6 Juta Konten Kuliner, TikTok Jadi Ruang Baru UMKM Memperluas Pasar

0
606
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor kuliner untuk terus mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan teknologi digital, memperkuat inovasi, dan memahami perubahan kebutuhan konsumen.

Pesan tersebut disampaikan Wamendag Roro saat membuka TikTok FoodFest 2026 di Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Roro, transformasi digital memberikan peluang besar bagi UMKM kuliner untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas jangkauan pasar. Namun, pemanfaatan teknologi perlu diikuti dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan membangun merek.

“Kami ingin mendorong UMKM kuliner lokal makin naik kelas, meningkatkan kualitas produk, memperkuat merek, memahami kebutuhan konsumen, serta memanfaatkan teknologi secara optimal dalam pengembangan usaha,” ujar Wamendag Roro.

Konten Digital Buka Akses Pasar Lebih Luas

Besarnya potensi pemasaran digital terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap konten kuliner di media sosial. Roro menyebut lebih dari 6 juta konten kuliner dengan tagar seperti #Kuliner dan #JajananTikTok telah membantu membuat berbagai produk makanan lokal dikenal luas dan menarik perhatian konsumen.

Menurutnya, ekosistem digital seperti TikTok telah berkembang menjadi salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun merek, sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya merayakan kekayaan kuliner Nusantara secara langsung, tetapi juga mendorong terciptanya kolaborasi dan peluang baru bagi pelaku usaha kuliner lokal,” katanya.

Pemanfaatan platform digital juga membuat hubungan antara pelaku usaha dan konsumen semakin interaktif. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan tertentu dapat memperoleh perhatian lebih luas melalui konten kreator, rekomendasi pengguna, hingga transaksi secara daring.

TikTok FoodFest Perkuat Ekosistem Kuliner

TikTok FoodFest 2026 digelar oleh TikTok Group Indonesia selama dua hari, 26–27 September 2026, di Hutan Kota GBK, Jakarta.

Festival tersebut dirancang sebagai ruang yang mempertemukan pelaku usaha kuliner, merek, kreator konten, dan konsumen dalam satu ekosistem. Pada penyelenggaraan tahun ini, TikTok FoodFest menghadirkan 25 merek dan 43 pelaku usaha kuliner, sekaligus melibatkan sejumlah kreator konten bidang makanan dan kuliner.

Kehadiran pelaku usaha secara langsung memberikan kesempatan bagi UMKM untuk tidak hanya mengandalkan kanal penjualan digital, tetapi juga berinteraksi langsung dengan konsumen. Festival juga menjadi sarana bagi pelaku usaha memperkenalkan produk, memperoleh respons konsumen, serta membangun jejaring dan peluang kolaborasi.

Head of Industry TikTok Indonesia, Zaheer Travadi, mengatakan sektor kuliner merupakan salah satu kekuatan ekonomi Indonesia yang terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan perekonomian nasional.

Menurutnya, perkembangan industri kuliner kini semakin erat dengan ekosistem digital. TikTok menjadi salah satu platform yang digunakan masyarakat untuk menemukan makanan, resep, rekomendasi kuliner, maupun produk baru.

“Dunia kuliner kini juga merambah ranah digital. Ia berkembang pesat di platform seperti TikTok, tempat para pengguna menyimpan resep-resep favorit. Selain itu, konten seputar makanan di TikTok tumbuh sebesar 52 persen dari tahun ke tahun,” ujar Zaheer.

Tidak Sekadar Menjual Rasa

Di tengah semakin ketatnya persaingan bisnis kuliner, Wamendag Roro mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya mengandalkan cita rasa produk.

Pelaku usaha perlu membangun identitas yang kuat melalui cerita di balik produk, kemasan, konten kreatif, hingga pengalaman konsumen ketika melakukan pembelian.

“Kenali konsumen, ikuti perkembangan tren dengan tetap mempertahankan identitas dan keunikan produk lokal yang menjadi kekuatan utama. Saat ini, konsumen tidak cuma membeli rasa, tetapi juga membeli cerita, pengalaman, dan nilai di balik sebuah produk,” tuturnya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan perilaku konsumen yang menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber informasi sebelum menentukan pilihan produk.

Karena itu, kemampuan membuat konten yang menarik perlu berjalan beriringan dengan kualitas produk, konsistensi merek, pelayanan, serta kemudahan transaksi.

Pengalaman UMKM Geroz

Salah satu UMKM yang berpartisipasi dalam TikTok FoodFest 2026 adalah Geroz, yang diwakili Nadya. Ia mengatakan Geroz kini telah memiliki 27 varian rasa camilan, dengan sebagian besar penjualannya dilakukan melalui kanal daring, termasuk TikTok Shop.

Menurut Nadya, keikutsertaan dalam festival menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih banyak pilihan produk Geroz kepada masyarakat sekaligus memperluas jalur pemasaran.

“Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkan lebih banyak produk kepada masyarakat dan memperluas saluran penjualan di luar platform daring,” ujar Nadya.

Bagi UMKM seperti Geroz, kehadiran dalam festival luring memberikan peluang untuk melengkapi strategi pemasaran digital. Interaksi langsung dengan konsumen dapat memberikan masukan mengenai selera, respons terhadap produk, serta membuka peluang penjualan dan kolaborasi baru.

Digitalisasi dan Inovasi Jadi Kunci

TikTok FoodFest 2026 memperlihatkan semakin kuatnya keterkaitan antara industri kuliner dan ekosistem digital. Bagi UMKM, platform digital tidak hanya berfungsi sebagai tempat memasarkan produk, tetapi juga sebagai ruang membangun merek, membaca tren, berinteraksi dengan konsumen, dan menciptakan komunitas.

Di sisi lain, festival seperti TikTok FoodFest memberikan dimensi luring melalui pengalaman mencicipi produk, bertemu langsung dengan pelaku usaha, serta mempertemukan UMKM dengan kreator dan konsumen.

Kombinasi antara inovasi produk, kekuatan cerita, pemasaran digital, interaksi langsung, dan kemudahan transaksi diharapkan dapat membantu UMKM kuliner memperkuat fondasi bisnis sekaligus memperluas pasar.

Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya menjadi sarana untuk membuat produk kuliner lokal viral, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan.