(Vibizmedia – Washington D.C, USA) Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat memperkuat kerja sama strategis dalam pelestarian warisan budaya sekaligus memperluas akses publik terhadap pengetahuan, sebagai upaya membangun jembatan pemahaman yang lebih erat antara masyarakat kedua negara.
Inisiatif ini menjadi bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global, khususnya melalui penguatan kapasitas institusi kebudayaan dalam negeri.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan bahwa museum memiliki peran strategis sebagai ruang dialog, pendidikan, serta pertukaran gagasan lintas budaya.
Melalui kemitraan yang terus dikembangkan, diharapkan kapasitas kelembagaan dan tata kelola permuseuman di Indonesia dapat semakin meningkat. “Kemitraan antarmuseum tidak hanya memperkuat institusi budaya, tetapi juga menjadi sarana membangun pemahaman yang lebih dekat antara masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Indroyono dalam keterangan resmi, Selasa (16/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan jajaran Smithsonian Institution pada Kamis (11/6/2026) di Washington, D.C., Amerika Serikat.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen bersama antara Museum dan Cagar Budaya Indonesia dengan National Museum of Asian Art (NMAA), Smithsonian Institution, yang sebelumnya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama jangka panjang pada 2023.
Direktur National Museum of Asian Art, Chase Robinson, menyampaikan bahwa kolaborasi ini diarahkan untuk mentransformasi museum menjadi ruang hidup yang dinamis dan relevan.
“Melalui pertukaran pengetahuan, kolaborasi profesional, serta pemanfaatan teknologi, museum dapat memperluas akses publik sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya di tingkat global,” ungkapnya.
Sebagai implementasi konkret dari kerja sama tersebut, kedua pihak akan menyelenggarakan Museum Capacity Building Workshop pada 22–26 Juni 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Kegiatan ini akan melibatkan sekitar 30 peserta dari berbagai institusi kebudayaan nasional, seperti Galeri Nasional Indonesia, Museum Batik Indonesia, hingga Museum Kepresidenan RI (Balai Kirti). Lokakarya tersebut akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari konservasi berbasis riset hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan museum.









