Kolaborasi Jadi Kunci, Indonesia Bidik Jadi Pusat Kakao Premium Dunia

0
44
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Yogyakarta) Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, menegaskan bahwa masa depan industri kakao nasional sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, hingga mitra internasional. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperkuat peran strategis kakao Indonesia dalam perekonomian global sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam “The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC)” di Yogyakarta, Kamis (23/7). Menurutnya, komoditas kakao tidak hanya menopang kehidupan ratusan ribu petani, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi perdesaan.

“Kakao merupakan komoditas ekspor strategis dengan potensi nilai tambah besar. Indonesia memiliki visi menjadi pusat global untuk produk kakao dan cokelat premium yang berkelanjutan,” ujar Mendag.

Dalam lima tahun terakhir, kinerja ekspor kakao Indonesia menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada 2025 tercatat mencapai USD 3,60 miliar, meningkat signifikan dibandingkan USD 1,2 miliar pada 2021. Hal ini mencerminkan tingginya permintaan global terhadap kakao Indonesia.

Indonesia juga telah mendapat pengakuan dari International Cocoa Organization (ICCO) sebagai produsen kakao premium atau fine flavour cocoa. Potensi ini, menurut Mendag, perlu diperkuat melalui inovasi, pengembangan indikasi geografis, serta praktik produksi berkelanjutan.

Untuk memperkuat daya saing ekspor, pemerintah terus mendorong peningkatan nilai tambah, pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar, serta optimalisasi berbagai perjanjian perdagangan. Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, dua dalam tahap ratifikasi, dan 11 lainnya masih dalam proses perundingan, termasuk kerja sama dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Kementerian Perdagangan juga mengerahkan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara untuk memperluas akses pasar, mempromosikan produk, serta memfasilitasi pertemuan bisnis antara eksportir Indonesia dan pembeli internasional.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Cargill menilai prospek industri kakao Indonesia sangat cerah, terutama jika didukung kolaborasi dan inovasi berkelanjutan. Tren global yang mengarah pada produk autentik, berkelanjutan, dan berbasis lokal dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pusat pengolahan kakao di kawasan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif International Cocoa Organization, Michel Arrion, menyebut konferensi ini menjadi momentum penting untuk melihat transformasi Indonesia dari produsen menjadi pengolah kakao bernilai tambah.

“Indonesia telah memberikan nilai tambah signifikan pada biji kakao. Kami optimistis manfaat yang diperoleh akan semakin besar jika produksi terus ditingkatkan,” ujarnya.