Art & Bali 2026 Buka Jalan Kreator Indonesia Menembus Jejaring Seni Global

0
75
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Bali) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) melihat seni bukan hanya sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai pintu masuk bagi talenta Indonesia untuk membangun jejaring, memperluas pasar, dan menciptakan nilai ekonomi di tingkat internasional.

Perspektif tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, pada 11–13 September 2026. Memasuki edisi keduanya, Art & Bali mempertemukan seniman, desainer, galeri, kolektor, komunitas, pelaku industri, dan publik dalam sebuah platform yang menghubungkan seni, desain, budaya, serta pasar.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar membuka rangkaian kegiatan tersebut. Ia menilai Indonesia memiliki modal kreativitas yang besar, tetapi kekuatan tersebut perlu dibawa keluar dari batas domestik agar dapat dikenal, diapresiasi, dan memiliki nilai ekonomi di pasar global.

“Indonesia memiliki kreativitas yang luar biasa, tetapi tidak cukup hanya berada di Indonesia. Kita membutuhkan platform internasional seperti hari ini karena seni adalah sesuatu yang mengikat orang-orang bersama,” ujar Irene saat membuka Art & Bali 2026, Jumat (11/9).

Bali sebagai Titik Temu Kreativitas

Mengusung tema “Bridging Dichotomies”, Art & Bali 2026 dirancang sebagai ruang yang mempertemukan berbagai kutub dalam ekosistem kreatif: tradisi dan teknologi, seni dan desain, budaya dan komersial, serta perspektif lokal dan global.

Konsep tersebut membuat Art & Bali tidak sekadar berfungsi sebagai pameran seni. Programnya mencakup art fair, pameran, instalasi, diskusi, lokakarya, pertunjukan, serta berbagai program publik. Penyelenggara juga mempertemukan karya dengan kolektor, institusi, komunitas, dan audiens yang lebih luas.

Pada edisi 2026, Art & Bali menghadirkan 23 galeri, museum, ruang seni, kolektif, dan studio kreatif dari Indonesia dan kawasan yang lebih luas. Platform ini juga mempertemukan lebih dari 300 seniman dengan publik dan pasar seni.

Kehadiran berbagai ruang seni dari Indonesia dan mancanegara memperlihatkan bahwa Bali tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai salah satu titik temu penting bagi pertukaran gagasan dan praktik seni kontemporer.

Mempertemukan Indonesia dan India melalui Seni

Salah satu program utama Art & Bali 2026 adalah “What The Body Remembers”, pameran unggulan yang mempertemukan seniman, desainer, dan maker dari Indonesia dan India.

Pameran tersebut mengeksplorasi bagaimana memori, pengetahuan, identitas, dan kebudayaan diwariskan melalui tubuh, tangan, material, teknik, serta proses berkarya. Seni kontemporer, fesyen, tekstil, kriya, dan budaya material ditempatkan dalam satu ruang dialog.

Pameran dikuratori oleh Bandana Tewari sebagai lead curator bersama Brina Paska sebagai assistant curator. Sebanyak 26 desainer, seniman, dan studio dari Indonesia dan India terlibat dalam program tersebut.

Bagi Indonesia, format seperti ini penting karena membuka ruang bagi karya lokal untuk berdialog langsung dengan praktik kreatif dari negara lain. Pertukaran tersebut tidak harus menghilangkan karakter budaya masing-masing. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika diterjemahkan menjadi karya yang memiliki relevansi universal.

Irene menekankan pentingnya kepercayaan diri para pelaku kreatif Indonesia dalam melihat kekayaan budaya sebagai aset yang dapat ditawarkan ke dunia.

“Pertama, kita harus lebih percaya diri dan mengakui bahwa apa yang kita miliki adalah sesuatu yang baik dan bisa kita tawarkan ke seluruh dunia. Kedua, bukan hanya membuat, tetapi juga memikirkan bagaimana karya itu bisa dikembangkan,” jelas Irene dalam sesi Nuanu Future Talks.

Dari Karya ke Ekosistem

Pesan tersebut memperlihatkan tantangan yang lebih besar bagi ekonomi kreatif Indonesia. Kreativitas saja tidak cukup apabila tidak diikuti kemampuan mengembangkan karya menjadi produk intelektual, membangun pasar, memperluas jaringan, dan menciptakan model bisnis yang berkelanjutan.

Karena itu, Art & Bali 2026 memiliki relevansi lebih luas daripada sekadar agenda seni. Kehadiran galeri, kolektor, desainer, institusi, komunitas, dan pelaku industri menciptakan ekosistem yang memungkinkan karya bertemu dengan pasar dan jejaring profesional.

Founding Director Art & Bali Kelsang Dolma mengatakan platform tersebut dibangun agar seni dapat diakses lebih luas, bukan hanya melalui galeri, tetapi juga dengan menghadirkan kolektif, organisasi, dan berbagai pihak yang mendukung perjalanan para seniman.

“Art & Bali kami bangun agar seni dapat diakses lebih luas. Bukan hanya melalui galeri, tetapi juga dengan menghadirkan kolektif, organisasi, dan berbagai pihak yang selama ini mendukung perjalanan para seniman,” ujarnya.

Pendekatan ini penting karena keberlanjutan profesi kreator tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan karya. Mereka juga membutuhkan akses terhadap audiens, kurator, kolektor, institusi, investor, pasar, serta jejaring kolaborasi.

Membahas Masa Depan Kota Kreatif

Dimensi pembangunan ekosistem kreatif juga menjadi pembahasan dalam Nuanu Future Talks bertajuk Where Are Next Creative Capitals?

Dalam forum tersebut, Irene Umar berdiskusi bersama Co-founder Jia CURATED Budiman Ong dan CEO Nuanu Creative City Lev Kroll. Kelsang Dolma menjadi moderator.

Diskusi membahas bagaimana sebuah kota dapat berkembang menjadi pusat kreativitas melalui ekosistem yang mendukung talenta, kolaborasi lintas sektor, investasi, serta infrastruktur kreatif.

Pertanyaan mengenai kota kreatif menjadi semakin relevan ketika persaingan ekonomi global tidak lagi hanya ditentukan oleh industri manufaktur atau teknologi. Kota-kota dengan kemampuan menarik talenta, menciptakan ruang eksperimen, membangun komunitas, dan menghubungkan kreativitas dengan pasar juga memiliki daya saing tersendiri.

Dalam konteks Indonesia, Bali memiliki modal yang kuat untuk memainkan peran tersebut. Reputasi internasional sebagai destinasi wisata dapat dipadukan dengan kekayaan budaya, komunitas kreatif, industri fesyen, desain, seni rupa, kriya, hingga ekonomi berbasis pengalaman.

Seni sebagai Bagian dari Ekonomi Kreatif

Art & Bali juga memperlihatkan bagaimana batas antara seni dan subsektor ekonomi kreatif lainnya semakin cair.

Tekstil dapat menjadi medium seni sekaligus bagian dari industri fesyen. Kriya dapat berkembang menjadi produk desain bernilai tinggi. Instalasi dapat menjadi pengalaman wisata. Sementara karya seni digital dapat membuka pasar baru melalui teknologi.

Program Art & Bali 2026 sendiri memperlihatkan keragaman tersebut. Selain art fair dan pameran unggulan, agenda di dalamnya mencakup pembahasan mengenai hubungan fesyen dan seni, kepemilikan budaya, masa depan material, seni digital, serta persoalan ekosistem seni kontemporer Indonesia.

Dengan demikian, pertemuan para kreator bukan hanya menghasilkan pertukaran gagasan, tetapi juga berpotensi membuka peluang kolaborasi lintas subsektor.

Memperkuat Posisi Indonesia di Pasar Global

Kementerian Ekraf memandang forum seperti Art & Bali sebagai salah satu cara untuk memperkuat daya saing talenta sekaligus kekayaan intelektual Indonesia.

Tantangannya adalah memastikan karya yang lahir dari kekayaan budaya Nusantara tidak berhenti sebagai produk lokal yang menarik bagi wisatawan. Karya tersebut perlu memiliki kemampuan untuk memasuki jaringan distribusi, koleksi, pameran, kolaborasi, dan pasar internasional.

Dalam konteks itu, kemampuan bercerita mengenai asal-usul, filosofi, material, teknik, serta nilai budaya menjadi bagian penting dari strategi membawa karya Indonesia ke dunia.

Art & Bali memberikan contoh bagaimana proses tersebut dapat dilakukan melalui pertemuan langsung antara kreator, kurator, galeri, kolektor, komunitas, dan publik internasional.

Pada akhirnya, “Bridging Dichotomies” bukan sekadar tema pameran. Ia menggambarkan kebutuhan ekonomi kreatif Indonesia untuk terus menjembatani berbagai batas: antara tradisi dan inovasi, antara karya dan pasar, antara talenta lokal dan jaringan global, serta antara ekspresi budaya dan penciptaan nilai ekonomi.

Melalui platform seperti Art & Bali 2026, Bali berpeluang semakin kuat sebagai salah satu simpul kreativitas Asia, sementara para pelaku kreatif Indonesia mendapatkan panggung untuk memperluas visibilitas, membangun jejaring internasional, dan mengembangkan karya menjadi aset ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Bagi Indonesia, langkah berikutnya bukan hanya memperbanyak karya kreatif, tetapi memastikan karya tersebut dikenal, dihargai, memiliki pasar, dan mampu bersaing di tingkat global.