Energi Surya Bergerak Menuju Listrik yang Andal

0
55
Energi surya

(Vibizmedia-Kolom) Penurunan biaya panel surya dan baterai mengubah cara proyek energi terbarukan menghasilkan nilai. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menghasilkan listrik murah, tetapi memastikan listrik tersedia ketika dibutuhkan.

Energi surya sedang memasuki tahap baru dalam perkembangannya. Selama bertahun-tahun, daya tarik utama pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik (PV) terletak pada kemampuannya menghasilkan listrik dengan biaya operasi yang sangat rendah. Namun, semakin besar kapasitas surya yang masuk ke sistem kelistrikan, semakin jelas pula keterbatasannya: matahari tidak bersinar sepanjang waktu. Produksi listrik terkonsentrasi pada siang hari, sementara kebutuhan listrik berlangsung sepanjang hari.

Kondisi tersebut membuat penyimpanan energi menjadi semakin penting. Sistem battery energy storage system (BESS) memungkinkan listrik yang dihasilkan ketika matahari tersedia disimpan dan kemudian dilepaskan pada saat permintaan serta harga listrik lebih tinggi. Kombinasi solar PV dan baterai dengan demikian mengubah pembangkit surya dari sumber listrik yang bersifat intermiten menjadi aset yang mampu menyediakan listrik secara lebih terukur dan bernilai tinggi.

Perubahan ini berlangsung ketika investasi energi surya global telah mencapai skala yang sangat besar. Investasi solar PV diperkirakan sekitar US$400 miliar pada 2025 dan sekitar US$365 miliar pada 2026. Nilai tersebut setara dengan sekitar 55 persen dari total investasi energi terbarukan dan menjadikan solar PV kategori investasi terbesar dalam pembangkitan listrik, mengungguli angin, hidro, gas, nuklir, dan batu bara.

Pada saat yang sama, investasi pada sistem penyimpanan baterai juga meningkat pesat. Investasi BESS mencapai sekitar US$80 miliar pada 2025 dan diproyeksikan melampaui US$100 miliar pada 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan energi surya tidak lagi dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi penyimpanan.

Salah satu faktor utama di balik ekspansi tersebut adalah penurunan biaya teknologi. Harga panel surya telah turun sekitar 98 persen sejak 1990-an. Penurunan ini didorong oleh peningkatan skala produksi, kemajuan teknologi, serta efisiensi rantai pasok. China memainkan peran dominan dalam proses tersebut, memasok lebih dari 80 persen modul surya dunia dan berbagai komponen lainnya.

Biaya baterai juga mengalami penurunan tajam. Harga baterai turun sekitar 75 persen dalam satu dekade terakhir, sementara China memasok lebih dari 75 persen produksi sel baterai global. Dengan biaya teknologi yang semakin rendah, pertanyaan utama dalam ekonomi energi surya bergeser. Persoalannya bukan lagi semata-mata seberapa murah listrik dapat dihasilkan, tetapi seberapa efektif listrik tersebut dapat disimpan dan disalurkan ketika nilainya paling tinggi.

Skala pembangunan solar PV juga memperlihatkan perubahan besar dalam industri energi global. Selama satu dekade terakhir, biaya penambahan satu gigawatt kapasitas solar PV turun sekitar 80 persen. Penurunan tersebut mendorong peningkatan hampir sepuluh kali lipat dalam penambahan kapasitas tahunan. China menjadi pasar terbesar dengan jarak yang sangat jauh dibandingkan negara lain.

Pada 2024, China memiliki sekitar 358 gigawatt kapasitas utility-scale solar PV dan menambahkan sekitar 88 gigawatt pada 2025. Amerika Serikat memiliki sekitar 128 gigawatt pada 2024 dengan penambahan 35 gigawatt pada 2025. India memiliki 78 gigawatt dengan tambahan 32 gigawatt, sementara Uni Eropa dan Brasil juga terus memperluas kapasitasnya.

Namun, ukuran pasar dan potensi radiasi matahari bukan satu-satunya penentu daya saing. Analisis terhadap proyek solar PV yang dipadukan dengan BESS menunjukkan adanya perbedaan biaya yang sangat besar antarnegara. Dengan menggunakan proyek solar PV 250 megawatt yang dipadukan dengan baterai untuk mencapai tingkat keandalan 95 persen, biaya listrik yang diratakan atau levelized cost of energy (LCOE) diperkirakan sekitar US$52 per megawatt hour (MWh) di China.

Angka tersebut meningkat menjadi sekitar US$66 per MWh di Brasil dan US$67 per MWh di India. Di Spanyol, biayanya sekitar US$93 per MWh, sedangkan Amerika Serikat mencapai sekitar US$110 per MWh. Artinya, listrik surya yang telah dilengkapi penyimpanan dapat memiliki biaya lebih dari dua kali lipat antara pasar yang paling kompetitif dan yang paling mahal dalam analisis tersebut.

Perbedaan itu terutama berasal dari apa yang disebut firming premium, yaitu biaya tambahan untuk mengubah produksi surya yang berubah-ubah menjadi pasokan listrik yang lebih andal. Biaya ini mencakup tambahan baterai serta kapasitas solar yang diperlukan untuk memenuhi tingkat keandalan tertentu.

Dalam kasus yang dianalisis, firming premium mencapai sekitar US$28 per MWh di China, US$32 per MWh di Brasil, US$40 per MWh di India, US$58 per MWh di Spanyol, dan US$70 per MWh di Amerika Serikat. Komponen ini menjelaskan sekitar tiga perempat perbedaan biaya antara China dan sejumlah pasar lainnya.

Besarnya perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga panel surya saja tidak cukup untuk menentukan daya saing pembangkit. Biaya baterai, transportasi, logistik, tarif impor, struktur pemasok, serta biaya modal ikut menentukan hasil akhir. Ketergantungan terhadap rantai pasok China membuat kebijakan perdagangan juga menjadi faktor penting dalam menentukan harga BESS di berbagai pasar.

Biaya pembiayaan menjadi persoalan lain, terutama di negara berkembang. Analisis tersebut memperkirakan biaya modal memberikan tambahan sekitar US$7 per MWh di Brasil dan India. Proyek solar PV dapat dibangun dengan cepat dan relatif murah, tetapi investor dapat menghadapi risiko nilai tukar, kepastian kontrak, serta kemampuan pembeli listrik memenuhi kewajibannya.

Hambatan investasi energi surya di pasar berkembang tidak selalu terletak pada teknologi atau sumber daya matahari. Masalahnya dapat berada pada kemampuan proyek mendapatkan pembiayaan dengan biaya yang kompetitif. Dukungan lembaga pembiayaan pembangunan dan jaminan risiko politik dapat membantu menurunkan risiko tersebut dan menarik modal dengan biaya lebih rendah.

Keberadaan baterai tidak hanya meningkatkan keandalan listrik, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru. Solar PV biasanya menghasilkan listrik dalam jumlah besar pada jam-jam ketika matahari bersinar. Ketika penetrasi solar semakin tinggi, banyak pembangkit menghasilkan listrik pada waktu yang sama sehingga harga listrik di pasar grosir dapat turun, bahkan menjadi negatif pada jam-jam tertentu.

Baterai memungkinkan operator menghindari kondisi tersebut. Listrik dapat disimpan ketika harga rendah dan dilepaskan ketika harga meningkat. Dalam analisis tersebut, kombinasi solar dan BESS berpotensi menciptakan peningkatan nilai sekitar US$10 hingga US$20 per MWh melalui pergeseran waktu penjualan listrik. Struktur kontrak pembelian listrik juga dapat memberikan nilai tambahan, terutama ketika pembangkit mampu mencocokkan pasokan dengan pola konsumsi secara lebih dekat.

Peran baterai menjadi semakin luas karena sumber pendapatan BESS tidak hanya berasal dari perdagangan energi. Baterai juga dapat membantu menstabilkan jaringan listrik dan memperoleh pembayaran kapasitas karena menyediakan listrik ketika dibutuhkan. Operator dapat mengoptimalkan ketiga sumber pendapatan tersebut berdasarkan kondisi pasar.

Teknologi digital bahkan mulai mengubah cara baterai dioperasikan. Strategi pengaturan pengisian, pelepasan, dan penjualan listrik berbasis kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan keuntungan baterai lebih dari 20 persen dengan membantu operator mengambil keputusan secara real time. Pada proyek solar-plus-storage, kemampuan mengelola waktu dan bentuk output listrik menjadi semakin penting dibandingkan sekadar memiliki pembangkit dengan biaya produksi rendah.

Perubahan tersebut juga mengubah cara investor menilai proyek energi surya. Biaya listrik yang rendah tidak otomatis berarti tingkat keuntungan tinggi. Daya tarik proyek sangat bergantung pada perbandingan biaya pembangkitan dengan harga listrik alternatif, desain pasar, mekanisme subsidi, serta kepastian pendapatan.

Proyek yang memiliki kontrak pembelian listrik jangka panjang atau mekanisme yang memberikan kepastian harga dapat memiliki profil risiko yang lebih menarik. Di pasar yang semakin terbuka terhadap perdagangan listrik grosir, kemampuan menyimpan dan menjual listrik pada waktu yang tepat menjadi semakin menentukan.

Penurunan biaya baterai memperkuat prospek tersebut. Sejak 2022, biaya instalasi baterai utility-scale telah turun lebih dari separuh, terutama berkat perkembangan teknologi dan manufaktur. Biaya tersebut diproyeksikan turun sekitar 50 persen lagi dalam satu dekade mendatang. Namun, penurunan biaya global belum tentu sepenuhnya diteruskan kepada setiap negara karena adanya tarif dan hambatan perdagangan.

Karena itu, tantangan industri solar PV secara bertahap bergeser dari persoalan biaya menuju integrasi sistem dan monetisasi. Ketersediaan lahan, kecepatan perizinan, akses jaringan, serta kemampuan mendapatkan nilai dari penyimpanan menjadi faktor yang semakin menentukan lokasi investasi.

Akses jaringan menjadi salah satu hambatan paling penting. Proyek yang memiliki biaya solar dan baterai kompetitif tetap tidak dapat beroperasi secara optimal jika tidak memperoleh koneksi ke jaringan listrik. Keterbatasan kapasitas transmisi, kemacetan jaringan, dan proses interkoneksi yang panjang dapat menunda proyek selama bertahun-tahun. Di Amerika Serikat, waktu tunggu median untuk menghubungkan proyek solar PV baru ke jaringan mencapai sekitar 60 bulan.

Kondisi tersebut membuat daya tarik investasi tidak lagi hanya ditentukan oleh lokasi dengan matahari paling kuat atau biaya panel paling rendah. Investor semakin mencari pasar yang menyediakan koneksi jaringan secara cepat dan dapat diandalkan, mekanisme yang jelas untuk menghasilkan pendapatan dari baterai, insentif yang mendukung, serta kontrak pendapatan yang dapat dipercaya.

Bagi pemerintah, prioritas kebijakan juga berubah. Ketika biaya peralatan terus turun, fokus kebijakan tidak lagi sekadar memberikan subsidi untuk mendorong pembangkit solar. Tantangan yang lebih besar adalah menciptakan kondisi agar proyek dapat dibangun dalam skala besar tanpa meningkatkan biaya sistem secara berlebihan.

Hal tersebut berarti mempercepat perizinan dan interkoneksi, memperluas infrastruktur transmisi, menciptakan mekanisme pasar yang memberikan penghargaan terhadap fleksibilitas dan penyimpanan, serta mengelola risiko rantai pasok. Dominasi China dalam produksi panel surya dan baterai telah membantu menurunkan biaya global, tetapi sekaligus menciptakan ketergantungan terhadap pemasok eksternal.

Masa depan energi surya karena itu tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak panel yang dapat dipasang. Nilai ekonomi terbesar akan muncul dari kemampuan menggabungkan pembangkitan, penyimpanan, jaringan, teknologi digital, dan mekanisme pasar menjadi satu sistem yang mampu menyediakan listrik ketika dibutuhkan.

Solar PV sedang bergerak dari model pembangkitan listrik murah menuju model penyediaan listrik yang lebih fleksibel dan andal. BESS menjadi penghubung penting dalam perubahan tersebut. Ketika biaya baterai terus turun dan kemampuan mengoptimalkan penyimpanan semakin maju, kombinasi solar PV dan BESS berpotensi mengubah listrik dari matahari yang sebelumnya intermiten menjadi energi yang lebih dapat diprediksi, dapat diperdagangkan pada waktu yang tepat, dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.