Memaksimalkan Pertumbuhan Bisnis Dengan Model Crowdsourcing yang Efektif

0
185
Memaksimalkan Pertumbuhan Bisnis Dengan Model Crowd-Sourcing yang Efektif
(Vibizmedia – Economy & Business) – Berbagai model bisnis kini dikembangkan oleh perusahaan   untuk meningkatkan pertumbuhan bisnisnya. Diantaranya berbisnis dengan model crowdsourcing kini marak dilakukan oleh para startup.
Tidak heran ini menjadi pembahasan menarik pada acara bincang-bincang bisnis bertajuk Power Lunch yang digelar oleh GDP Venture pada Kamis, 6 Juni 2024. Mengangkat tema: “Maximizing Business Growth with an Effective Crowdsourcing Model”. Acara ini menghadirkan tiga portfolio GDP Venture yang cukup berhasil menerapkan crowdsourcing model dalam bisnisnya.
Mereka adalah David Soong – CEO SweetEscape, Dimas Harry Priawan – Cofounder & CEO Dekoruma, dan Ardyanto Alam – CEO Garasi.id.
Apakah Model Bisnis Crowdsourcing?
Konsep bisnis crowdsourcing kini sudah tidak asing lagi di mana layanan, ide, atau konten diperoleh dengan meminta kontribusi dari banyak orang secara daring. Contoh perusahaan yang sukses secara global dari menerapkan konsep ini adalah Airbnb.
Keuntungan menggunakan crowdsourcing, bisnis dapat mengurangi biaya, meningkatkan inovasi, dan mempercepat pengembangan produk atau layanan mereka.
SweetEscape adalah platform layanan jasa fotografi yang terkenal secara global yang menghubungkan klien dengan ribuan fotografer profesional lokal. Kini hadir di lebih dari 500 kota di 5 benua di seluruh dunia.
Bisnis SweetEscape tidak hanya melayani klien retail dengan berbagai layanan jasa foto seperti acara ulang tahun, pertunangan, liburan. Bayi yang baru lahir dan momen penting lainnya, tetapi juga telah merambah pasar B2B dengan menyediakan layanan foto produk. Foto jajaran direksi & manajemen, bahkan hingga video perusahaan.
Dengan beragam klien hingga ke mancanegara, SweetEscape harus memilih mitra fotografer yang tepat untuk memenuhi kebutuhan klien. David Soong, CEO SweetEscape, menjelaskan, “Selain menghasilkan foto yang bagus, partner fotografer kami harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Lain halnya dengan Garasi.id. Dalam menerapkan crowdsourcing secara efektif, perusahaan harus menerapkan standar operasional yang jelas untuk mendapatkan kualitas yang sama dari partner kerja. Serta meminimalisasi resiko akan ketidakpuasan pelanggan.
 Ini yang diutarakan oleh Ardyanto Alam, CEO dari Garasi.id.
“Kami di Garasi.id bekerjasama dengan bengkel-bengkel pilihan untuk memastikan layanan yang diberikan kepada pelanggan kami mempunyai kualitas yang sama.”
Kami menerapkan standar operasional yang jelas dan bisa diadopsi dengan standar operasional yang telah ada di bengkel tersebut. Tentunya supaya standar operasional kami bisa diterima dengan baik, kami memilih mitra bengkel yang memang kualitasnya tidak diragukan. Seperti salah satunya selalu menggunakan komponen asli.”
Saat ini Garasi.id mempunyai produk Warranty, Jasa Inspeksi, Jasa Servis dan Asisten Darurat, dimana mereka menawarkan berbagai layanan.Yaitu untuk garansi mobil bekas yang mencakup komponen mesin dan transmisi selama satu tahun, dengan batas usia mobil 14 tahun dan klaim maksimal Rp20 juta per tahun.
Dekoruma didirikan tahun 2015 sebagai marketplace furniture, kemudian ekspansi bisnis dengan membuka jasa layanan desain interior hingga penjualan rumah. Dalam menjalankan bisnisnya, Dekoruma bekerjasama dengan desainer-desainer interior yang mampu mengerjakan desain dengan gaya Japandi (Jepang dan Skandinavia), gaya interior khas Dekoruma.
Dimas Harry Priawan, Co-founder & CEO Dekoruma menjelaskan mengenai hak cipta, “Kami selalu mencantumkan nama desainer interior kami di setiap karyanya, karena hak cipta adalah milik mereka.
Kelebihan dari kami adalah kami membangun suatu teknologi yang kami namakan Thudio by Dekoruma, dimana para desainer bisa langsung mengetahui estimasi biaya dari desain yang mereka kerjakan, sehingga bisa menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki oleh konsumen.”
Ketiga CEO ini sepakat bahwa “Model ini tidak hanya menguntungkan perusahaan dengan efisiensi waktu dan biaya operasional. Tetapi juga memberikan keuntungan bagi mitra crowdsourcing kami. Mereka adalah tenaga kerja dengan modal yang tidak besar dan mendapat kompensasi yang adil sesuai hasil kerja mereka.
Belinda Kosasih/ VBN/ Managing Partner Vibiz Consulting