(Vibizmedia – Nasional) Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sebesar USD 0,09 miliar pada April 2026. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, surplus April 2026 ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus USD 3,53 miliar, meski sektor migas masih mengalami defisit USD 3,44 miliar. Secara kumulatif Januari–April 2026, surplus perdagangan Indonesia mencapai USD 5,64 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 11,07 miliar.
Komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar selama empat bulan pertama 2026 adalah lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Dari sisi negara mitra, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia, diikuti India dan Filipina. Sementara itu, defisit perdagangan nonmigas terdalam masih terjadi dengan Tiongkok.
Pada April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 25,30 miliar, meningkat 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 21,98 persen dibandingkan April 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas. Komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi antara lain kopi, teh dan rempah-rempah, tembakau dan rokok, produk kayu, minyak nabati, serta mesin dan peralatan mekanis.
Secara kumulatif, ekspor Januari–April 2026 mencapai USD 92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen. Produk nikel, aluminium, bahan kimia organik, tembaga, dan timah menjadi komoditas dengan kenaikan ekspor tertinggi.
Di sisi lain, nilai impor April 2026 tercatat USD 25,21 miliar, naik 31,28 persen dibandingkan Maret 2026 dan meningkat 22,49 persen secara tahunan. Kenaikan impor terjadi pada seluruh kelompok barang, terutama barang konsumsi, bahan baku dan penolong, serta barang modal.
Secara kumulatif, impor Januari–April 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tertinggi terjadi pada impor barang modal yang mencerminkan meningkatnya aktivitas investasi dan produksi nasional.
Mendag Budi Santoso menegaskan, pemerintah akan terus memperkuat diversifikasi pasar ekspor, mendorong hilirisasi industri, serta meningkatkan ekspor produk bernilai tambah guna menjaga daya saing perdagangan Indonesia di tengah tantangan ekonomi global.









