Batang Diproyeksikan Jadi Hub Logistik, Investasi Dry Port Capai Rp2,4 Triliun

0
57
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Batang, Jawa Tengah) Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor logistik nasional dengan mendorong pengembangan Dry Port di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Komitmen ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara sejumlah pihak strategis, yakni PT Kereta Api Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia, PT KITB, dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah terkait kerja sama pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan logistik berbasis rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah.

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menyampaikan bahwa pembangunan Dry Port KITB merupakan langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang, memperkuat daya saing produk nasional, serta menjadikan Batang sebagai salah satu simpul logistik utama di Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan arahan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, terkait percepatan pembangunan Dry Port KITB. Sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah, Menko Airlangga menilai bahwa dry port akan menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan efisiensi transportasi logistik nasional. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu menekan biaya distribusi sekaligus mempercepat arus barang dari dan menuju kawasan industri.

Lebih lanjut, pembangunan dry port ini diproyeksikan menjadi katalisator bagi terciptanya sistem logistik nasional yang modern, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029 sesuai RPJMN 2025–2029.

Dari sisi kinerja ekonomi, Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 5,39 persen pada kuartal IV. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita mencapai Rp83,75 juta atau setara USD5.082, sementara realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, dengan capaian 8,78 persen pada kuartal IV 2025 serta kontribusi lebih dari 6 persen terhadap PDB. Efisiensi di sektor ini dinilai memiliki dampak langsung terhadap kelancaran distribusi barang dan peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Dry Port KITB diproyeksikan mampu menangkap potensi hingga 300.000 TEUs dari total sekitar 4 juta TEUs yang melintas di koridor Jawa Tengah. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun yang mencakup pembangunan container yard, infrastruktur rel, serta berbagai fasilitas pendukung.

Selain itu, KEK Batang ditargetkan mampu menarik investasi hingga Rp60 triliun dalam kurun waktu 4–5 tahun ke depan. Kehadiran dry port ini diharapkan menjadi pusat layanan logistik terintegrasi bagi berbagai industri yang akan berkembang di kawasan tersebut.

Sejak beroperasi, KITB telah menyerap sekitar 5.500 tenaga kerja dari enam perusahaan. Dengan adanya pengembangan Dry Port, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat signifikan hingga mencapai 39.000 tenaga kerja pada 2029, sehingga dapat berkontribusi dalam menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian juga menekankan pentingnya percepatan implementasi MoU oleh seluruh pihak terkait. Dukungan penuh akan terus diberikan guna memastikan iklim investasi dan usaha tetap kondusif serta mendorong keberhasilan proyek strategis ini.