(Vibizmedia – Jakarta) Indonesia memperkuat hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pertukaran pengalaman dalam kerangka South-South and Triangular Cooperation (SSTC). Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan South-South and Triangular Cooperation on Trade and Investment Promotion for African Countries 2026 di Jakarta.
Program yang dibuka pada Senin (28/9/2026) di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), Jakarta, menjadi pelaksanaan kedua setelah program serupa digelar pada 2025. Kegiatan ini merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Sekretariat Negara dengan Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), serta melibatkan negara-negara mitra Afrika.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan perubahan lanskap perdagangan dunia membuat negara-negara membutuhkan institusi yang kuat sekaligus SDM yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan baru, termasuk restrukturisasi rantai pasok, digitalisasi, dan tuntutan keberlanjutan.
“Perubahan lanskap perdagangan global menuntut negara-negara memiliki institusi yang kuat serta SDM yang kompeten dan adaptif. Indonesia siap berbagi pengalaman dalam promosi perdagangan, pengembangan ekspor, fasilitasi perdagangan, perdagangan digital, internasionalisasi usaha kecil dan menengah (UKM), serta pengembangan SDM perdagangan,” ujar Djatmiko.
SSTC 2026, Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan
SSTC merupakan pendekatan kerja sama pembangunan yang menempatkan negara-negara berkembang sebagai mitra yang memiliki pengalaman dan pengetahuan untuk saling dipertukarkan. Dalam skema triangular cooperation ini, Indonesia dan Jepang berkolaborasi bersama negara-negara Afrika untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan SDM di bidang perdagangan serta investasi.
Karena itu, program SSTC 2026 tidak dirancang sebagai transfer pengetahuan satu arah. Peserta dari negara-negara Afrika juga membawa pengalaman, tantangan, dan pendekatan yang dapat dipelajari oleh mitra lainnya.
Konsep tersebut sekaligus meneruskan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menekankan solidaritas, kesetaraan, saling menghormati, serta kemakmuran bersama.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama mengatakan penyelenggaraan SSTC untuk kedua kalinya menunjukkan komitmen Indonesia dalam membangun kemitraan berkelanjutan dan memperkuat hubungan antarlembaga.
Menurutnya, pengalaman Indonesia tidak ditempatkan sebagai satu-satunya model yang harus diterapkan negara lain. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi referensi yang dapat dipertukarkan dengan pengalaman negara-negara Afrika sehingga masing-masing negara dapat mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Fokus pada Afrika Timur dan Integrasi Ekonomi
SSTC 2026 secara khusus memberikan perhatian kepada negara-negara Afrika Timur. Program ini mempertemukan pejabat pemerintah dari Ethiopia, Mozambik, Tanzania, Sudan Selatan, Somalia, dan Rwanda, serta dua pengamat dari East African Community (EAC) dan Sekretariat African Continental Free Trade Area (AfCFTA).
Fokus tersebut relevan dengan perkembangan integrasi ekonomi di Afrika melalui AfCFTA. Dalam program ini, Indonesia berbagi pengalaman mengenai proses integrasi ekonomi ASEAN, sekaligus mendorong peserta untuk melihat bagaimana pengalaman tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi di Afrika.
Djatmiko menekankan bahwa integrasi ekonomi regional tidak cukup hanya dibangun melalui kesepakatan perdagangan. Keberhasilannya juga membutuhkan institusi yang kuat, fasilitasi perdagangan yang efektif, dunia usaha yang kompetitif, kebijakan investasi yang mendukung, serta SDM yang memiliki kapasitas memadai.
Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) turut memberikan perspektif mengenai pengalaman ASEAN. Presiden ERIA Tetsuya Watanabe menyoroti pentingnya menerjemahkan komitmen integrasi regional menjadi manfaat nyata bagi dunia usaha dan masyarakat.
ERIA juga berbagi pengalaman ASEAN dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga peserta Afrika dapat melihat kemungkinan penerapannya sesuai karakteristik perekonomian masing-masing.
Berangkat dari Kerja Sama Indonesia-Jepang
SSTC 2026 merupakan salah satu implementasi Memorandum of Cooperation (MoC) antara JICA dan Kementerian Luar Negeri RI yang ditandatangani dalam Indonesia-Africa Forum pada September 2024.
Kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan kapasitas di kawasan Afrika melalui kemitraan Indonesia dan Jepang. Kerangka ini mencakup sejumlah bidang, termasuk kesehatan, energi, perdagangan, dan ketahanan pangan.
Untuk sektor perdagangan dan investasi, program SSTC memberikan ruang bagi Indonesia untuk berbagi pengalaman mengenai promosi perdagangan, pengembangan ekspor, fasilitasi perdagangan, perdagangan digital, internasionalisasi UKM, serta pengembangan SDM perdagangan.
JICA sendiri memiliki sejarah panjang dalam mendukung pengembangan SDM perdagangan Indonesia. Dukungan kepada PPEJP dan lembaga pendahulunya, Indonesia Export Training Center (IETC), telah berlangsung sejak 1986 melalui hibah Official Development Assistance (ODA) dan berbagai proyek kerja sama teknis.
Menurut Kepala Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko, pelaksanaan 2026 merupakan kelanjutan dari program 2025. Hasil dan pembelajaran dari program pertama bahkan telah dipresentasikan dalam Tokyo International Conference on African Development (TICAD-9) pada Agustus 2025.
Peluang Memperluas Hubungan Ekonomi Indonesia-Afrika
Indonesia melihat Afrika sebagai kawasan yang memiliki potensi besar dari sisi jumlah penduduk, perdagangan, investasi, maupun sumber daya alam.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan total perdagangan Indonesia dengan Afrika mencapai USD 13,7 miliar pada 2023. Sementara itu, Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 yang berlangsung di Bali pada 2024 menghasilkan kesepakatan bisnis senilai USD 3,5 miliar, meningkat dibandingkan USD 568 juta pada IAF 2018.
Hubungan perdagangan juga didukung oleh keberadaan sejumlah perwakilan perdagangan Indonesia di Afrika, antara lain Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Johannesburg, ITPC Lagos, serta Atase Perdagangan RI Kairo.
Berbagai produk Indonesia telah memasuki pasar Afrika, mulai dari makanan, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, kertas, hingga produk otomotif.
Melalui SSTC, pemerintah berharap peningkatan kapasitas SDM dapat berjalan seiring dengan perluasan hubungan bisnis dan kelembagaan sehingga kerja sama Indonesia-Afrika tidak hanya berkembang dalam bentuk perdagangan, tetapi juga investasi dan kolaborasi jangka panjang.
Pembelajaran Teori hingga Kunjungan Lapangan
Program SSTC 2026 berlangsung pada 27 September hingga 8 Oktober 2026 di Jakarta. Pembelajaran dirancang dengan memadukan materi teori dan praktik.
Peserta mendapatkan materi mengenai perjanjian dan negosiasi perdagangan internasional, kerja sama ekonomi ASEAN, promosi ekspor, pengembangan UKM, pemasaran digital, kebijakan investasi, hingga perizinan berusaha.
Untuk memberikan pemahaman yang lebih konkret, peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah institusi dan pelaku usaha, antara lain PT Indofood, Permanent Trade Exhibition Kementerian Perdagangan, Sekretariat ASEAN, ERIA, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi.
Kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung praktik promosi perdagangan, fasilitasi investasi, kerja sama ekonomi regional, serta pengembangan UMKM.
Salah satu peserta, Lulla Kabijukya Ali, Inspector for Market Infrastructure Development pada Ministry of Trade and Industry, South Sudan, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan untuk mempelajari pengalaman Indonesia secara langsung.
“Saya antusias mengikuti program ini dan yakin akan memperoleh banyak pembelajaran dari pengalaman Indonesia. Saya menantikan rangkaian pelatihan selanjutnya dan berharap dapat membawa pengetahuan yang saya peroleh untuk diterapkan ketika kembali ke negara saya,” ujar Lulla.
Ditargetkan Menghasilkan Aksi Nyata
Salah satu karakteristik SSTC 2026 adalah orientasinya pada keberlanjutan setelah program pelatihan selesai. Peserta tidak hanya mengikuti kelas dan kunjungan lapangan, tetapi juga diwajibkan menyusun serta mempresentasikan action plan.
Rencana aksi tersebut diharapkan menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan ke dalam langkah yang relevan dengan kebutuhan masing-masing negara.
Djatmiko menegaskan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari proses pembelajaran di ruang pelatihan. Dampak yang diharapkan mencakup terbentuknya jejaring kelembagaan, pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan, kerja sama teknis lanjutan, serta hasil konkret yang dapat diukur melalui rencana aksi peserta.
Dengan pendekatan tersebut, SSTC 2026 diarahkan bukan hanya menjadi forum pelatihan, tetapi juga sarana membangun hubungan jangka panjang antara Indonesia, Jepang, dan negara-negara Afrika melalui perdagangan, investasi, pengembangan SDM, dan kerja sama kelembagaan.
Program ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman Indonesia dalam membangun integrasi ekonomi ASEAN dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi negara-negara Afrika, sementara Indonesia dan Jepang juga memperoleh kesempatan untuk memahami pengalaman serta kebutuhan negara-negara Afrika dalam menghadapi perubahan ekonomi global.
Tambahan konteks terpenting dari informasi terbaru adalah bahwa SSTC 2026 merupakan kelanjutan konkret dari program 2025, bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Program ini juga merupakan bagian dari implementasi MoC JICA–Kementerian Luar Negeri RI 2024, dengan pendekatan triangular yang menggabungkan pengalaman Indonesia dan Jepang bersama kebutuhan negara-negara Afrika.
Selain itu, ada sedikit perbedaan daftar peserta antara sumber Kemendag/BPSDMP dan ERIA. Untuk artikel berita, saya menggunakan daftar enam negara peserta yang disebut dalam siaran resmi Kemendag: Ethiopia, Mozambik, Tanzania, Sudan Selatan, Somalia, dan Rwanda, ditambah dua pengamat dari EAC dan AfCFTA Secretariat.









