Cuaca Ekstrem, ASDP Tunda Sementara Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk

0
52
Foto: ASDP

(Vibizmedia – Banyuwangi) Keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar, terutama saat kondisi alam tidak bersahabat. Menyikapi cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Selat Bali dalam beberapa waktu terakhir, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang bersama KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satpel Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, BMKG, serta Kepolisian memutuskan melakukan penundaan sementara operasional penyeberangan pada waktu tertentu.

Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi risiko guna menjamin keselamatan penumpang dan awak kapal.

General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menegaskan bahwa seluruh keputusan operasional didasarkan pada rekomendasi cuaca maritim dari BMKG serta hasil koordinasi dengan berbagai otoritas terkait, bukan keputusan sepihak dari operator.

“Keselamatan selalu menjadi prioritas utama. Penundaan operasional dilakukan sebagai langkah antisipatif ketika kondisi cuaca belum memenuhi standar keselamatan pelayaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyesuaian operasional bersifat fleksibel dan mengikuti perkembangan kondisi cuaca di lapangan. Layanan penyeberangan akan kembali dibuka setelah kecepatan angin dan tinggi gelombang dinyatakan aman.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, ASDP terus memperkuat koordinasi lintas instansi dengan melakukan pemantauan cuaca secara berkala bersama BMKG agar potensi cuaca ekstrem dapat diantisipasi lebih dini.

Untuk meminimalkan dampak terhadap distribusi logistik, ASDP juga mengaktifkan buffer zone di kawasan Bulusan sebagai lokasi penampungan sementara kendaraan yang belum dapat menyeberang. Setelah kondisi kembali normal, perusahaan akan mengoptimalkan armada untuk mempercepat penguraian antrean kendaraan.

Di sisi darat, koordinasi dengan Polres Banyuwangi juga dilakukan guna mengatur arus kendaraan menuju pelabuhan agar tetap tertib dan tidak menimbulkan kemacetan.

“Kami telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, penyediaan buffer zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian,” jelas Arief.

ASDP mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum melakukan perjalanan. Pengguna jasa, khususnya pelaku logistik dan masyarakat yang memiliki kepentingan mendesak, diharapkan dapat menyesuaikan jadwal keberangkatan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Perusahaan juga memahami bahwa penundaan ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, dalam kondisi force majeure akibat cuaca ekstrem, tiket yang telah dibeli tetap berlaku dan dapat digunakan kembali setelah operasional kembali normal.

“Kami memohon pengertian masyarakat. Kebijakan ini semata-mata demi keselamatan bersama. Hak pengguna jasa tetap terjamin karena tiket dapat digunakan kembali saat layanan beroperasi normal,” tutup Arief.