Rosan: Investasi Rp511,8 Triliun Serap Lebih dari 742 Ribu Tenaga Kerja

0
40
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani memberikan keterangan pers di Ruang Sidang Kabinet, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (16/7/2026), usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. (Foto: BPMI Setpres)

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani melaporkan bahwa realisasi investasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun. Angka ini tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan setara dengan 25,1 persen dari target investasi nasional tahun 2026.

Capaian tersebut disampaikan Rosan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (16/7/2026), usai melaporkan perkembangan investasi kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa komitmen jangka panjang investor terhadap Indonesia tetap kuat, terutama dari negara-negara mitra utama seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Menurut Rosan, Indonesia masih dipandang sebagai destinasi investasi yang menjanjikan dengan imbal hasil yang kompetitif. Pemerintah pun terus memperbaiki iklim investasi melalui kebijakan yang memberikan kepastian hukum dan kemudahan perizinan, sehingga mendapat respons positif dari pelaku usaha.

Pada periode tersebut, realisasi investasi juga menyerap 742.293 tenaga kerja atau meningkat 5,1 persen. Komposisi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) relatif seimbang, dengan PMDN sebesar 49,6 persen dan PMA 50,4 persen.

Dari sisi wilayah, kontribusi investasi antara Jawa dan luar Jawa juga semakin merata. Rosan menyebut tren ini positif dan diharapkan terus berkembang agar potensi investasi di berbagai daerah dapat dimaksimalkan.

Untuk PMA, Maluku Utara mencatat lonjakan signifikan dan menjadi tujuan utama dengan realisasi Rp39,5 triliun, diikuti DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur. Sementara itu, dari sisi PMDN, DKI Jakarta masih mendominasi dengan Rp58,6 triliun, disusul Jawa Barat dan Jawa Timur.

Berdasarkan sektor usaha, lima subsektor terbesar pada triwulan II 2026 meliputi industri logam dasar dan barang logam bukan mesin sebesar Rp81 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi Rp57,3 triliun, pertambangan Rp53,1 triliun, jasa lainnya, serta perdagangan dan reparasi Rp40,8 triliun.

Rosan juga mengungkapkan adanya pergeseran sumber investasi asing. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Hong Kong menempati posisi teratas sebagai asal investasi terbesar di Indonesia pada triwulan II 2026, diikuti Singapura, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia.

Capaian ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi di kawasan. Dengan iklim usaha yang terus diperbaiki, kepastian regulasi yang semakin kuat, serta pemerataan investasi ke berbagai daerah, pemerintah optimistis investasi akan terus menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.