Hadapi Era Komputasi Kuantum, Wamenkomdigi Dorong Penguatan Keamanan Data

0
52
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria saat menjadi pembicara dalam ITSEC Cyber dan AI Academy Grand Launching di Noble House, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: Kemkomdigi)

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan Indonesia untuk mulai mengantisipasi ancaman baru di tengah pesatnya perkembangan komputasi kuantum. Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah praktik harvest now, decrypt later, ketika pelaku siber mencuri dan menyimpan data terenkripsi untuk dibuka di kemudian hari.

Nezar menjelaskan, dalam skema tersebut, pelaku tidak harus mampu mengakses data yang dicuri saat ini. Data terenkripsi cukup disimpan hingga teknologi komputasi berkembang dan memungkinkan sistem enkripsi yang digunakan saat ini ditembus.

“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Menurut Nezar, fenomena tersebut menunjukkan bahwa keamanan data tidak dapat lagi hanya mengandalkan sistem kriptografi yang dirancang untuk menghadapi kemampuan komputasi saat ini. Indonesia perlu mulai menyiapkan sistem keamanan yang mampu menghadapi potensi kemampuan komputasi kuantum di masa depan.

Salah satu langkah yang perlu dipersiapkan adalah penerapan post-quantum cryptography, yakni sistem kriptografi yang dirancang untuk tetap aman menghadapi kemampuan komputer kuantum.

“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegasnya.

Nezar menilai persiapan tersebut harus dimulai sejak sekarang. Pasalnya, data yang dicuri dan disimpan oleh pelaku siber dapat tetap memiliki nilai strategis di masa mendatang. Karena itu, pembangunan infrastruktur dan arsitektur digital perlu memperhitungkan perkembangan teknologi yang mungkin belum tersedia atau belum mampu digunakan secara luas saat ini.

Perubahan lanskap ancaman siber tersebut juga mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mengubah pendekatan dalam membangun sistem digital nasional.

Pengalaman serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pembelajaran penting bagi pemerintah dalam mengevaluasi dan memperkuat arsitektur keamanan siber nasional.

Nezar mengatakan salah satu perubahan pendekatan yang perlu diterapkan adalah security by design. Dengan prinsip tersebut, aspek keamanan tidak ditempatkan sebagai lapisan tambahan setelah sistem selesai dibangun, tetapi sudah menjadi bagian dari perencanaan sejak tahap awal.

Security harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata Nezar.

Selain komputasi kuantum, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) juga turut mengubah lanskap ancaman siber. Menurut Nezar, AI memiliki sifat dua sisi karena dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pertahanan siber, tetapi pada saat yang sama dapat digunakan untuk mengembangkan serangan yang lebih canggih.

Perkembangan agentic AI, lanjut dia, bahkan berpotensi membuat serangan siber dilakukan secara lebih otomatis sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada intervensi manusia.

“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.

Menghadapi perubahan tersebut, Nezar menilai Indonesia membutuhkan talenta digital yang mampu memahami perkembangan keamanan siber sekaligus teknologi baru seperti AI dan komputasi kuantum.

Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta digital Indonesia akan mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030. Sementara itu, kapasitas penyediaan talenta saat ini disebut baru berada di kisaran tiga juta lebih.

Karena itu, Nezar menyambut kehadiran ITSEC Cyber & AI Academy sebagai salah satu upaya memperkuat hubungan antara kebutuhan industri dan kompetensi yang dikembangkan di perguruan tinggi.

Menurutnya, penguatan talenta merupakan bagian penting dalam memastikan Indonesia mampu menjaga keamanan sekaligus mengelola kekayaan data nasional di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana dan akan dicuri, akan dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful,” tandasnya.