Perkuat Ekspor dan UMKM, Kemendag Genjot Perdagangan Nasional

0
47
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk meningkatkan kinerja perdagangan nasional meski di tengah tekanan dan ketidakpastian global. Ia menilai, capaian ekspor nonmigas pada periode Januari–Maret 2026 yang masih tumbuh positif menjadi sinyal bahwa ruang pertumbuhan tetap terbuka.

“Kita masih memiliki peluang untuk terus tumbuh. Ekspor nonmigas Januari—Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu masih mencatat pertumbuhan sebesar 0,98 persen. Artinya, di tengah tantangan global, kinerja perdagangan kita tetap resilien,” ujar Budi Santoso.

Pernyataan tersebut disampaikan Mendag dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah: Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5). Turut mendampingi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi.

Untuk mendorong akselerasi perdagangan nasional, Kementerian Perdagangan menjalankan tiga program prioritas, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, serta program Dari Lokal untuk Global.

Melalui program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Kemendag berupaya memastikan produk lokal mampu mendominasi pasar domestik. Peningkatan daya saing menjadi kunci untuk menekan ketergantungan terhadap impor. Selain itu, instrumen perlindungan perdagangan seperti anti-dumping dan safeguard juga dimanfaatkan untuk menjaga pasar dalam negeri.

“Kami ingin pasar domestik yang besar ini diisi oleh produk lokal. Kuncinya adalah daya saing. Jika produk dalam negeri kuat, maka ketergantungan terhadap impor bisa ditekan,” jelasnya.

Sementara itu, pada program Perluasan Pasar Ekspor, pemerintah terus membuka akses pasar internasional melalui berbagai perjanjian perdagangan. Hingga kini, sebanyak 20 perjanjian telah diimplementasikan, 15 dalam tahap ratifikasi, dan 11 masih dalam proses perundingan. Upaya menjaga pasar ekspor utama, termasuk ke Amerika Serikat, juga dilakukan melalui skema Agreement Reciprocal Tariff (ART).

Adapun program Dari Lokal untuk Global difokuskan pada peningkatan kapasitas pelaku usaha, termasuk UMKM dan pelaku usaha di desa, agar mampu menembus pasar ekspor. Program ini terbagi dalam empat klaster utama.

Klaster pertama, UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor, memberikan pendampingan bagi UMKM untuk masuk ke pasar global melalui dukungan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara. Sepanjang 2025, program ini telah memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan total transaksi mencapai USD 134,87 juta. Sementara pada Januari—April 2026, transaksi telah mencapai USD 107,34 juta, dengan sekitar 70 persen pelaku usaha merupakan eksportir baru.

Klaster kedua, Desa BISA Ekspor, bertujuan memperkuat ekosistem usaha dari hulu ke hilir di daerah. Hingga saat ini, Kemendag telah memetakan 2.616 desa dengan potensi ekspor, baik yang sudah siap maupun yang masih membutuhkan pendampingan.

Klaster ketiga, Campuspreneur, mendorong lahirnya wirausaha muda melalui kolaborasi dengan 19 perguruan tinggi di Indonesia. Program ini mencakup pengembangan produk, strategi pemasaran, hingga perluasan jejaring bisnis.

Sementara klaster keempat adalah kemitraan UMKM dengan berbagai pihak, seperti asosiasi, ritel modern, dan pusat perbelanjaan, untuk memperluas akses pasar produk lokal di dalam negeri.

Selain itu, Trade Expo Indonesia (TEI) juga menjadi instrumen penting dalam promosi produk nasional ke pasar global. Pada 2025, TEI mencatatkan transaksi sebesar USD 22,8 miliar dengan partisipasi 8.045 pembeli dari 130 negara. Dalam ajang tersebut, juga diluncurkan program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA) yang menjadi kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat promosi kuliner dan produk Indonesia di pasar internasional.

Rangkaian acara turut diisi dengan sesi diskusi bersama Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta perwakilan Otoritas Jasa Keuangan Dicky Kartikoyono, yang membahas sinergi lintas sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.