Karhutla Dominasi Bencana, Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan

0
62
Karhutla
Karhutla yang terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menimbulkan asap san mengganggu aktivitas warga di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, dan Desa Banaran, Kecamatan Delanggu, Selasa, 25 Agustus 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi bencana yang mendominasi laporan kejadian di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam periode Selasa (25/8) hingga Rabu (26/8) pukul 07.00 WIB, karhutla tercatat terjadi di sejumlah kabupaten di Pulau Jawa dan Sulawesi, sementara penanganan masih berlangsung di enam provinsi prioritas.

Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, karhutla membakar lahan seluas sekitar 1 hektare di Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, pada Selasa (25/8) sekitar pukul 01.25 WIB. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. BPBD Kabupaten Jombang telah melakukan pemadaman dan tidak terdapat laporan korban jiwa.

Kebakaran lahan dengan luasan serupa juga terjadi di Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Api berhasil dipadamkan oleh BPBD setempat pada hari yang sama.

Sementara itu, di Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah, karhutla terjadi di dua lokasi, yakni Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan, dan Desa Kongkomas, Kecamatan Basidondo. Petugas gabungan berhasil memadamkan api yang membakar lahan dengan total luas sekitar 2,86 hektare.

Karhutla juga melanda Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kebakaran terjadi di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, dan Desa Banaran, Kecamatan Delanggu, dengan total luas lahan terbakar mencapai 4,5 hektare. Asap yang ditimbulkan sempat mengganggu aktivitas warga. Penyebab kebakaran masih belum diketahui, sementara api telah berhasil dipadamkan.

Enam Provinsi Masih Jadi Prioritas

Ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir. Penanganan masih dilakukan di enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik panas maupun kebakaran yang teridentifikasi. Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan perlu dilakukan sebelum kebakaran meluas.

Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, serta menghindari berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di tengah kondisi lahan yang kering.

Kekeringan Mulai Tekan Warga Bima

Selain karhutla, bencana kekeringan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Kekeringan yang dilaporkan pada Selasa (25/8) sekitar pukul 22.00 WITA berdampak pada empat desa di Kecamatan Palibelo, yakni Desa Tonggondoa, Belo, Dore, dan Nata.

Sebanyak 148 kepala keluarga atau sekitar 470 orang terdampak akibat keterbatasan pasokan air. Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, BPBD setempat telah menyalurkan 20.000 liter air bersih ke wilayah terdampak.

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak. Warga juga dianjurkan memanfaatkan momentum hujan dengan melakukan pemanenan air hujan sebagai cadangan untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kekeringan.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi masih perlu diwaspadai. Kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat, terutama melalui pencegahan sejak dini, menjadi kunci untuk mengurangi dampak karhutla maupun kekeringan.