Karhutla Picu 314 Ribu Kasus ISPA, Sumatera Selatan Tertinggi

0
88
Asap pekat
Asap pekat. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak selama periode 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, disusul Kalimantan Selatan.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, ratusan ribu kasus tersebut tersebar di 65 kabupaten/kota terdampak karhutla. Dari total kasus, sebanyak 243.234 dialami kelompok usia di atas 5 tahun, sedangkan 70.890 kasus terjadi pada anak berusia 0–5 tahun.

Lonjakan kasus juga masih terjadi. Dalam satu hari, pada 20 Oktober 2026, tercatat tambahan 3.269 kasus ISPA di wilayah terdampak.

Sumatera Selatan mencatat jumlah kasus tertinggi, yakni 82.177 kasus. Dari angka tersebut, sebanyak 63.430 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 18.747 kasus pada anak berusia 0–5 tahun.

Kalimantan Selatan berada di posisi kedua dengan 78.894 kasus, diikuti Kalimantan Barat sebanyak 55.686 kasus. Sementara itu, Riau mencatat 36.433 kasus, Kalimantan Timur 27.688 kasus, dan Kalimantan Tengah 26.740 kasus.

Dampak Karhutla Tak Hanya ISPA

Dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat tidak hanya berupa gangguan pernapasan. Berbagai penyakit lain juga dilaporkan di wilayah terdampak, mulai dari pneumonia, diare akut, gangguan kulit, sakit mata, influenza-like illness (ILI), hingga heat stroke atau kondisi ketika suhu tubuh meningkat secara berlebihan.

Kalimantan Tengah mencatat 1.400 kasus pneumonia. Sementara itu, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan kasus diare akut terbanyak, mencapai 4.314 kasus.

Di Riau, gangguan kesehatan yang dilaporkan meliputi keluhan gatal-gatal, kudis, gangguan mata, hingga kasus heat stroke.

Besarnya jumlah kasus ISPA dan munculnya berbagai penyakit lain menunjukkan luasnya dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Paparan asap serta kondisi lingkungan akibat kebakaran menjadi risiko yang perlu diwaspadai, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Dengan kasus ISPA yang telah menembus 314 ribu, dampak kesehatan karhutla menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah. Perlindungan masyarakat dari paparan asap serta pemantauan kondisi kesehatan di daerah terdampak menjadi hal penting untuk mencegah risiko yang lebih besar.