Industri Manufaktur Nasional Tertekan Ketidakpastian Global dan Impor

0
490

(Vibizmedia – Jakarta) Industri manufaktur dalam negeri tengah menghadapi tekanan berat akibat ketidakpastian pasar global dan domestik, termasuk dampak perang tarif oleh Amerika Serikat serta masuknya produk impor. Hal ini tercermin dari turunnya Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2025 ke level 46,7, menandakan fase kontraksi karena berada di bawah ambang batas 50, menurut laporan S&P Global.

“Penurunan PMI sebesar 5,7 poin dari bulan sebelumnya sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku industri manufaktur menurun di tengah kondisi yang tidak menentu,” ungkap Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, Jumat (2/5).

Febri menjelaskan bahwa PMI merupakan indikator persepsi pelaku industri terhadap prospek bisnis mereka. Hasil survei menunjukkan adanya tekanan psikologis akibat perang tarif dan serbuan produk impor. Penurunan PMI juga sejalan dengan melambatnya Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2025 yang tercatat di angka 51,90, turun dari 52,98 pada Maret dan turun 0,40 poin dibanding April tahun lalu.

Menurut Febri, banyak pelaku industri masih menanti kepastian dari hasil negosiasi pemerintah Indonesia dengan pihak AS. Kepastian regulasi diperlukan agar pelaku industri tidak terus berada dalam posisi “wait and see”.

“Mereka tidak hanya khawatir dengan tarif resiprokal dari Presiden Trump, tetapi juga potensi banjir produk dari negara-negara yang terdampak kebijakan tersebut, yang menjadikan Indonesia sebagai pasar alternatif,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak asosiasi dan pelaku industri telah menyampaikan keluhan dan menanti kebijakan strategis pemerintah yang melindungi industri dalam negeri. Dengan struktur produksi nasional yang 80%-nya diserap pasar domestik, perlindungan terhadap pasar lokal menjadi krusial demi menjaga daya saing nasional.

“Kami berkomitmen mendorong optimisme di kalangan pelaku usaha, tetapi dibutuhkan dukungan penuh dari kementerian/lembaga lain agar kebijakan pro-investasi dan pro-industri segera diterbitkan. Jangan sampai pasar domestik yang lesu justru dibanjiri produk impor,” tegasnya.

Febri juga menyebut bahwa penurunan PMI Indonesia merupakan yang terdalam di antara negara-negara ASEAN. Misalnya, PMI Filipina masih berada dalam zona ekspansi karena kebijakan proteksi pasar dalam negeri yang lebih kuat.

Laporan S&P Global mencatat sejumlah negara yang PMI-nya terkontraksi pada April 2025: Thailand (49,5), Malaysia (48,6), Jepang (48,5), Jerman (48,0), Taiwan (47,8), Korea Selatan (47,5), Myanmar (45,4), dan Inggris (44,0). Sementara China masih berada di zona ekspansi dengan angka 50,4, meskipun melambat dari bulan sebelumnya.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia menunjukkan penurunan kesehatan yang signifikan di awal kuartal kedua 2025. “Ini kontraksi pertama dalam lima bulan, disertai penurunan tajam pada penjualan dan output. Perusahaan pun mulai mengurangi pembelian, tenaga kerja, dan stok karena lemahnya permintaan,” jelasnya.