solusi yang berkelanjutan.

Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Salah satu agenda penting dalam IN-Apps 2026 adalah penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Ekraf dan Sinar Mas Land mengenai dukungan pengembangan ekonomi kreatif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten.

Kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif digital membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas. Infrastruktur kawasan, akses terhadap teknologi, pendidikan, talenta, dunia usaha, hingga jejaring investasi perlu dibangun secara terintegrasi.

Selain agenda konferensi, IN-Apps 2026 juga menghadirkan area pameran di Nusantara Hall. Sebanyak 27 exhibitor berpartisipasi, terdiri atas perusahaan, institusi, serta peserta dari Ekraf Pavilion dan Malaysia Pavilion.

Kehadiran peserta dari dalam dan luar negeri membuka ruang bagi pelaku aplikasi Indonesia untuk memperluas jejaring, memperkenalkan produk, sekaligus melihat perkembangan pasar digital di kawasan.

Penghargaan untuk Beragam Inovasi Digital

IN-Apps Digital Award 2026 diberikan melalui proses kurasi yang melibatkan lima dewan juri. Penilaian dilakukan berdasarkan enam aspek untuk menentukan penerima penghargaan dalam 13 kategori.

Sejumlah perusahaan dan platform digital nasional menerima apresiasi dalam berbagai bidang. BCA Mobile memperoleh penghargaan untuk kategori Aplikasi Perbankan, sementara Sentuh Tanahku menjadi penerima kategori Aplikasi Pelayanan Publik.

Di sektor perdagangan digital, Shopee meraih penghargaan Aplikasi E-Commerce. Sementara itu, Halodoc memperoleh kategori Aplikasi Kesehatan Digital dan Dicoding untuk Aplikasi Pembelajaran Digital atau Ed-Tech. Kompas.com menerima penghargaan dalam kategori Aplikasi Media Online/Media Siber/Media Daring.

Untuk kategori perusahaan rintisan, Gojek dipilih sebagai Startup Mapan, sedangkan Rekosistem meraih kategori Startup New Rookie. GoPay menerima penghargaan untuk kategori Aplikasi Dompet Digital (E-Wallet)/Non-Perbankan.

Penghargaan lainnya diberikan kepada SatuSehat Mobile sebagai Aplikasi Pendukung Program Prioritas Nasional, Peris.ai untuk Platform Teknologi Keamanan Siber, serta Apple Inc. sebagai Perusahaan Global Pendukung Ekosistem Aplikasi Nasional.

Sementara OneSmile memperoleh penghargaan dalam kategori Private Sector Innovation/Corporate Smart Initiative/Commercial Solution Provider.

Beragamnya kategori tersebut menggambarkan luasnya ekosistem aplikasi yang kini bersinggungan dengan hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari keuangan, kesehatan, pendidikan, perdagangan, media, layanan publik hingga keamanan digital.

Pemerintah Dipandang Punya Peran Strategis

Dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri aplikasi juga mendapat respons positif dari pelaku industri. Head of Public Policy and Government Relations Gojek, Rangga D. Fadillah, menilai keterlibatan pemerintah dapat menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan industri digital.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan industri menjadi semakin relevan karena perkembangan ekonomi digital membutuhkan kebijakan, regulasi, serta ruang kerja sama yang mampu mengikuti perubahan teknologi.

“Kehadiran Kementerian Ekonomi Kreatif saya kira sangat positif, banyak sekali kegiatan-kegiatan yang kita lakukan bersama,” ujarnya.

Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena industri aplikasi bergerak dalam lingkungan yang berubah cepat. Perkembangan kecerdasan artifisial, cloud computing, keamanan siber, sistem pembayaran digital, serta teknologi data menciptakan peluang sekaligus tantangan baru bagi pengembang aplikasi.

Indonesia tidak hanya membutuhkan konsumen digital dalam jumlah besar, tetapi juga perlu memperkuat kapasitas untuk menghasilkan teknologi dan produk digital sendiri.

Membahas Masa Depan Ekosistem Aplikasi

IN-Apps 2026 berlangsung selama dua hari dengan rangkaian konferensi, keynote speech, dan talk show. Pada hari pertama, pembahasan diarahkan pada transformasi modern, konektivitas ekosistem digital, inovasi, pengembangan talenta, serta investasi lintas negara.

Sementara agenda hari kedua membahas perkembangan ekonomi digital, masa depan ekosistem aplikasi Indonesia, pengalaman pengguna, hingga penguatan keamanan dan privasi aplikasi digital.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan aplikasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan teknologi baru. Faktor lain seperti kualitas sumber daya manusia, pengalaman pengguna, perlindungan data, keamanan siber, akses pendanaan, dan kemampuan memasuki pasar global juga menjadi bagian penting dari rantai pertumbuhan industri.

Dalam konteks tersebut, tema “Application as the New Engine of Growth” memiliki makna yang lebih luas. Aplikasi dapat menjadi mesin pertumbuhan baru apabila Indonesia mampu menghubungkan inovasi dengan talenta, modal, pasar, infrastruktur, regulasi, dan kebutuhan masyarakat.

Dari Pasar Besar Menjadi Pemain Global

Indonesia memiliki basis pengguna digital yang besar dan pasar domestik yang luas. Kondisi ini menjadi modal penting bagi pertumbuhan perusahaan aplikasi. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikan skala pasar tersebut sebagai landasan untuk membangun perusahaan teknologi yang mampu berekspansi ke luar negeri.

Karena itu, agenda seperti IN-Apps 2026 tidak hanya penting sebagai forum promosi teknologi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kepercayaan dan jejaring antara pelaku ekosistem nasional dengan mitra global.

Jika kolaborasi tersebut dapat diperkuat, aplikasi Indonesia berpeluang berkembang dari sekadar solusi bagi pasar domestik menjadi produk yang mampu menjawab kebutuhan pasar regional dan internasional.

Pada akhirnya, keberhasilan industri aplikasi bukan hanya diukur dari berapa banyak aplikasi yang dibuat. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh inovasi tersebut mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan pekerjaan, menarik investasi, meningkatkan produktivitas, dan membawa karya digital Indonesia ke tingkat global.

IN-Apps 2026 menjadi salah satu upaya untuk membangun arah tersebut. Melalui pertemuan antara pemerintah, talenta, perusahaan, investor, dan mitra internasional, Indonesia berupaya menempatkan ekonomi kreatif digital sebagai salah satu kekuatan baru dalam pertumbuhan ekonomi nasional.