Pertanian RI Makin Kuat, Ekspor Naik dan Impor Turun Tajam

0
49
Petani sedang memanen padi dari area sawahnya. (Foto: Kementan)

(Vibizmedia – Jakarta) Kinerja sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan penguatan yang semakin menyeluruh. Tidak hanya terlihat dari lonjakan ekspor dan penurunan impor, sejumlah indikator strategis lain turut menegaskan bahwa transformasi pertanian nasional berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

Data menunjukkan nilai ekspor sektor pertanian, baik produk segar maupun olahan, meningkat sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen. Sementara itu, impor tercatat menurun Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66 persen. Capaian ini mencerminkan meningkatnya daya saing pertanian Indonesia di pasar global sekaligus berkurangnya ketergantungan terhadap produk impor.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa hasil tersebut merupakan buah dari strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menurutnya, peningkatan produksi, lonjakan ekspor, serta penurunan impor menjadi indikator bahwa fondasi pertanian nasional semakin kokoh dan mandiri.

Penguatan sektor ini juga tercermin dari peningkatan pendapatan yang signifikan. Total kenaikan mencapai Rp437,25 triliun, yang berasal dari produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi ekspor. Selain itu, efisiensi devisa dari penurunan impor mencapai Rp34 triliun.

Dari sisi produksi, capaian nasional menunjukkan tren positif. Produksi beras meningkat 4,07 juta ton atau tumbuh 13,29 persen, yang mendorong tercapainya swasembada pangan dalam waktu relatif singkat. Hal ini sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN.

Cadangan pangan nasional juga berada pada level yang sangat kuat. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4,8 juta ton pada April 2026 dan diproyeksikan menembus 5 juta ton pada akhir bulan, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

Kesejahteraan petani pun mengalami peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, yang menunjukkan peningkatan daya beli dan pendapatan petani.

Dari sisi makro, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang solid. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian pada 2025 tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir, sekaligus memperkuat perannya sebagai penopang utama ekonomi nasional.

Di tengah penurunan harga beras dunia hingga 44,2 persen, Indonesia mampu menjaga stabilitas dan bahkan menghentikan impor beras. Hal ini mencerminkan semakin kuatnya sistem produksi dan ketahanan pangan nasional.

Transformasi menuju pertanian modern turut memberikan dampak signifikan. Efisiensi biaya produksi berhasil ditekan hingga 50 persen, sementara produktivitas meningkat hingga 100 persen. Pencapaian ini didukung oleh penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta program pompanisasi dan optimalisasi lahan secara luas.

Selain itu, penguatan hilirisasi pada komoditas strategis seperti kelapa, kakao, kopi, dan sawit terus didorong. Upaya ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga membuka peluang investasi besar dan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah signifikan.

Menteri Pertanian juga menekankan bahwa capaian ini tidak terlepas dari reformasi struktural yang dilakukan secara menyeluruh, termasuk penyederhanaan regulasi dan penindakan terhadap praktik mafia pangan yang selama ini menghambat distribusi dan produksi.

Dengan capaian yang semakin komprehensif, sektor pertanian Indonesia kini tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan, tetapi juga motor penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta sumber devisa negara.

Ke depan, pemerintah optimistis tren positif ini akan terus berlanjut, membawa Indonesia menuju swasembada berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan dunia dan pemain penting dalam perdagangan pertanian global.