Cimory Ditantang Produksi Keju Khas Indonesia, Impor Susu Masih 80%

0
125
Keju
DOK: PERFECTO CHEESE

(Vibizmedia-Nasional) Industri pengolahan susu nasional didorong memperluas inovasi produk, mulai dari keju bercita rasa khas Indonesia hingga es krim, di tengah tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Cimory menjadi salah satu perusahaan yang ditantang untuk mengembangkan produk turunan susu dengan potensi pasar lebih luas.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan tantangan tersebut saat mengunjungi pabrik PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, pengembangan produk olahan susu yang sesuai dengan karakteristik dan selera masyarakat Indonesia dapat membuka peluang pasar baru sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.

“Keju yang sesuai dengan selera orang Indonesia itu belum banyak dikembangkan. Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka. Begitu juga dengan es krim dan berbagai produk turunan susu lainnya,” ujarnya.

Sarmuji menantang Cimory untuk merealisasikan inovasi produk tersebut dalam satu tahun ke depan. Diversifikasi dinilai penting agar industri pengolahan susu tidak hanya bergantung pada produk yang sudah ada, tetapi mampu menciptakan produk baru yang memiliki daya saing.

80% Kebutuhan Susu Industri Masih Impor

Di balik peluang pengembangan produk, industri pengolahan susu nasional masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan pasokan susu segar dalam negeri.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu pada 2025 mencapai sekitar 4,95 juta ton setara susu segar. Sekitar 80% kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan industri susu tidak cukup hanya mengandalkan inovasi produk di sektor hilir. Peningkatan produksi susu segar, produktivitas peternak, serta kualitas bahan baku lokal juga diperlukan untuk memperkuat rantai pasok nasional.

Sarmuji menilai peningkatan populasi sapi perah dan kemampuan peternak lokal harus menjadi bagian dari strategi penguatan industri susu.

Ia juga mendorong kolaborasi lintas kementerian untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri, termasuk melalui pengembangan peternakan sapi perah dan peningkatan keterampilan peternak.

Menurutnya, impor sapi untuk dikembangkan di dalam negeri dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat produksi nasional, dengan tetap melibatkan peternak Indonesia.

Cimory Serap 26,42 Juta Liter Susu Lokal

Cimory menjadi salah satu pelaku industri yang menjalin kemitraan dengan peternak sapi perah dalam negeri. Sepanjang 2025, perusahaan tersebut bermitra dengan 18.458 peternak dan menyerap sekitar 26,42 juta liter susu segar lokal.

Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, Pamungkas Bayu Triprasetyo, menyatakan perusahaan menyambut positif tantangan untuk mengembangkan produk turunan susu yang lebih beragam.

Menurutnya, inovasi merupakan bagian penting dari strategi bisnis Cimory. Perusahaan akan mengkaji peluang pengembangan berbagai produk yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi pasar Indonesia.

Namun, peningkatan penggunaan bahan baku lokal masih menghadapi kendala keterbatasan pasokan. Saat ini, sekitar 20–30% kebutuhan bahan baku susu Cimory dipenuhi dari susu segar dalam negeri yang dipasok peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sementara itu, kebutuhan lainnya masih dipenuhi menggunakan susu bubuk impor.

Pamungkas menjelaskan, kebutuhan susu segar untuk produksi Cimory mencapai sekitar 1.000 ton per bulan. Karena itu, peningkatan produksi susu segar nasional menjadi faktor penting untuk mendukung ekspansi industri pengolahan susu.

Utilisasi Industri Ditargetkan Meningkat hingga 85%

Selain memperkuat bahan baku lokal, peningkatan kapasitas produksi juga menjadi perhatian. Sarmuji menilai tingkat utilisasi industri nasional yang mendekati 70% masih dapat ditingkatkan menjadi 80–85% dengan mengoptimalkan kapasitas yang sudah tersedia.

Peningkatan utilisasi tersebut dinilai dapat memperbesar kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB), sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.

Namun, optimalisasi kapasitas membutuhkan pasokan bahan baku yang memadai dengan harga kompetitif. Untuk kebutuhan yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri, kemudahan impor bahan baku tetap diperlukan agar proses produksi tidak terganggu.

Sebaliknya, bahan baku yang sudah tersedia dan mampu diproduksi di Indonesia harus diprioritaskan untuk memperkuat industri lokal.

Upaya memperkuat pasokan susu segar juga dilakukan melalui kemitraan antara industri pengolahan susu, koperasi, dan peternak. Hingga 2026, digitalisasi telah diterapkan di 96 tempat penampungan susu pada sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur, yang melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,77%

Penguatan industri pengolahan susu berlangsung di tengah pertumbuhan positif subsektor makanan dan minuman. Pada semester I 2026, subsektor ini tumbuh 6,77% dan menyumbang 41,86% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Realisasi investasi industri makanan dan minuman pada periode yang sama mencapai Rp47,74 triliun, terdiri atas penanaman modal asing sebesar Rp19,46 triliun dan penanaman modal dalam negeri Rp28,28 triliun.

Cimory juga meraih penghargaan Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2026 sebagai Industri Minuman Halal Terbaik I untuk subkategori Industri Besar.

Di sisi lain, penguatan industri turut membutuhkan tenaga kerja yang kompeten. Kolaborasi antara perusahaan dan pendidikan vokasi dinilai penting untuk menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan manufaktur.

Dengan pasar produk olahan susu yang masih terbuka dan kebutuhan bahan baku yang besar, pengembangan inovasi produk, peningkatan produksi susu segar lokal, serta optimalisasi kapasitas industri menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri susu nasional.