Industri Alas Kaki Prospektif, Kemenperin Perkuat Sentra IKM

0
109
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM), termasuk sentra industri alas kaki yang menghadapi tantangan dinamika ekonomi global serta perubahan perilaku pasar. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), Kemenperin menjalankan berbagai kebijakan, program fasilitasi, serta pelatihan dan pendampingan guna meningkatkan kapasitas usaha sentra-sentra IKM agar mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa secara umum sentra IKM masih dihadapkan pada berbagai tantangan struktural. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan akses pembiayaan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, minimnya inovasi produk, serta cepatnya perubahan tren pasar yang diiringi meningkatnya persaingan produk impor.

Salah satu contoh kondisi tersebut terlihat pada sentra IKM alas kaki di Ciomas, Kabupaten Bogor, yang dikunjungi Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita pada September 2025. Hasil dialog dengan para perajin menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19 turut berdampak pada kinerja usaha di sentra tersebut.

Selain tantangan pasar, isu regenerasi perajin juga menjadi perhatian serius. Mayoritas perajin alas kaki di Ciomas masih didominasi generasi senior yang belum sepenuhnya menguasai keterampilan dan pengetahuan baru. Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika pasar dinilai sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, industri alas kaki memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin mencatat bahwa industri alas kaki bersama industri kulit tumbuh 8,31 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan II 2025, serta tumbuh 0,72 persen secara triwulanan (quarter to quarter) pada triwulan III 2025. Nilai investasi industri alas kaki juga mencapai lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari hingga September 2025.

Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia pun menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan sebesar 11,89 persen pada periode Januari–Agustus 2025. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki.

Reni menilai capaian tersebut tidak terlepas dari peran sentra IKM alas kaki yang menaungi jumlah pelaku usaha dalam skala besar. Namun demikian, diperlukan upaya penguatan yang berkelanjutan agar sentra IKM dapat beroperasi secara optimal dan berdaya saing.

Sebagai langkah konkret, Ditjen IKMA melalui kolaborasi Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor, melaksanakan berbagai program peningkatan daya saing bagi perajin sentra IKM alas kaki Ciomas.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menjelaskan bahwa pada akhir 2025 telah dilaksanakan tiga kegiatan pembinaan utama, yaitu peningkatan literasi digital, bimbingan teknis, serta pendampingan oleh mentor dari perguruan tinggi. Program tersebut diikuti oleh 14 perajin perwakilan sentra IKM alas kaki Ciomas.

Pembinaan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perajin terhadap pemasaran digital, penguasaan desain dan pola alas kaki terkini guna mendorong inovasi produk, serta pengelolaan usaha yang lebih efisien melalui pendampingan intensif.

Rangkaian kegiatan diawali dengan program Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan di Jawa Barat pada 12 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 14 perajin sentra IKM alas kaki Ciomas bersama 56 pelaku IKM kimia, sandang, dan kerajinan dari Kota dan Kabupaten Bogor.

Materi pembinaan mencakup strategi pemasaran digital, pemanfaatan lokapasar, serta praktik fotografi produk, dengan narasumber dari Universitas Prasetiya Mulya, Shopee Indonesia, dan Universitas Ciputra Jakarta.

Selanjutnya, para perajin mengikuti bimbingan teknis desain dan pola alas kaki yang diselenggarakan pada 15–17 Desember 2025 dengan dukungan narasumber dari BPIPI. Program pembinaan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan oleh mentor dari Universitas Prasetiya Mulya hingga 2026 bagi peserta terpilih.

Melalui rangkaian pembinaan ini, Kemenperin berharap para perajin tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memperkuat fondasi internal usaha, memahami kebutuhan bisnis secara lebih tepat, serta menyusun langkah strategis untuk mengembangkan usaha di tengah dinamika pasar.

Ke depan, para perajin juga didorong untuk memanfaatkan berbagai fasilitas dukungan pemerintah, antara lain pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Industri Padat Karya (KIPK), layanan konsultasi teknis BPIPI, serta program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan IKM guna mendukung peremajaan mesin dan peningkatan kapasitas produksi.