Diaspora Indonesia Bangun Usaha di AS

0
206
Linda Campbell, pemilik toko "Indonesian Market". (dok. pribadi)

(Vibizmedia – Internasional) Inilah pengalaman para diaspora Indonesia yang membuka usaha di Amerika.

Izin umumnya diperoleh dari pemerintah atau otoritas yang berhubungan dengan legalitas usaha untuk beroperasi. Sedangkan sertifikasi adalah pengakuan pihak ketiga terkait standar kualitas produk atau jasa yang ditawarkan.

Dua hal itu wajib dikantongi pendiri usaha untuk membuka dan mematuhi hukum berbisnis di Amerika. Proses memperolehnya, berbeda untuk tiap pengusaha.

Bagi Artha Rini, pengusaha restoran Indonesia, “Di sini perizinan susah. Semuanya harus ada insurance. Izinnya juga macam-macam. Kita harus sekolah (untuk sertifikasi), ibaratnya kayak gitu.”

Berawal dari usaha katering rumahan, bisnis Artha melebar. Ia mulai melayani pesanan berskala besar dan acara penting seperti pertemuan G20 di Dana Moneter Internasional (IMF). Di sinilah ia dituntut memiliki food license bahkan kemudian izin dari pemerintah lokal ketika bisnisnya berwujud menjadi restoran.

Mendapatkan izin untuk usaha yang berkaitan dengan pangan memang detail. Higienitas dan sanitasi sangat dituntut karena menyangkut kesehatan pelanggan.

Itu dialami pula oleh Linda Campbell. Ia menghabiskan waktu 6 bulan untuk mendapat izin membuka Indonesian Market. Toko kelontong itu menjual aneka bumbu dan kebutuhan masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar Washington DC, dari daun salam dan kemiri, hingga kecap dan aneka sambal.

Mengenang proses mendapatkan izin, ia mengungkapkan, “Ngurus izin itu memang susahnya bukan main di Amerika ini, gak seperti di Indonesia. Saya pernah berapa kali kan, kalo buka bisnis itu kok begitu gampang gitu ya, tapi di sini tuh susah banget gitu. Udah selesai semua, masih aja gak lulus, ininya kurang lah, itunya kurang lebar lah, ini anu semua diukur, sampai restroom (toilet) aja diukur gitu lho,” tukasnya.

Linda hampir putus asa. Tetapi ia tidak mau menyerah karena merasa bisnisnya penting untuk melayani masyarakat.

“Akhirnya ya Puji Tuhan, bisa terlaksana kita buka ini,” kata Linda.

Bagi Raymond Monzano, pemilik usaha yang bergerak dalam bidang otomotif, proses membuka usaha di Amerika sangat mudah dan simpel. Mengantongi sejumlah sertifikasi yang diperlukan dalam bidang otomotif dan memenuhi syarat kepemilikan sejumlah peralatan esensial untuk bengkel, menurutnya, mempercepat proses.

Jadi, proses mendapatkan izin, “Gampang. Saya ngatur perizinan itu dalam satu hari. Bahkan gak sampai satu hari. Saya pergi ke sana (tempat perizian), ditanya mau apa, nama perusahaannya. Pertama saya mau bikin nama saya, satu aja, tapi setelah diperiksa oleh orangnya, ternyata sudah ada yang pakai. Coba diganti lagi dengan nama lain. Cuma itu. Jadi, saya lama di tempat perizinan itu cari nama, nama usahanya itu apa,” ujar Raymond.

Kemudahan juga dialami Yusup Hustaman. Ia sudah lebih dari 20 tahun berprofesi sebagai tukang cukur dan kini menjadi pemilik A&J’s Barbershop. Soal izin, ia menegaskan, legalitas adalah penting dan utama dalam berbisnis di Amerika.

“Tentunya pertama harus ada surat izin, tentunya license pribadi dan bisnis juga. Kalau mengikuti proses-proses yang ditentukan di local government, sebetulnya gak ada hambatan,” kata Yusup.

Agung Putra, pemilik usaha catering BliMan Kitchen yang kini mengoperasikan ‘food truck,’ berbagi nasihat kepada siapapun yang ingin membuka usaha di Amerika. Pria asal Bali yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman perhotelan dan memasak di kapal pesiar ini menekankan pentingnya mematuhi peraturan. Itu di atas segalanya, cetusnya.

“Ikuti peraturan dari masing-masing county (wilayah kabupaten) karena kalo kita gak ikuti aturan, kita gak bisa menjalankan usaha. Kalaupun kita mau main kayak di Indo, banyak jalan-jalan tikus yang bisa ditempuh, di sini gak bisa. Kita gak akan jalan dengan baik kalau kita tidak mengikuti aturan dari government di sini.”

Dengan mengikuti aturan, kata Agung, justru calon pebisnis akan dibantu. Tidak ada aturan yang menyusahkan, bahkan untuk pendatang dengan kemampuan bahasa Inggris yang minim.