Karhutla Mengancam Sejumlah Daerah, 55 Hektare Lahan Terbakar di Bulungan

0
72
Pemadaman lahan
Pemadaman lahan seluas 55 hektare yang terbakar di wilayah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Minggu, 30 Agustus 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Indonesia memasuki periode kemarau. Dalam pemantauan selama 24 jam hingga Rabu (2/9/2026) pukul 07.00 WIB, sejumlah kejadian masih dalam penanganan.

Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, karhutla membakar sekitar 55 hektare lahan di Desa Sejau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, pada Minggu (30/8). Hingga pemantauan terakhir, api belum sepenuhnya padam dan masih dalam penanganan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 20 Agustus hingga 31 Desember 2026 untuk memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan ancaman kebakaran.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Sekitar 3 hektare lahan terbakar di Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja, pada Senin (31/8). Upaya pemadaman masih menghadapi kendala akibat akses menuju lokasi yang sulit, sementara vegetasi berupa semak dan ilalang kering membuat api lebih cepat menyebar.

Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kebakaran melanda sekitar 3,5 hektare lahan perkebunan warga di Desa Sausu Tambu, Kecamatan Sausu, Selasa (1/9). Sebagian besar api telah mereda, namun masih terlihat asap dari satu titik di kawasan puncak hutan yang berpotensi kembali menjadi sumber api.

Sementara itu, kebakaran lahan seluas sekitar 3 hektare terjadi di petak 1015 Perum Perhutani, Dusun Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Api telah berhasil dipadamkan dan lokasi masih dipantau untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Selain karhutla, kekeringan juga berdampak pada masyarakat di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sekitar 456 kepala keluarga di Desa Babulu, Kecamatan Sebakung Jaya, terdampak kekurangan air. Hingga saat ini, pemerintah daerah telah menyalurkan sekitar 62.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Memasuki periode kemarau, masyarakat di wilayah rawan diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla dan kekeringan. Warga diminta tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api dan bara benar-benar padam setelah melakukan aktivitas di luar rumah.

Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air dan menyimpan cadangan untuk kebutuhan prioritas. Jika mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, warga diminta segera melaporkannya kepada aparat maupun BPBD setempat.

Selain itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG serta perkembangan kebencanaan dari BPBD. Perubahan cuaca secara cepat, termasuk potensi hujan yang disertai angin kencang dan petir, juga perlu diwaspadai.

Kesiapsiagaan masyarakat dan respons cepat pemerintah daerah dinilai penting untuk menekan risiko serta mencegah meluasnya dampak bencana selama musim kemarau.