(Vibizmedia-Kolom) Kemampuan kecerdasan buatan (AI) berkembang jauh lebih cepat dibandingkan tingkat pemanfaatannya oleh masyarakat. Meskipun teknologi ini telah mampu melakukan berbagai tugas kompleks, sebagian besar pengguna masih memanfaatkannya untuk fungsi-fungsi sederhana. Kesenjangan antara kemampuan teknologi dan tingkat adopsinya diperkirakan masih akan berlangsung selama bertahun-tahun. Selama proses tersebut, peluang ekonomi baru diyakini tidak hanya akan dinikmati perusahaan teknologi besar, tetapi juga individu dan pelaku usaha yang mampu memanfaatkan model-model AI untuk menciptakan produk maupun layanan mereka sendiri.
Gelombang pemanfaatan AI mulai dipimpin oleh individu-individu yang berani bereksperimen. Seorang penggembala kambing di pedalaman Australia yang juga bekerja sebagai pengembang perangkat lunak berhasil menemukan teknik sederhana untuk meningkatkan kemampuan AI dalam menulis kode. Di California, sebuah perusahaan hortikultura yang telah beroperasi hampir lima dekade mulai menerapkan agen AI yang menghubungkan para petani dengan akumulasi pengetahuan para agronom profesional. Di sisi lain, seorang penulis naskah pemasaran yang kehilangan sebagian besar klien akibat penggunaan AI justru berhasil mengubah arah kariernya dengan membimbing perusahaan-perusahaan tersebut membangun sistem AI mereka sendiri.
Sebagaimana penyebaran inovasi teknologi pada umumnya, masyarakat terus menyesuaikan AI dengan kebutuhan pribadi maupun bisnis mereka. Namun, AI generatif menghadirkan karakteristik yang berbeda karena jauh lebih mudah diakses dibandingkan teknologi sebelumnya. Bahkan pengguna tanpa latar belakang teknis dapat memanfaatkannya dengan beragam cara, sehingga tidak ada satu metode yang dianggap sebagai standar penggunaan yang paling benar.
Dalam waktu sedikit lebih dari tiga tahun, penggunaan AI meningkat sangat cepat. Data Pew Research Center menunjukkan bahwa sekitar 62% masyarakat Amerika Serikat telah menggunakan AI beberapa kali setiap pekan. Walaupun sebagian besar penggunaan masih berada pada tingkat dasar, tingkat kesadaran masyarakat terhadap keberadaan AI kini hampir mencapai seluruh populasi.
Perkembangan tersebut bukan berarti AI telah berubah menjadi kecerdasan super yang menggantikan manusia. Sebaliknya, teknologi ini masih berfungsi terutama sebagai alat yang memperkuat kemampuan manusia. Seiring meningkatnya pemahaman para peneliti maupun pengguna mengenai fungsi nyata AI di berbagai bidang, peluang peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dinilai semakin besar.
Ram Bala, profesor madya bidang AI di Santa Clara University, menjelaskan bahwa sekitar dua tahun sebelumnya chatbot AI masih terlalu sering menghasilkan kesalahan sehingga belum cukup andal untuk digunakan secara luas. Menurutnya, kondisi tersebut kini telah berubah berkat keberhasilan pengembang mengurangi tingkat halusinasi AI sekaligus meningkatkan kemampuan model AI untuk terhubung dengan berbagai sistem perangkat lunak lain. Oleh karena itu, ia menilai AI saat ini telah memasuki tahap yang siap digunakan secara luas.
Terlepas dari arah perkembangan AI pada masa mendatang, adopsi berbagai teknologi yang sudah tersedia diperkirakan akan terus meningkat hingga dekade berikutnya. Pemanfaatannya diperkirakan akan meluas ke semakin banyak sektor ekonomi dan aktivitas masyarakat.
Inovasi AI berikutnya diperkirakan justru akan lebih banyak lahir dari para pengguna dibandingkan perusahaan teknologi besar atau laboratorium penelitian. Perusahaan pengembang AI mulai menyadari bahwa banyak aplikasi baru muncul berkat kreativitas para pengguna mereka. Sebagai contoh, OpenAI memperkenalkan ChatGPT Health sebagai demonstrasi kemampuan AI dalam menganalisis rekam medis, aplikasi kesehatan, serta tagihan layanan kesehatan guna membantu meningkatkan kualitas pelayanan medis.
Pengguna Claude Code, sistem AI pengembang perangkat lunak milik Anthropic, juga menemukan metode baru yang memungkinkan AI menghasilkan program yang selesai dan bebas kesalahan tanpa campur tangan manusia. Teknik tersebut dilakukan dengan membuat program kecil yang secara berulang meminta AI memperbaiki hasil pekerjaannya sendiri. Metode yang kemudian dikenal sebagai Ralph Wiggum technique itu terbukti mampu mendorong AI menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri.
Profesor inovasi dan kewirausahaan Wharton School, Ethan Mollick, menilai penemuan tersebut merupakan contoh nyata dari konsep yang ia sebut sebagai capability overhang. Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan berbagai kemampuan AI yang sebenarnya telah tersedia sejak lama, tetapi baru diketahui setelah para pengguna menemukannya melalui proses eksperimen.
Mollick menjelaskan bahwa AI modern tidak hanya mampu menulis program komputer, tetapi juga menyusun dokumen, mengedit gambar, membaca bahasa kuno, serta menjalankan berbagai tugas lain yang sebelumnya tidak banyak diketahui. Ia menambahkan bahwa berbagai proyek perangkat lunak yang dahulu sulit diwujudkan karena keterbatasan dana maupun tenaga ahli kini dapat diselesaikan oleh tim kecil, bahkan hanya oleh satu orang, dengan dukungan AI.
Banyak pengembang juga mulai menemukan bahwa mengombinasikan beberapa model AI mampu menghasilkan kemampuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan hanya mengandalkan satu model. Meta, misalnya, mengembangkan Manus sebagai agen perangkat lunak yang dapat menghasilkan laporan penelitian mendalam dan menjalankan berbagai aktivitas secara daring. Walaupun Meta memiliki model AI sendiri, sistem tersebut memanfaatkan kombinasi beberapa model AI, termasuk dari Anthropic dan perusahaan lain.
Ram Bala bersama timnya saat ini mengembangkan aplikasi AI bagi Sun World, perusahaan pengembang varietas buah dan sayuran di California. Aplikasi tersebut memungkinkan petani berdiskusi menggunakan bahasa alami dengan agen AI yang telah dibekali hasil penelitian ilmiah serta pengalaman para agronom profesional. Informasi yang diberikan kepada petani tidak hanya berasal dari satu chatbot, tetapi telah diperkaya melalui proses data enrichment menggunakan beberapa sistem AI lainnya.
Bala menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan untuk membangun aplikasi tersebut pada dasarnya sama seperti keahlian yang telah ia gunakan selama bertahun-tahun sebagai ilmuwan data dan insinyur perangkat lunak. Perbedaannya terletak pada kemampuan AI yang kini membuat setiap insinyur bekerja jauh lebih efektif sehingga tim kecil mampu menyelesaikan proyek yang sebelumnya membutuhkan sumber daya jauh lebih besar.
Perubahan serupa dialami Leanne Shelton, seorang penulis naskah pemasaran lepas di pinggiran Sydney. Setelah ChatGPT diperkenalkan pada akhir 2022, sebagian besar pekerjaannya menghilang karena klien mulai menggunakan AI. Shelton kemudian memilih mendalami cara menyesuaikan ChatGPT agar mampu menghasilkan materi pemasaran dengan gaya bahasa tertentu. Ia menyatakan bahwa pendapatannya kini justru lebih tinggi dibandingkan ketika masih bekerja sebagai copywriter.
Pengalaman Shelton memperlihatkan bahwa pemanfaatan AI tidak selalu memerlukan kemampuan sebagai insinyur perangkat lunak. Pengguna dapat membangun sistem AI yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka hanya dengan memanfaatkan data dan pengetahuan yang dimiliki.
Mollick menilai tekanan untuk mengadopsi AI kini datang dari berbagai arah, mulai dari perusahaan, lingkungan kerja, hingga dorongan pribadi para pengguna. Ia memperkirakan akan muncul gelombang inovasi secara tiba-tiba di berbagai bidang yang saat ini belum diperkirakan, sementara sektor lain berpotensi tertinggal dalam proses transformasi tersebut. Menurutnya, ketimpangan kecepatan adopsi AI antarsektor akan menjadi fenomena yang sangat sulit diprediksi.









